Kinar mulai paham alasan Alif yang tak pernah mau masuk ke rumahnya selama ini.
Di sisi lain, hatinya mulai berbunga-bunga mendapat pujian tak sengaja dari sang pemuda. Sebetulnya diapun merasakan hal yang sama. Ada sedikit pikiran kotor di sudut otaknya jika nanti kebetulan mereka berdua saja di dalam rumah.
"Emang sampai kapan kamu akan terus duduk di luar sini?" tanya Kinar lagi. Namun wajah cemberutnya sudah mulai sirna.
"Sampai ada keluarga yang menemani kamu atau sampai ada ikatan yang sah antara kita."
"Ikatan sah? Ikatan apa itu?" tanya Kinar mulai tersenyum bahagia tapi dengan ekspresi pura-pura tidak tahu .
"Aaah... udah... masuk sana makan dulu!"
Kinar tersenyum, lalu masuk ke dalam rumah. Kini dia paham alasan kenapa pemuda idamannya itu tidak mau masuk ke rumahnya. Bukan karena alasan pribadi, tapi agamanya yang melarang. Sungguh, sebuah ajaran yang cukup baik. Agama yang sangat melindungi kesucian penganutnya.
Setelah beberapa waktu Kinar di dalam rumah, gadis itu lalu melangkah keluar membawa secangkir kopi panas dan sepiring kecil isi buah tematu. Lalu dihidangkannya di bangku panjang tempat si pemuda duduk.
Alif menatap isi piring yang berwarna putih seperti mutiara itu. Terlihat sangat enak, lembut, dan segar. Apalagi disaat siang-siang begini. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menggoda. Tapi, dia belum tahu apa itu dan bagaimana rasanya.
Rasa penasaran membuatnya tak tahan ingin bertanya. "Apa ini?" katanya sambil menunjuk makanan di dalam piring kecil itu.
"Isi buah tematu. Cobain! Enak koq, manis. Apalagi dimakan siang-siang begini." jawab Kinar.
"Kelihatannya memang segar. Dapat dari mana?"
"Ga tau. Kemaren Nobus ke sini ngantar ini. Entah dapat dari mana dia. Di sini ga ada pohonnya. Karena ini tumbuh di pinggir sungai yang biasanya tak jauh dari air asin. Dulu di rumah kami sering dihidangkan buah ini untuk cemilan siang. Cobain deh, lembut dan manis."
Alif tanpa ragu mengulurkan tangan untuk mengambilnya seulas. Tapi Kinar menepis tangannya.
"Ihh... pakai ini." ucap Kinar sambil menyodorkan sebatang lidi runcing.
Alif mengambil lidi itu dan menggunakannya sebagai penusuk.
Diambilnya seulas lalu dimakannya. Hmmm... Rasanya sangat lembut, segar, dan manis, persis seperti isi kelapa muda. Tak perlu banyak dikunyah karena memang sudah lembut.
"Enak sekali ini. Nanti kita cari lagi yuk!" ucap Alif sambil mengambil seulas yang kedua.
Kinar tersenyum melihat si pemuda menyukainya. Meski bukan dia yang membuatnya, tapi setidaknya dia yang menghidangkannya.
"Tinggal dulu bentar ya. Mau makan." ucap Kinar permisi masuk ke dalam.
"He eh.." ucap Alif tanpa menoleh. Kelihatannya dia asik benar menikmati cemilian buah tematu yang baru pertama kali dimakannya itu.
***
Sesampainya di sungai Alif melihat beberapa orang sudah duluan berada di sana. Kelihatannya mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang memancing, menombak, dan juga menjala. Alif kenal dengan orang yang memancing itu, karena rumahnya tak jauh dari rumah Ipul, tempat dia tinggal selama ini. Namanya Kandi.
"Ehh Bang Kandi.. banyak dapat?" tanya Alif sedikit berteriak.
"Belum dapat. Aku baru aja tiba." jawab Kandi.
"Ooo... Apa umpan Bang?"
"Anak katak."
"Ooo.. kesukaan toman sama lompong itu Bang."
Kandi tak menjawab. Dia sibuk melempar umpannya ke tempat yang jauh. Lalu pelan-pelan menariknya dengan cara menggoyang-goyangkan ujung jorannya sehingga katak yang dijadikan umpan itu terlihat seperti sedang melompat-lompat di permukaan sungai.
Alif mengajak Kinar sedikit menjauh dari tempat Kandi memancing. Dia tak ingin mengganggu tetangganya itu.
Pada sebuah tempat yang arusnya lebih tenang Alif berhenti. Dia merasa sudah menemukan spot yang tepat untuk melemparkan jala. Dia yakin di bawah sana banyak ikan. Karena airnya yang tenang, dan dipermukaannya banyak kiambang dan teratai. Biasanya ikan suka berteduh di bawahnya sambil menunggu mangsa yang terbang dan berjalan di atas daun teratai.
"Kita coba di sini." ucap Alif mengajak Kinar berhenti.
Lalu, dia mulai menguraikan jalanya dan menyusunnya di sepanjang tangannya untuk segera dilemparkan.

0 Comments