Alif tetap menggendongnya beberapa saat. Meskipun sebenarnya dia tidak bermaksud menggendongnya pulang. Dia hanya ingin mengekspresikan kegembiraannya kepada gadis itu karena telah membantunya menunaikan janji tanpa banyak berkeluh kesah. Padahal mereka sudah berjalan sangat jauh hari ini. Namun dara itu tetap saja tersenyum bahagia, sama seperti senyum pertama berjumpa tadi.
Dia ingin menyenangkan hati gadis itu hari ini. Meskipun sebenarnya dia sendiripun lelah.
Kinar tak sanggup melihat ke bawah, ke wajah orang yang menggendongnya. Kelihatan sekali bahwa wajahnya memerah malu. Dia memilih untuk memandang sekeliling.
Meskipun wajahnya terlihat tenang, tapi tetap saja hatinya tak bisa dikendalikan. Berdegup-degup kencang, memompa darahnya yang tiba-tiba saja terasa lebih panas. Nafasnya terdengar menderu dan pendek-pendek. Persis seperti orang yang baru saja berlari kencang.
Sebenarnya Alifpun merasakan hal yang sama di bawah sana. Nafasnya terasa lebih pendek, dan jantungnya berdebar lebih cepat 3 kali lipat.
Diapun paham, bahwa seharusnya dia sama sekali tidak boleh melakukan ini. Namun, akalnya sudah pendek untuk memikirkan bagaimana cara untuk mengekspresikan rasa terima kasihnya kepada bidadari wangi yang tak pernah mengeluh ini. Hingga reflek saja dia menggendongnya.
Setelah beberapa lama barulah Alif menurunkan gadis yang udah hampir sekarat karena malu itu.
"Udah.. Kita pulang?" tanya Alif.
"Hmmm..." jawab Kinar lirih. Tak tau menjawab apa.
"Ayoook.."
Alif berjalan terlebih dahulu di depan. Menjinjing keranjang ikan di tangan kanannya dan jala di bahu kirinya.
Sedangkan Kinar mengikutinya dua langkah di belakang. Sambil menunduk melihat ke tanah. Muka merah dan hatinya yang berdegup kencang masih sama saja seperti saat di gendong tadi.
Di sepanjang jalan pulang beberapa kali kepala Kinar menabrak pundak Alif karena berjalan sambil menunduk. Beberapa kali pula dia meminta maaf karenanya.
Alif membiarkan saja. Tak memalingkan wajahnya melihat ke belakang. Khawatir dia akan semakin ganjeng dan melakukan hal-hal yang tak seharusnya.
Mereka berjalan pulang dengan suasana hening sama sekali. Tanpa ada percakapan apapun.

0 Comments