Bab 10 (2) - Orang-orang yang Dirindukan

 


Spontan dua sejoli yang sedang sibuk berbagi ikan, atau malah lebih tepat disebut dengan berbagi rasa sayang itu, menoleh ke sumber suara.

"Nobus, Julak, ada apa? Udah lama sampai?" Tanya Puan Putri

"Selamat sore Puan! Anu, ada informasi untuk Tuan Alif."

"Haa.. untuk saya?"

"Iya Tuan, informasi sangat penting."

Alif tegak diam dan fokus ingin mendengarkan informasi yang akan disampaikan Nobus.

Nobus mematung bingung. Ada rasa ragu ingin menyampaikan informasi itu di depan Puan Putri. Matanya berpindah-pindah antara melihat wajah Tuan Alif dan kaki Puan Putri, karena dia tak sanggup melihat ke wajahnya. 

"Kenapa Nobus?" tanya Alif setelah lama menunggu.

"Anu, Tuan. Kalau bisa saya ingin menyampaikan informasinya ke Tuan saja."

Kinar yang merasa sebagai Puan Putri merasa dikesampingkan. Matanya memandang semakin tajam ke arah Nobus. Meskipun dia masih diam saja, tapi hawa membunuh sudah mulai bertiup sedikit. 'Ada apa ini orang laki-laki, pakai rahasia-rahasiaan. Pasti masalah perempuan ni. Atau jangan-jangan ada orang yang mengaku istrinya Alif. Terus, sekarang sedang berada di rumahnya Nobus'.

"Tidak apa-apa Nobus, Puan Putri boleh mendengarkannya." ucap Alif. Dia tak ingin main rahasia-rahasian dengan Puan Putri.

Sebenarnya Nobus masih ragu-ragu untuk menyampaikannya. Bukan karena takut rahasianya diketahui oleh Puan Putri, tapi karena dia tahu bahwa Puan Putri akan sedih mendengarkannya. Namun, karena sudah diminta oleh Tuan Alif untuk menyampaikan saja, Nobus tak bisa menolak.

"Anu Tuan, tadi siang saya dan kawan-kawan ketemu seorang kakek di sebuah kedai kopi di kampung utara. Katanya dia sudah mencari Tuan Alif kemana-mana.' Nobus mulai menyampaikan informasi yang dibawanya.

"Kakek? Kakek siapa?"

"Katanya namanya Kakek Saleh."

"Hahhh..." Alif langsung kaget. Ekspresi mukanya berubah menjadi serius dan tegang. "Dimana beliau sekarang?"

"Anu Tuan, di rumah kami, di Kampung Utara."

"Baiklah, terima kasih Nobus. Ayoo, mari kita segera ke sana." kata Alif langsung melangkah ke arah Nobus dan Julak. 

Namun, setelah beberapa langkah dia baru teringat belum pamit dengan Puan Putri. Ketika dia balik dan menoleh ke belakang terlihat Puan Putri berdiri cemberut di samping tumpukan ikan. Alif segera melangkah balik ke arah Puan Putri.

"Maaf, aku lupa pamit. Aku permisi dulu ya, assalamualaikum!" ucap Alif pamit. 

"Wa'alaikumsalam warohmatullah. Eh, tapi itu kakek siapa sih?"

Meskipun sangat tergesa-gesa dan sudah balik badan, tapi Alif tetap harus menjawab pertanyaan ini. 

"Kamu ingat ga Korak Jambul pernah cerita bahwa waktu kepalanya dikapak ada kakek buta yang menolong mengobatinya?" jelas Alif sambil memancing ingatan Kinar.

"Hemmm, iya, ingat."

"Nah, beliau itu sekarang yang berada di rumah Nobus. Beliau juga adalah orang yang telah banyak mengajari saya. Beliau sudah saya anggap sebagai kakek saya sendiri."

"Ooohh.." Kinar mengangguk tanda mulai memahami duduk perkaranya. 

"Tapi kenapa beliau mencari kamu sampai kemana-mana?"

"Ga tau. Tapi pastilah itu masalah penting. Beliau tidak akan sampai sejauh ini jika hanya membawa perkara remeh."

Kinar diam saja mendapat jawaban Alif. Hatinya mulai gelisah, cemas, dan takut, bercampur-campur.

"Kalau gitu aku pamit dulu ya. Ini ikannya cepat bawa masuk ke dalam. Assalamulaikum!" ucap Alif kembali, pamit sekali lagi.

"Waalaikumsalam!" jawab Kinar sangat lirih.

Alif langsung balik badan. "Ayo Nobus kita berangkat!"

Nobus dan Julak mohon diri, pamit pada Puan Putri. Lalu mereka berdua ikut berjalan bersama Alif keluar dari pekarangan rumah Kinar. 

***

(Bersambung)

Post a Comment

0 Comments