Bab 10 (6) - Orang-orang yang Dirindukan

 

Melihat hal seperti itu, Kinar berdiri dan berjalan beberapa langkah menuju pohon jambu air dan memetik 2 helai daunnya yang agak lebar. Lalu kembali duduk ke tempat semula. Diambilnya sepotong ubi hangat, lalu diletakkannya di atas daun jambu. Selanjutnya, diambilnya juga sejumput kelapa parut dan diletakkannya di atas daun jambu. Setelah itu baru dia mulai memakannya pelan-pelan dengan gaya khas wanita anggun.

 Sang pemimpin tersenyum melihat gadis cantik itu makan. Dia tak memujinya, malah mengejeknya, "Kapan kenyangnya makan kayak gitu." katanya berseloroh.

Kembali setengah potong ubi rebus masuk ke dalam mulutnya, dan dikunyahnya dengan tercungap-cungap. Mulut itu persis seperti mesin penumbuk yang bisa melumatkan dengan cepat apapun yang masuk ke sana.

Kinar tidak bereaksi apapun atas seloroh Sang Pemimpin. Meskipun perutnya sangat lapar, dia tetap harus makan dengan pelan-pelan. Karena memang seperti itulah dia selalu makan.

"Tunggu bentar, mungkin sambal ikan gambus siang tadi masih ada di dapur. Makan ubi rebus lebih enak pakai itu dari pada pakai kelapa parut. Coba abah lihat dulu ya", ucap Sang Pemimpin, dan langsung bergegas masuk ke dalam rumah.

Meskipun sangat lapar dan ditinggal sendirian, Kinar tidak serta merta berubah menjadi babi hutan atau singa lapar yang sedang menyantap daging. Walau tak ada seorangpun yang sedang melihatnya, dia tetap makan seperti tadi. Makan dengansuapan-suapan kecil.

Sang Pemimpin sengaja berlama-lama di dalam rumah untuk memberikan waktu kepada gadis pemalu di luar itu untuk makan lebih lahap. Jika dia bergegas keluar dan duduk di sana pastilah si gadis tak akan kenyang. Malah, bisa saja semua sisa makanan akan dihabiskannya sendiri.

Setelah cukup lama dia berada di dalam rumah barulah dia keluar membawa sambal ikan gabus siang tadi ke hadapan Kinar. Dilihatnya di atas piring masih ada 2 potong ubi yang tersisa. Artinya selama berada di dapur tadi Kinar hanya memakan sepotong ubi saja. Sang Pemimpin merasa kagum dengan tata krama gadis anggun ini. Meskipun ditinggal sendirian dia tetap tak berubah.

"Pakai ini lebih enak." kata Sang Pemimpin sambil menyodorkan sambal ikan gabus.

Kinar hanya mengangguk dan menutup mulutnya yang sedang mengunyah. Dia tetap memilih makan dengan parutan kelapa.

Meskipun sangat ingin makan beberapa potong ubi lagi, tapi Sang pemimpin memilih untukmakan labu saja. Karena jika diambilnya potongan ubi rebus itu, pastilah dengan cepat akan habis dimakannya sendiri.

"Besok pagi kamu ada kerjaan." tanya Sang Pemimpin sambil mengunyah.

Kinar tak langsung menjawab. Dikunyahnya makanan yang masih ada di dalam mulutnya sampai halus, lalu menelannya. Setelah itu baru dia berbicara.

"Cuma bersih-bersih rumah dan mencuci pakaian. Emang ada kegiatan apa besok?"

"Anu, rencananya besok beberapa warga mau bikin pondok untuk tempat pertemuan. Sekaligus pondok itu nantinya akan dijadikan mushalla untuk tempat solatberjamaah bagi siapa yang mau."

"Biasanyakan kalau ada pertemuan kita ngumpulnya di sini. Kenapa harus dibuatkan pondok khusus."

"Beberapa hari yang lalu si Alif mengusulkan untuk membangun mushalla yang juga bisa dijadikan tempat pertemuan warga sekaligus. Abah pikir bagus juga. Tak usah terlalu megah, cukup tiang dan atap pun jadi. Yang penting bersih dan nyaman."

"Orang yang mengusulkannya ikut gotong-royong ga besok?"

"Yaaa... seharusnya dia ikutlah. Dia yang punya usul."

"Tapi sekarang dia sedang tidak ada di rumah. Dia sedang berada di kampung utara, bertemu seseorang."

SangPemimpin terkejut mendengar perkataan Kinar.

"Koq kamu tau?"

"Tadi sore setelah kami menangkap ikan sama-sama dia dijemput Nobus untuk diajak ke kampung utara. Katanya ada seseorang yang sedang menunggunya di sana."

"Lhoo.. bagaimana ini? Apa ada dia menyampaikan pesan tentang kegiatan besok?"

"Ga."

"Trus, kapan dia pulang?"

"Ga tau. Ga ada dia bilang. Dia langsung pergi aja tadi begitu tau ada orang yang menunggunya."

"Gimana sih si Alif ini. Dia yang mengusulkan tapi pas gotong-royong malah dia tidak ada." ucap Sang Pemimpin lirih, seperti sedang bergumam.


(Bersambung)

Post a Comment

0 Comments