Alif tak henti-henti mengucapkan alhamdulillah. Seluruh penat ditubuhnya tiba-tiba saja sirna tak bersisa. Semangat sekali dia mengisi keranjang itu. Setengah keranjang besar terisi sempurna.
Setelah semua ikan pindah ke dalam keranjang, Alif kembali bersiap untuk melakukan lemparan kedua.
"Bismillah..." katanya dengan agak keras.
Di lemparkan jala itu ke tempat yang sama dengan lemparan pertama tadi.
Jala mengembang sempurna.
Dibiarkan sejenak
hingga tenggelam.
Lalu
diangkatnya lagi.
Sama saja seperti pertama tadi, berat sekali. Terasa ikan-ikan menggelepar-gelepar di bawah sana.
Ketika sampai di permukaan, benar saja, banyak sekali ikan yang nyangkut. Bahkan lebih banyak dari yang tadi.
Kinar melompat-melompat kegirangan melihatnya. Alif tak henti-hentinya mengucapkan Alhamdulillah.
Diangkatnya jala itu dengan bahu kanannya ke arah Kinar berdiri. Lalu diletakkan ke tempat tadi.
Mereka berdua kembali sibuk memindahkan hasil tangkapan itu ke dalam keranjang.
Keranjang besar itu sekarang sudah penuh dengan ikan yang menggelepar-gelepar. Bahkan masih banyak ikan yang tidak muat untuk dimasukkan.
“Tidak muat, gimana ini lebihnya?” Tanya Alif meminta pendapat Kinar.
“Lepaskan aja.“ jawab Kinar.
“Ooo. Gitu.. baiklah kalau gitu kata Puan.”
Lalu Alif mengumpulkan semua ikan yang tidak muat itu, membawanya ke tepi sungai.
Namun sebelum melepaskannya Alif lama tertegun di sana. Ikan di tangannya tidak juga dilepaskan.
“Bagaimana kalau kita berikan saja kepada teman-teman di sana?” tanya Alif kembali meminta pendapat Kinar.
“Boleh
juga.”
Alif tersenyum mendengar jawaban Kinar. Dia berjalan balik kembali. Meletakkan ikan-ikan itu ke tempatnya semula.
“Kalau begitu, kita tambah beberapa ekor lagi,” ucapnya sambil bersiap mengambil jala.
“Sudah,
sudah cukup.” cegah Kinar, “ini yang dalam keranjang juga sudah sangat banyak.”
“Ooo. Gitu..
baiklah kalau sudah cukup.”
Lalu mereka berdua bersiap untuk pulang.
Kinar mencoba mengangkat keranjang ikan itu. Dia tak tega semua barang di bawa oleh Alif sendiri. Dia mencoba menjinjingnya. Terangkat... tapi terlihat sekali dia kesusahan untuk berjalan.
Alif tertawa melihatnya.
"Hahaha... kuat?"
Kinar tak menjawab. Dia tetap mencoba berjalan sambil terseok-seok.
"Hahaha.... udah, sini aku yang bawa." ucap Alif sambil tangan kanannya menggenggam pegangan keranjang.
Tanpa diduga, secepat kilat, pergelangan tangan kiri Alif melingkar di pangkal paha Kinar dan menggendongnya.
Kinar terkejut, reflek menjerit tercekat, "Ihh.. apaan sih?".
Matanya
langsung membesar bulat, mukanya memerah, pandangannya langsung melihat
berkeliling. Takut ada orang yang melihat. Tapi anehnya sedikitpun dia tidak
berusaha untuk melepaskan diri dari gendongan pemuda itu.
"Mau digendong ga? Kasihan lihat Puan Putri berjalan jauh."
"Ihh....!" ucap Kinar lirih. Kedua matanya menatap pemuda itu, minta diturunkan.

0 Comments