Di dalam hatinya dia sangat kasihan dengan pujaan hatinya itu yang sudah berusaha sangat keras untuk mendapat ikan. Tapi sampai sejauh ini belum satu ikanpun yang nyangkut di jala yang dilemparnya.
Setelah yakin si pemuda hilang di dalam semak. Diam-diam Kinar turun ke sungai untuk mencelupkan tangan kanannya ke dalam air, sebatas pergelangan tangan. Dibiarkan tangan itu beberapa saat di dalam sana sambil dialirkan sedikit kekuatan tenaga dalam ke ujung-ujung jarinya. Ini adalah ajian Menebar Rampai Mengikat Janji.
Ajian ini langsung dipelajari Kinar dari kakeknya yang tak lain adalah seorang nelayan yang sangat disegani di kampungnya dulu. Kakek Zahar, kakek dari pihak ibunya.
Kakek Zahar adalah pemimpin nelayan yang sangat dihormati di kampungnya. Setiap kali pulang dari laut dia selalu membawa banyak sekali ikan tangkapan. Pari, tuna, kepiting, sembilang, lomek, udang, sampai hiupun ada. Seandainya saja semua hasil tangkapan itu dijual, bisa jadi dia termasuk salah seorang yang paling kaya di kampungnya.
Tapi tidak. Sepertiga dari hasilnya itu selalu dibagi-bagikan kepada orang kampung yang dianggap kurang mampu. Sepertiga yang lain, dibagi sama rata untuk seluruh anak buahnya. Sepertiga yang terakahir, itulah yang dijualnya dan diambil sebagian untuk dimakan oleh keluarganya.
Seandainya Kinar mau memanggil semua ikan di sungai ini, mulai dari hulu hingga ke hilir, maka dia bisa melakukannya. Tapi tidak, dia sama sekali tidak menginginkan itu. Dia hanya perlu mengambil secukupnya saja yang dibutuhkan.
Setelah beberapa saat dia merendam telapak tangannya, dia melihat beberapa ikan berenang dengan sangat cepat menuju ke ujung tangannya itu. Dia lalu menjentikkan permukaan air tiga kali sebagai penutup ajian.
Empat ekor toman sebesar betis muncul ke permukaan air tempat dia menjentikkan air tadi. Kinar tersenyum melihatnya. Namun dia tidak berusah menangkap ikan-ikan itu. Dibiarkannya ikan-ikan itu menatapnya pergi.
Dia lalu cepat-cepat naik dan berjalan kembali ke tempat dia berdiri tadi, sambil menunggu Alif selesai dengan urusannya.
Setelah beberapa saat, Alif keluar dari balik-balik semak dan berjalan ke arahnya dengan cepat. Hatinya senang karena melihat Kinar masih berdiri di sana sambil memegang keranjang kosong itu.
Cepat-cepat diambilnya jala yang di gantung di dahan dan berjalan ke tepi sungai untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum jua membuahkan hasil.
Sebelum melempar jala, Alif melihat beberapa ikan besar berenang kian kemari di permukan sana. Alif terkejut bercampur senang karena banyak sekali jumlahnya. Maka dengan membaca Bismillah dilemparkannya jala itu dengan cepat.
Jala mengembang bulat sempurna. Dibiarkan jala itu tenggelam sampai ke dasarnya. Namun, hatinya sudah tak tahan untuk segera menariknya dan melihat hasilnya.
Setelah yakin jalanya tenggelam sempurna lalu dengan hati berdebar ditariknya jala itu pelan-pelan. Berat sekali, sangat berat, dan bergetar-getar.
Benar saja, sekitar 30 ekor lebih ikan besar dan kecil nyangkut di sana.
Hatinya sangat gembira. Mulutnya tak henti-henti mengucapkan Alhamdulillah.
Ketika dia berusaha mengangkat jalanya dari permukaan air, terasa sangat berat. Hingga dia harus membalikkan badan dan meletakkan jala itu ke bahu kanannya agar kuat mengangkatnya hingga beberapa langkah menjauh dari sungai.
Setelah semua ikan naik ke darat dia berpaling ke dara cantik yang masih saja berdiri di sana, dan memanggilnya.
"Puan, sini.. Alhamdulillah. Akhirnya ada ikan yang kita bawa pulang." ucapnya dengan wajah yang sangat gembira.
Puan Putri berjalan mendekatinya dengan cepat. Segera diletakkannya keranjang itu di depan Alif.
"Uuuiiiiii... banyaknya. Besar-besar pula." ucap Kinar gembira sambil matanya terus melihat takjub semua ikan-ikan itu.
Lalu mereka berdua sibuk mengeluarkan semua ikan dari dalam jala. Gabus, toman, lompong. patin, lele, kaloi, nila, dan patin, semua ada.

0 Comments