Suasana hening. Sang Pemimpin sedang berpikir serius. Sedangkan Kinar menghentikan suapannya sejenak karena takut ditanya pas saat mengunyah. "Kamu tahu siapa orang yang sedang menunggunya di kampung utara itu?" tanya Sang Pemimpin penasar…
Continue ReadingMelihat hal seperti itu, Kinar berdiri dan berjalan beberapa langkah menuju pohon jambu air dan memetik 2 helai daunnya yang agak lebar. Lalu kembali duduk ke tempat semula. Diambilnya sepotong ubi hangat, lalu diletakkannya di atas daun jambu. Sela…
Continue ReadingSebelum mereka pulang Sang Pemimpin berpesan kepada mereka bertiga, "Jangan lupa, besok pagi-pagi ajaklah Ipul sekalian untuk mengerjakannya. Mudah-mudahan sebelum siang sudah selesai.""Baik Tuan. Kalau begitu kami permisi."Sang …
Continue ReadingSepeninggal Alif dan Nobus, Kinar cepat-cepat membawa ikan ke dapur dan meletakkannya ke dalam wadah yang diisi air, agar ikannya tidak mati. Dia ingin menyiangi dan memasakkannya nanti. Saat ini dia tak ingin berada di rumah sendirian dan menangis.…
Continue ReadingMatahari sudah sangat jauh berada di barat. Mega-mega jingga satu-persatu sudah mulai muncul. Burung-burung pun sudah mulai pulang ke sarang. Cericit anak-anaknya yang gembira menyambut kedatangan induknya terdengar nyaring. Angin sepoi-sepoi bertiu…
Continue ReadingSpontan dua sejoli yang sedang sibuk berbagi ikan, atau malah lebih tepat disebut dengan berbagi rasa sayang itu, menoleh ke sumber suara."Nobus, Julak, ada apa? Udah lama sampai?" Tanya Puan Putri"Selamat sore Puan! Anu, ada informas…
Continue ReadingMatahari sudah jauh condong ke arah barat ketika Alif sampai ke rumah Kinar. Sinarnya sudah tidak terik lagi seperti tadi. Alif teringat bahwa dia belum melaksanakan fardhu Ashar. Sebetulnya dia ingin sekali bergegas pulang untuk mandi dan salat. Ta…
Continue Reading