Suasana hening. Sang Pemimpin sedang berpikir serius. Sedangkan Kinar menghentikan suapannya sejenak karena takut ditanya pas saat mengunyah.
"Kamu tahu siapa orang yang sedang menunggunya di kampung utara itu?" tanya Sang Pemimpin penasaran.
"Kalau ga salah namanya Kakek Saleh."
"Hahh... Kakek Saleh?"
Korak Jambul terkujut mendengar nama itu. Wajahnya tiba-tiba pucat.
Kinarpun ikut terkejut melihat perubahan sikap Korak Jambul.
"Kakek Saleh Rumpak?" tanya Korak Jambul memastikan.
Kinar diam saja karena masih terkejut.
"Kakek Saleh Rumpak, Kinar?" Korak Jambul kembali mengulangi pertanyaannya.
"Mmm... Ga tau. Tadi dia cuma menyebutnya Kakek Saleh."
Wajah Korak Jambul semakin gelisah. Bola matanya tak bisa diam, memandang ke sana ke mari. Tangannya menggaruk beberapa bagian tubuhnya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Kamu tahu kemana tepatnya Alif menuju di kampung utara itu?"
"Tau, ke rumah Nobus."
"Kamu tahu dimana rumah Nobus itu?"
"Tau."
"Kalau begitu, cepat kamu habiskan makanan ini. Temani Abah ke kampung utara!" ucap Korak Jambul dan langsung masuk ke rumah.
Kinar tidak menjawab. Dia hanya mematung terpana.
Di dalam rumah Korak Jambul sibuk memakai wewangian. Dia seperti seorang anak bujang yang akan segera menemui dara pujaan hatinya. Lalu, dia langsung mengambil sebotol madu asli yang telah lama disimpannya. Dia bermaksud memberikan madu ini kepada Kakek Saleh sebagai buah tangan. Setelah itu langsung keluar menemui Kinar.
Dilihatnya gadis itu masih saja berusaha menghabiskan sepotong ubi yang masih tersisa seperempat potong itu.
"Cepat Kinar, habiskan. Ini labu dan nangkanya belum kamu sentuh sedikitpun."
Kinar menutup mulutnya yang mengunyah tergesa-gesa. Ia ingin segera menyelesaikan tugas makan malamnya. Tapi karena tak terbiasa makan cepat-cepat, dia malah terlihat kepayahan.
Setelah beberapa saat akhirnya ubi yang sepotong itupun habis. Di atas piring tetap masih tersia 2 potong lagi.
Kinar lalu minum beberapa teguk sebagai penutup. Lalu dia diam saja, menunggu arahan selanjutnya dari Korak Jambul.
Tapi setelah beberapa saat tak juga terdengar perintah "ayo berangkat" dari Sang Pemimpin. Kinar jadi serba salah. Dilihatnya wajah Sang Pemimpin dengan maksud menunggu arahan.
"Oh ya ada yg lupa. Abah masuk dulu mau ngambil sesuatu. Kamu makanlah labu atau nangka ini sambil nunggu. Abah mungkin agak lama." ucap Korak Jambul lalu langsung masuk ke dalam rumah.
Sebetulnya tak ada yang terlupa. Dia hanya ingin memberikan waktu kepada Kinar untuk memakan sepotong labu atau seulas nangka sebagai penutup. Kasihan anak itu nanti kalau kelaparan di perjalanan.
Ditinggal sendirian Kinar malah duduk diam saja. Labu dan nangka yang dipersilakan makan oleh Korak Jambul sama sekali tak disentuhnya. Pikirannya sudah mendahuluinya melayang ke kampung utara. Bibirnya tersenyum riang, karena sekarang dia sudah punya alasan untuk segera bertemu dengan Alif. Bayangan itu membuat perutnya kenyang meski hanya makan 2 potong ubi saja.
Setelah beberapa saat ditunggu akhirnya Korak Jambul keluar juga dari dalam rumah. Berdiri di depan Kinar sambil menatap ke atas nampan. Ubi, Nangka, dan labu, persis sama seperti ketika sebelum dia masuk tadi. Tak ada yang berkurang. Kelihatannya gadis ini sudah tidak mau makan lagi.
'Sudah selesa Kinar?"
"Iya."
Sang Pemimpin langsung mengangkat nampan itu masuk ke dalam rumah. Lalu segera keluar kembali. Berdiri di depan Kinar. Tangan kanannya sudah memegang obor menyala.
"Ayo kita berangkat."
Kinar hanya mengangguk. hatinya semakin riang.
"Bismillahi tawaqaltu alallah. La hawlawa quata illah billahil aliyil Adzim." ucap Sang Pemimpin berbisik, tapi masih cukup terdengar oleh Kinar di belakang.
Mereka berduapun bergerak cepat menuju kampung utara untuk bertemu dengan orang-orang yang dirindukan.
(Bersambung)

0 Comments