Malam yang sangat tenang di hutan Teraploban.
Bulan sabit kecil menempel di langit dengan sedikit taburan bintang di sekelilingnya. Persis seperti liontin rubi yang dikelilingi oleh mutiara-mutiara putih, seputih susu. Curahan cahayanya yang temaram jatuh di atas daun-daun, semak-semak, dan permukaan air lopak, bekas pijakan kaki gajah.
Angin yang tak terlalu dingin bertiup sepoi-sepoi melewati semak-semak dan jerami kering, membuat suara bergemirisik. Ditingkahi dengan suara-suara jangkrik jantan yang mungkin sedang memikat betina. Suara yang memecah sunyinya hutan Teraploban. Sehingga membuat kesan angker yang biasanya disematkan pada hutan itu sedikit pudar malam ini.
Alam memang tak pernah gagal dan tak pernah berhenti menunjukkan keindahannya. Meski pada malam yang cukup gelap sekalipun, tetap saja semua itu tersaji dengan sempurna.
Di sebuah batang tembusu yang tak begitu tinggi, kunang-kunang berkumpul berbagi tempat di atas daun. Kerlip lentera di ekornya itu membuat pemandangan semakin sempurna dimalam yang temaram ini. Padahal, saat ini tidak sedang musim hujan, namun entah kenapa kunang-kunang itu hadir ramai-ramai malam ini.
Hutan Teraploban sebenarnya adalah hutan puaka, tempat hantu dan jin jungkir-balik. Reputasinya sebagai hutan paling menakutkan sudah tersebar luas hingga ke negeri-negeri yang jauh. Tak banyak penduduk setempat yang berani memasuki hutan itu di siang hari, karena takut diculik bunian dan hantu jembalang. Apalagi di sana tempat bersarangnya berbagai binatang buas predator, yang memang merasa nyaman karena ketidakhadiran manusia.
Jika siangnya saja begitu menakutkan, bayangkan bagaimana mengerikannya hutan itu pada malam hari. Saat semua makhluk halus keluar dari tempat persembunyiannya dengan mengeluarkan berbagai suara-suara aneh yang terdengar menggidikkan. Tertawa melengking, menangis sesenggukan menyayat hati, atau kadang-kadang mendengus-dengus menggidikkan. Sungguh, tak ada manusia normal yang berani mendekati hutan itu di malam hari. Jangankan manusia, bahkan kuntilanak dan sundal bolong, yang terkenalar mengerikan itupun, akan berdiri bulu kuduknya jika berjalan melintasi hutan ini di malam hari.
Namun, semua kesan menakutkan itu agak pudar malam ini. Suasananya lebih melankoli karena keindahan yang disajikannya. Bahkan hewan-hewan nokturnal keluar dari sarangnya dengan santai, tak merasa terancam dan diawasi. Seolah-olah alam bersatu bersama-sama, bahu-membahu, menghilangkan reputasi angker yang disandang hutan itu selama ini. Semua benda di bumi dan sebagian benda di langit ikut ambil bagian.
Sungguh, sebuah suasana yang sangat jarang terjadi. Bahkan dalam kurun waktu 100 tahun sekalipun.
Namun tiba-tiba...
Whuuuuuzzssh... bruukk... bruukk... Sreeeekk...
Sesosok tubuh berpakaian serba putih berlari kencang secepat angin membelah gelap malam, memijak rerumputan kering.
Kaki kirinya terlihat pincang. Dari pahanya terlihat menetes darah, yang keluar dari sebuah luka iris menganga. Sedangkan di sekeliling luka itu masih menempel darah kering. Tangan kirinya memegang sebatang tombak pendek. Ukurannya sekitar 1 depa atau lebih sedikit.
Meskipun terlihat sangat cepat dan tangkas namun sebenarnya sosok itu terlihat sudah sangat letih. Bahkan jika diteruskan berlari beberapa puluh tombak lagi dia akan segera roboh tertelungkup. Nafasnya terdengar terengah-engah.
Kekuatan lari cepat itu adalah tenaga dalam terakhir yang dimilikinya. Ia menggunakan tenaga itu demi untuk menyelamatkan nyawanya dari begundal-begundal jahanam yang mengejarnya selama seperempat malam ini.
Benar saja, tepat di pangkal pohon ketapang yang tumbuh di pinggir hutan itu dia memutuskan untuk berhenti. Lalu dengan gerakan yang sangat perlahan dan hati-hati dia berusaha untuk duduk. Sedapat mungkin dia tidak menggerakkan kaki kirinya, karena khawatir luka robek di pahanya akan semakin membesar.
Terdengar lirih suara meringis keluar dari mulutnya menahan sakit yang amat sangat ketika berusaha untuk duduk. Namun, usaha itu tetap diteruskannya. Karena memang dia sudah tak sanggup lagi untuk berdiri.
Akhrinya, dengan penuh susah payah dan rasa sakit yang mendera paha kirinya bertubi-tubi, berhasil juga dia duduk sambil menyandar di pangkal pohon ketapang yang sebesar sepemelukan itu.
Perlahan-lahan diaturnya jalan nafasnya dengan menariknya lebih panjang dan menghembuskannya dengan perlahan-lahan. Tarik lagi dengan panjang, lalu lepaskan lagi dengan perlahan. Begitu yang dilakukannya berkali-kali hingga nafasnya kembali normal.
Selanjutnya dengan gerak perlahan dia melepaskan tali pinggang kainnya, lalu kain itu dibebatkan ke paha kirinya yang luka untuk menghentikan aliran darah yang mengucur keluar.
Sekarang semuanya sudah terasa mulai normal kembali. Rasa perih luka di paha kirinya itupun ikut terasa hilang seketika.
(Bersambung)

0 Comments