"Bismillahirrohmanirrohim..." ucapnya pelan sambil melemparkan jalanya ke permukaan sungai. Jalanya kembang, bulat sempurna.
Ditunggunya beberapa saat hingga tuntun menenggelamkan ujung jalanya sampai ke dasar sungai. Lalu ditariknya jala itu pelan-pelan.
Ziinnkk...
Hanya seekor sepat kecil yang nyangkut di sana. Ikan yang belum layak untuk di bawa pulang.
Hatinya agak kecewa, tapi dia tetap yakin bahwa di bawah sana banyak ikan besar. Dia yakin akan membawa pulang sekeranjang ikan besar itu nantinya.
Dilepaskannya sepat kecil itu. Lalu dibersihkannya dedaunan dan ranting yang menyangkut. Setelah itu dia bersiap kembali untuk melakukan lemparan kedua.
Sama saja. Hanya dedaunan dan rerantingan pohon yang nyangkut di jalanya. Dia bersiap untuk melakukan lemparan ketiga, keempat, kelima, ... kesembilan belas, ... keempat puluh tujuh. Namun hasilnya tetap sama.
Dia mulai ragu dengan sungai ini. Apakah memang ada ikannya atau hanya tempat air mengalir saja.
Lalu dia mengajak Kinar untuk pindah ke tempat lain yang permukaan airnya juga tenang. Mudah-mudahan di sini ada ikannya, ucapnya di dalam hati.
Lalu dengan ucapan Bismillah dilemparkannya jala kepermukaan.
Lemparan pertama, kedua, ketiga, ... ketujuhbelas, ... ketigapuluh dua. Sama saja. Hanya sepat kecil dan beberapa anak puyu yang terangkat ke atas.
Dia mulai bimbang. Ditolehkannya pandangan dengan cemberut ke wajah Kinar yang berdiri di belakang sana sambil memegang keranjang. Kinar tetap tersenyum menunggu ikan hasil tangkapannya.
Diajaknya Kinar pindah lagi ke tempat yang baru. Ke tempat yang agak jauh. Lalu mulai lagi melempar jalanya. Hasilnya tetap sama saja.
Pindah lagi...
Pindah lagi...
Pindah lagi...
Sekarang sudah spot yang ke-12. Dia sudah tak lagi begitu banyak berharap untuk membawa ikan sekeranjang penuh. Dia hanya berharap bisa membawa dua ekor gabus sebesar lengan untuk dijadikan lauk oleh Kinar hari ini, itupun sudah sangat disyukurinya. Akan terasa agak memalukan jika sudah sejauh ini diajaknya dara itu menjala namun belum mendapat satu ekorpun untuk di bawa pulang.
Sebelum melempar jala Alif merasa ada sebuah panggilan alam yang harus ditunaikan terlebih dahulu. Rasa ingin kencing yang sudah mendesak.
Dia lalu menggantungkan jalanya ke sebuah dahan rendah, dan melepaskan ikatan talinya dari pangkal lengannya.
Kinar melihat saja semua yang dilakukan Alif sambil tetap berdiri diam tanpa bertanya.
"Aku ke belakang sana dulu ya sebentar." ucap Alif permisi.
Kinar mengangguk memahami maksud Alif.
"Ga takut ditinggal di sini sebentar 'kan?"
Kinar mengangguk lagi sambil tetap berdiri diam.
"Nanti kalau ada apa-apa, berteriaklah. Aku segera datang." ucap Alif lagi.
Kinar tersenyum. Dia mengangguk lagi.
Lalu Alif melangkah dengan ragu-ragu. Tak tega rasanya meninggalkan gadis itu sendirian di tengah hutan tak bertuan ini. Tapi desakan di dalam sana sudah sangat sulit untuk di tahan, memaksanya untuk segera menunaikan kewajibannya itu.
Kinar melihat punggung Alif sampai pemuda itu menghilang di dalam semak.

0 Comments