Tiba-tiba matanya terbelalak, mulutnya hampir berteriak keras, ketika menyadari bahwa dia sedang berada di hutan yang selama ini dikenal dengan reputasi hutan puaka, Teraploban.
Angin yang tadinya terasa sejuk menyegarkan sekarang berubah terasa lebih dingin dan menggidikkan. Angin itu terasa seperti membawa roh-roh halus penunggu hutan yang bisa saja menjelma tiba-tiba di hadapannya menjadi makhluk yang menakutkan.
Bunyi-bunyi jangkrik yang tadinya terdengar bersahut-sahutan sekarang mendadak berhenti. Sunyi.
Ingin sekali rasanya dia melompat dari tempat duduknya dan berlari secepatnya meninggalkan tempat itu.
Namun, apa boleh buat, letih badannya dan luka di paha kirinya membuat dia tak sanggup untuk beranjak dari tempat tersebut. Meskipun bulu kuduknya sudah berdiri semua dan terasa dingin, dia tetap bertahan duduk di bawah pohon tersebut. Setidaknya untuk beberapa saat lagi sampai tubuhnya betul-betul kembali normal.
Dalam keletihan dan kengeriannya itu telinganya masih sempat mendengar sayup-sayup suara beberapa orang yang bercakap-cakap seperti bertengkar, dengan suara pelan.
Dia menebak pasti itu adalah begundal-begundal jahanam yang mengejarnya tadi. Penjahat yang tak berperikemanusiaan. Hidup hanya dengan mengandalkan kekuatan dan jurus-jurus sakti yang mematikan. Bagi mereka, membunuh manusia sama saja seperti membunuh belalang dan lalat. Tak ada beban yang tersisa di jiwa. Mereka bahkan sanggup menyembelih seorang ayah di depan anak-anaknya sambil tertawa terbahak-bahak.
Serak Jantan, itulah nama kelompok begundal jahanam itu. Mereka berjumlah 12 orang yang dipimpin oleh seorang jahanam bertubuh tambun bergelar Kubai Serak. Selama mereka berkuasa di Desa Selat Gantang mungkin sudah ratusan nyawa yang mereka cabut. Tanpa pilih-pilih, bahkan perempuan dan bayi sekalipun.
Selama ini tak ada orang yang berani menentang kehendak mereka. Bagi penduduk kampung bertemu dengan mereka adalah bencana. Mencoba melawan sama saja dengan menyerahkan nyawa. Lebih baik menghindar atau berikan saja apa yang mereka inginkan tanpa sedikitpun penolakan.
Namun, nampaknya malam ini adalah malam nahas bagi jahanam-jahanam itu. Mereka menemukan lawan yang sebanding. Bahkan lebih hebat, lebih kuat, dan lebih berani. Hanya dalam beberapa jurus saja pemuda itu mampu membuat 3 orang teman mereka terkapar mati, sedangkan 4 lainnya mengalami patah tulang kering.
Kejadian yang sama sekali tidak mereka duga. Malam pembalasan itu akhirnya mereka alami juga.
Meskipun masih tersisa 5 orang, tapi masing-masing sudah mendapatkan luka tusuk atau luka iris di tubuh masing-masing. Hanya karena dendam saja yang membuat mereka masih bisa bertahan dan mengejar pelakunya.
Saat ini kelima jahanam itu mungkin sedang berdebat untuk memutuskan apakah akan terus melakukan pengejaran dengan masuk ke hutan Teraploban atau menghentikannya, lalu pulang saja.
Nampaknya reputasi Teraploban mampu menciutkan nyali mereka. Padahal mereka ingin sekali mencincang lumat orang yang telah membunuh dan mematahkan kaki teman-temannya. Tapi masalahnya, ini adalah hutan puaka, tempat semua makhluk halus berpesta. Tempat semua pemangsa bersarang.
Ilmu sakti mereka tak akan ada artinya di sini. Jurus-jurus hebat yang mereka kuasai hanya akan menjadi lelucon bagi hantu-hantu jembalang itu. Mereka harus segera sadar diri bahwa tak ada yang sanggup menentang kekuatan Teraploban. Keputusan harus segera dibuat, lanjutkan pengejaran atau hentikan.
Setelah beberapa saat berdiskusi akhirnya mereka terdiam, senyap. Lalu beberapa saat selanjutnya terdengar langkah-langkah berat pergi menjauh, meninggalkan hutan Teraploban dengan semua penghuninya dan pemuda buruannya.
***
Sebenarnya kehadiran kelima begundal di tepi hutan tadi sempat membuat pemuda gagah itu frustasi. Rasa letih ditubuhnya membuat dia seperti tak sanggup lagi bergerak, apalagi untuk berkelahi. Ditambah lagi luka robek di paha kirinya yang pasti akan membuat kuda-kudanya tak lagi sempurna. Dia sudah tak ingin lagi berkelahi malam ini. Bahkan jika begundal itu sampai kehadapannya maka tak ada lagi pilihan lain selain dari menyerah saja, membiarkan mereka mencincang-cincang tubuhnya.
Tapi syukurlah, begundal itu mengurungkan niatnya untuk meneruskan pengejaran dan memilih pulang.
Sekarang kembali dia tinggal sendiri, terduduk di tepi hutan angker, pada sepertiga malam terakhir.
Keadaan ini jauh lebih menakutkan daripada berkelahi dengan 12 anggota Serak Jantan sekaligus.
Dia memandang berkeliling. Berharap ada sesuatu yang sedap untuk dipandang dan mengurangi rasa ngeri.
Beberapa langkah di sana ada sebatang pohon tembusu yang daunnya dipenuhi oleh kunang-kunang. Kelip-kelip lenteranya seperti lampu yang berkedip tak beraturan. Sungguh, sebuah keindahan yang tak bisa diabaikan di tempat angker ini.
Lama dia menatap keindahan yang tersaji di depannya itu. Mencoba untuk memfokuskan pikirannya hanya pada kunang-kunang di pohon itu, tanpa memikirkan yang lain.
Bagaimana binatang kecil itu bisa bercahaya? Apakah ditubuhnya ada semacam benda yang bisa mengeluarkan cahaya? Lalu dari mana bahan bakarnya? Bagaimana bentuknya? Cair atau padat? Lalu kapan habisnya? Lalu kenapa dia berkelip-kelip? Apakah hewan itu yang membuatnya berkelip, atau memang sudah otomatis begitu? Lalu apa tujuannya?
Semua pertanyaan itu diajukan pada dirinya sendiri dengan tujuan untuk memfokuskan pikiran, bukan untuk mendapatkan jawaban.
Dia terus saja mengajukan banyak pertanyaan di dalam benaknya. Sampai tidak ada lagi pertanyaan yang tersisa. Dan, sekarang dia malah fokus untuk mencari pertanyaan apa lagi yang harus ditanyakan.
Terus saja mencari, sampai kedua alisnya hampir bertaut karena kerasnya berpikir sambil mengerutkan keningnya. Tanpa dia sadari beberapa langkah di sebelah kanannya sudah berdiri sesosok mahluk mengerikan dengan sekujur kulitnya terkelupas memutih dan menebarkan bau daging terbakar...
(Bersambung)

0 Comments