Bab 9 (1) - Menebar Rampai Mengikat Janji

Siang yang cukup cerah, tidak terlalu terik tidak juga mendung. Suasana yang cukup baik untuk bermain di luar. Hari seperti ini biasanya banyak dimanfaatkan warga Teraploban untuk mencari ikan, berburu babi, atau pergi ke hutan mencari buah-buahan yang bisa dimakan.

Alif berjalan dengan langkah pelan dan kecil-kecil, menuju ke rumah Kinar. Sebuah jala untuk menangkap ikan disandang di bahu kirinnya. Jala milik ipul itu dipinjamnya siang ini untuk memenuhi janjinya kepada Sang Pemimpin dan juga kepada Kinar.

Siang ini dia ingin mengajak Kinar mencari ikan dan mencari buah. Dia tak ingin terlalu lama memiliki hutang. Selain itu, ada hal lain yang cukup penting yang ingin disampaikannya kepada Kinar. Hal penting itulah yang membuatnya ragu-ragu melangkah. 

Disusurinya jalan kampung yang tak lebar itu, hanya seukuran dua depa orang dewasa. Pelan dan ragu-ragu. Wajahnya tertunduk. Pandangannya tertuju pada tiap jengkal tanah yang dilangkahinya. Otaknya berkecamuk memikirkan banyak hal. Hatinya bimbang.

Meskipun pelan tetapi pasti, akhirnya sampai juga dia di depan rumah Kinar. Karena memang jarak tempuh antara rumah Ipul dan rumah Kinar tidaklah jauh. 

Kini dia mematung menatap pintu depan rumah Kinar. Pintu yang belum penah dia ketuk dan juga belum pernah dia masuki. Pintu kokoh yang melindungi orang yang disayang di dalamnya.

Lama dia menatap pintu itu, dalam kebimbangan dan keraguan. Tetapi di dalam hatinya dia juga ingin segera berjumpa dengan si pemilik rumah. Rindu yang membuncah di dada terus mendorong langkahnya untuk secepat mungkin berada di depan pintu itu dan mengetuknya. 

Tiba di depan pintu dia berhenti sejenak, mematutkan diri sambil berdoa. Setelah dirasakan semuanya beres lalu diucapkannya salam sambil mengetuk.

"Assalamulaikum...!"

Senyap, sepi. Tak ada jawaban, juga tak ada suara langkah kaki.

Diulangnya sekali lagi mengetuk dan memberi salam dengan lebih keras, "Assalamualaikum...!"

Juga sama, hanya senyap tak ada jawaban. 

Dia mundur beberapa langkah, lalu berjalan ke samping rumah. Sekarang dia yakin bahwa di dalam rumah itu sedang tidak ada orang. Seandainyapun ada, orang itu tentu sedang tidak ingin ditemui. Sebagai orang yang datang berkunjung dia harus tahu diri untuk tidak mengetuk lagi. 

Dia melihat ke samping kanan rumah. juga tidak ada orang di sana. Namun, dari tempat dia berdiri sayup-sayup dia mendengar seperti ada orang yang sedang menyiangi rumput di belakang sana. 

Pelan-pelan dia melangkah ke arah asal suara itu. Dan, benar saja, di sana, di dalam semak-semak, di belakang rumah, Kinar nampak tengah sibuk menyiangi rumput yang tumbuh di sekitar pohon pisang. Rumput-rumput itu menjalar naik hingga ke pelepahnya. Sebuah topi caping besar dikenakannya untuk melindungi wajah dan sebagian tubuhnya dari sengatan matahari.

"Assalamualaikum!" ucap Alif memberi salam.

Serta-merta Kinar berhenti dari pekerjaannya. Senyum manis langsung terpampang di wajah cerahnya. "Walaikumsalam warrahmatullah..!"

"Sedang sibuk nampaknya."

"Ga ah.. cuma ngisi-ngisi waktu sambil cari keringat."

Alif melangkah lebih mendekat. Dia tak ingin ngobrol sambil berteriak-teriak. Lagipula, wajah cantik itu harus dilihat dari dekat agar terlihat sempurna. 

"Gimana, jadi kita pergi mencari ikan?" tanya Alif sambil memperlihatkan jala yang dibawanya.

"Ya jadilah. 'Kan kita udah janji. Ini juga dari tadi nunggu kamu datang."

"Ayoo siap-siap kalau gitu."

"Kamu belum makan 'kan? Kita makan dulu ya."

"Udah, udah makan tadi sama Ipul. Tadi kami masak ikan asap dan gulai daun singkong."

"Wahh.. enaknya. Pedas ga?"

"Iya. Ipul sukanya makan yang pedas-pedas."

Post a Comment

0 Comments