Korak Jambul Penguasa Teraploban - 3

"Hrrggghh....." 

Suara makhluk itu disela-sela deru nafasnya yang berat menderu. 

Pemuda itu reflek menoleh ke arah kanan, tempat suara itu berasal. 

Seketika itu juga jantungnya serasa melompat keluar dari dadanya. Berdetak lebih cepat lima kali lipat. Memompa darah panas ke seluruh tubuhnya. Terasa sekali jantung itu kembang kempis di dalam dada, persis seperti insang ikan yang baru diangkat dari air. 

"Astaghfirullahalaziiiiiim .....!" pekiknya.

Matanya terbelalak melihat sosok yang berdiri itu. 

Ingin rasanya dia segera melompat dan mengerahkan semua tenaga dalam yang masih tersisa untuk berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu. Tapi, entah mengapa ia berpikir bahwa usahanya itu akan sia-sia saja, karena hanya dengan sekali hantam saja palu godam berduri paku yang dipegang makhluk itu akan meremukkan dan merobek dadanya. 

Wajah makhluk yang menatapnya itu adalah tengkorak yang dibalut kulit mengelupas. Kedua bola matanya sudah keluar dari tempat seharusnya. Bahkan yang sebelah kiri sudah menjuntai hingga ke pipi. Di atas kepalanya tumbuh rambut-rambut pirang yang membentuk jambul. Sedangkan rambut belakangnya mengumpal-gumpal. 

Namun dari semua pemandangan itu yang paling mengerikan adalah tepat di tengah jambul di atas kepalanya itu ada sebuah kapak yang menancap hingga ke otaknya. Darah hitam bercampur otak keluar meleleh dari pinggir luka tempat kapak itu tertancap. 

Lama makhluk itu mematung memandang ke arah si pemuda. Matanya nampak tak bergerak atau beralih pandang. 

Sebenarnya dengan sekali lihat saja pemuda itu sudah mengenal makhluk yang berdiri itu. Dia adalah Korak Jambul, penguasa hutan Teraploban. Makhluk kejam mengerikan peremuk dada, pemenggal kepala, pengunyah jantung. 

Dia mengenali sosok itu karena persis seperti sosok yang diceritakan oleh orang-orang kampung. Wajahnya yang seperti tengkorak, matanya yang menjuntai, rambut jambul warna merah, dan kapak yang menancap di tengah kepalanya. 

Ternyata legenda itu benar adanya. Bukan cerita kosong untuk menakut-takuti orang kampung. Karena saat ini dia berhadapan langsung dengan makhluk mengerikan yang diceritakan dari generasi ke generasi itu.

Dia memutar otak untuk menemukan cara melarikan diri. Tapi nampaknya semua jalan sudah tertutup. Bahkan jika dia berniat bunuh diri dengan menancapkan tombak ke dadanya sekalipun, sudah tak mungkin lagi. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah tetap waspada.

"Alif Bagrh Tagrh!", suara makhluk itu menyebutkan sebuah nama. 

Pemuda itu seperti terlompat dari duduknya. Terkejut bukan kepalang. Matanya makin terbelalak. Bagaimana dia tahu nama saya? Begitu pikirnya.

"Bukan Mbah, Saya Alif Atta!"

"Mengapagrh di sinigrh?!"

Kayaknya di kerongkongan makhluk mengerikan itu ada dahak yang menggumpal sehingga membuat kata-kata yang keluar terdengar menggelegak.

"Jika diizinkan saya ingin beristirahat di sini sebentar Mbah, menjelang subuh."

"Apagrh kamu tidakgrh takutgrh?"

"Tadinya saya tidak tahu Mbah. Saya cuma ingin berisitirahat sebentar!"

Tiba-tiba makhluk itu meledak murkanya.

"Apagrrh kau Butagrrh?!! Siapagrrh yangh memberimu izin dudukgrrh di siniggrrh?!!"

Pemuda itu kembali terkejut bukan kepalang karena kemurkaan makhluk itu yang meledak tiba-tiba. Dia terdiam, tak bisa menjawab apa-apa. Sambil berpikir apa ada kata-katanya yang salah sehingga membuat makhluk itu murka.

"Jikagrrh kau bisagrrh menyelamatkan lututmugrrh kau bolegrrhhh duduk di sinigrrh!" 

Kata makhluk menyeramkan itu sambil langsung mengangkat godam berduri itu tinggi-tinggi untuk segera dihantamkan ke lutut si pemuda.

Si pemuda dengan cepat menangkupkan kedua tangannya ke atas bermaksud memohon sesuatu.

Korak Jambul terpaksa menahan gerakannya sambil menggeram keras.. Hhrrrrggggghhh!

"Maafkan saya Mbah! Saat ini paha kiri saya terluka parah. Seandainya mampu saya ingin sekali pergi dari sini sekarang," kata si pemuda memohon sambil memperlihatkan luka robek di paha kirinya. 

(Bersambung)

Sebelumnya    Selanjutnya 

Post a Comment

0 Comments