Matahari sudah jauh condong ke arah barat ketika Alif sampai ke rumah Kinar. Sinarnya sudah tidak terik lagi seperti tadi. Alif teringat bahwa dia belum melaksanakan fardhu Ashar. Sebetulnya dia ingin sekali bergegas pulang untuk mandi dan salat. Tapi dia tak ingin menyinggung perasaan Kinar. Ditahannya sekejap lagi kainginan itu.
"Alhamdulillah sudah sampai." ucapnya membuka percakapan.
Kinar masih saja membisu. Jantungnya masih sedikit berdebar-debar. Tapi sekarang dia sudah mulai bisa mengangkat muka dan melihat sekeliling. Wajahnya sudah tak semerah tadi.
Dia bergegas melangkah ke dekat pintu rumah yang masih tertutup rapat, dan berdiri mematung di situ sambil melihat semua hal yang dilakukan Alif.
Tak ada komentar.
Tak ada pertanyaan.
Alif lalu bergegas ke belakang rumah sambil membawa sebilah pisau untuk mengambil dua helai daun pisang.
Setelah kembali dihamparkannya daun pisang itu di tanah. Lalu dengan hati-hati dikeluarkannya 15 ekor ikan patin, gabus, dan toman. Dipilihnya yang besar-besar. Semua itu untuk Kinar. Sedangkan di dalam keranjang masih ada sekitar 15 ekor lagi untuk di bawa pulang.
"Segini, cukup?" tanya Alif sambil melihat ke arah Kinar.
"Hmm..., apanya yang cukup?" tanya Kinar balik. Otaknya masih belum bisa fokus.
"Ikannya. Segitu, cukup?" tanya Alif sambil menunjukkan ke tumpukan di atas daun pisang itu.
Kinar menatap ke arah yang ditunjuk Alif. Dilihatnya beberapa saat tumpukan itu. Dipaksakannya otaknya untuk fokus.
"Astaga.. banyaknya. Ga.. ga.. ga. Ga usah sebanyak ini." katanya terkejut sambil berlari mendekat kearah tumpukan ikan itu.
"Ambil lagi. Ga bakalan habis sebanyak ini." katanya lagi.
"Dibikin ikan salai biar tahan lebih lama."
"Ga usah. Nanti takut ga habis. Ambil lagi setengahnya."
Alif mengambil 2 ekor ikan patin.
"Lagi...!!" kata Kinar.
Alif kembali mengambil 2 ekor gabus.
"Lagi..." kata Kinar
"Udah, segitu aja. Nanti malah ga cukup."
"Lagi..." Kinar memaksa.
Alif kembali mengambil 2 ekor toman.
"Udah?" tanya Alif memastikan.
"Ya udah, segitu. Itupun udah kebanyakan."
Saking asiknya mereka tawar menawar, berbagi hasil tangkapan, sampai tak sadar Nobus dan Julak sudah berdiri lama, disamping kursi di bawah pohon, yang selalu diduduki Alif. Mereka berdua memperhatikan saja tawar menawar yang terjadi antara Puan Putri dan Tuan Alif.
Mereka datang bukan karena diminta oleh Puan Putri, juga bukan karena mau mengantar persediaan makanan untuk Puan. Tapi kali ini mereka datang membawa kabar yang sangat penting untuk Tuan Alif.
Karena sudah terlalu lama menunggu akhirnya Nobus memutuskan untuk memberitahukan kehadiran mereka.
"Ehhemmm... ehhemm..." Nobus berdehem.

0 Comments