Lalu keduanya terdiam. Kinar melangkah keluar dari dalam semak yang disianginya.
Wajah cantik itu berkeringat dan memerah di bawah caping lebar yang dikenakannya. Ingin sekali Alif menyeka keringat yang membasahi wajah itu dengan kain yang halus. Entah mengapa, keringat itu membuat wajah Kinar semakin menarik dan menggairahkan.
Alif tak sanggup menatapnya lama-lama. Entah berapa ekor setan yang menghiasi wajah itu sehingga terlihat begitu sempurna. Sungguh sangat sulit untuk ditolak. Senyum dan mata itu seolah-olah melambai-lambai memanggil untuk segera dikecup dengan sebuah kecupan yang sangat lama.
Alif terdiam terpaku melihat semua kesempurnaan itu. Hatinya sudah berkali-kali mengingatkannya untuk menundukkan pandangan. Tapi sebagian hatinya juga memaksa untuk tetap menatap wajah itu. Kapan lagi ada pemandangan seindah ini. Nanti atau besok mungkin dia sudah tak di sini lagi.
Alif lupa bahwa yang ditatapnya itu bukanlah sebuah hiasan ataupun patung, tapi wajah seseorang yang juga bisa menatap balik. Dia betul-betul terkejut dan gelagapan ketika tertangkap basah menatap wajah Kinar terlalu dalam dan bergairah. Cepat-cepat dialihkannya pandangan itu ke pohon pisang di dalam semak-semak itu.
"Engghh... kamu udah makan?" tanyanya dalam keterkejutannya. Darah di dalam tubuhnya terasa panas dan mengalir terlalu cepat.
"Belum.. sebetulnya mau makan sama-sama. Ini juga dari tadi nunggu kamu."
"Ya udah, kalau gitu makan dulu. Aku tunggu."
"Ahh ga enak makan sendiri. Ikut makan juga dong."
"Aku udah makan banyak tadi. Ga sanggup lagi mau nambah."
"Kalau gitu aku bikinin kopi ya!"
"Mmhh... iya deh kalau gitu."
Sebenarnya Alif sedang tidak ingin minum kopi. Apalagi buatan Kinar. Dia sudah membayangkan minum air yang dikasi sedikit gula dan toping kopi. Di dalam hatinya dia tersenyum.
Lalu keduanya berjalan. Kinar bergegas masuk ke rumah dan Alif terus melangkah ke kursi panjang di bawah pohon, tempat dia dulu pernah dijamu sarapan pertama kali berkunjung.
"Alif, koq ke sana lagi. Sini masuklah." ucap Kinar mengajak.
"Ga, di sini aja, lebih sejuk." jawab Alif sambil terus melangkah ke bawah kursi panjang.
Kali ini Kinar tak bisa menerima jawaban dengan alasan lebih sejuk itu. Dia kembali melangkah menghampiri Alif yang sudah duduk di bangku panjang.
"Kamu jijik ya kalau duduk di dalam?" tanya Kinar dengan kening berkerut.
"Lho koq ngomong gitu? Ga koq, aku lebih suka duduk di sini, lebih sejuk."
"Dari mana kamu tahu kalau di sini lebih sejuk daripada di dalam? Masuk aja kamu belum pernah."
Alif terdiam. Ditatapnya wajah gadis itu yang kelihatan sedang cemberut dan butuh penjelasan.
Lama dia merangkai kalimat yang tepat di dalam kepalanya. Penjelasan apa yang harus disampaikan kepada gadis yang berbeda keyakinan ini. Tapi dia harus menyampaikannya agar si gadis tidak tersinggung dan salah paham.
"Tidak baik seorang pemuda masuk ke rumah seorang gadis tanpa ditemani oleh keluarga si gadis." jawab Alif mulai menjelaskan.
"Emang kamu mau ngapain?" tanya Kinar makin butuh penjelasan.
Pertanyaan ini malah membuat suasana menjadi semakin kikuk.
"Bukan masalah aku mau ngapain. Tapi itu dilarang agama."
"Koq ada larangan seperti itu? Kan kita cuma mau ngobrol."
"Awalnya memang cuma mau ngobrol. Tapi nanti siapa tau salah satu dari kita akan dihasut setan. Apalagi kamu secantik itu. Aku takut tak bisa menahan diri."

0 Comments