Sebelum mereka pulang Sang Pemimpin berpesan kepada mereka bertiga, "Jangan lupa, besok pagi-pagi ajaklah Ipul sekalian untuk mengerjakannya. Mudah-mudahan sebelum siang sudah selesai."
"Baik Tuan. Kalau begitu kami permisi."
Sang Pemimpin hanya mengangguk dan tersenyum. Dilihatnya 3 orang itu pergi hingga jauh.
Setelah mereka tak terlihat lagi barulah dia berucap kepada Kinar, "Ayo masuk.."
Kinar mengangguk dan mulai melangkah ke depan pintu sambil berucap, "Assalamualaikum warohmatullah."
"Waalaikumsalam", jawab Sang Pemimpin.
Kinar masih menunggu jawaban lengkapnya sambil melihat wajah Sang Pemimpin.
Sang Pemimpin hanya tersenyum tanpa meneruskan salamnya.
Ternyata Alif benar, bahwa jawaban lengkap itu hanya boleh diucapkan kepada seorang muslim saja. Kinar tak menuntut jawaban yang lebih panjang dari Pengulu. Dia sudah maklum.
Kinar mulai melangkah masuk ke dalam rumah.
Tapi sekarang malah Sang Pemimpin yang tetap tegak di luar.
Kinar berdiri cukup lama menunggu tuan rumah masuk. Tapi si tuan rumah tetap saja berdiri di situ.
Akhirnya Kinar sadar bahwa ini bukanlah tindakan yang benar. Dia teringat bahwa Alif pun pernah menolak ketika diajak masuk ke rumahnya dulu. Meskipun diomeli, Alif tetap tak mau masuk.
Kinar kembali melangkah ke tempat dia berdiri tadi, dan mematung di situ.
Sang Pemimpin tersenyum melihatnya.
"Kita duduk di bangku teras itu saja ya. Tapi sebentar, abah mau solat Maghrib dulu. Sebentaaar aja."
Kinar mengangguk.
"Abah tinggal dulu ya."
Tanpa menunggu jawaban Kinar Sang Pemimpin bergegas masuk ke dalam rumah.
Senja turun menaungi hutan Teraploban. Suara tonggeret bersahut-sahutan dengan suara jangkrik. Suasana yang tadinya terang berubah menjadi temaram, dan perlahan menjadi gelap.
Kinar duduk sendiri di bangku teras sambil menunggu Sang Pemimpin selesai melaksanakan Solat Maghrib.
Dinyalakannya 2 buah pelita yang tergantung di sana untuk menerangi suasana yang gelap. Dibersihkannya juga bangku dan meja dengan kemoceng yang terbuat dari sabut kelapa kering.
Meskipun hubungan Kinar dengan Sang Pemimpin cukup dekat, tapi dia tidak tau sama sekali apa itu solat Magrib. Bagaimana pelaksanaannya, dan seberapa lama. Selama ini Sang Pemimpin tak pernah bercerita tentang itu.
Hal yang juga janggal kali ini adalah Sang Pemimpin tak mau berada berduaan dalam satu ruangan dengannya. Padahal sebelum ini, meskipun tidak sering, tapi dia pernah beberapa kali berada dalam satu ruangan dengan Sang Pemimpin ketika dia mengobatinya dulu.
Tak ada kejadian apapun saat itu, dia hanya mengobatinya saja. Sang Pemimpin pun tak ada bercerita tentang larangan ini-itu.
Tapi entah kenapa, sekarang pemimpin sepertinya sudah jauh berubah.
Sebetulnya Kinarpun ikut senang dengan perubahan itu. Hanya saja dia belum terbiasa. Makanya terasa kikuk dan agak memalukan karena beberapa kali melakukan kesalahan.
Tak berselang lama, Sang Pemimpin keluar dari rumah dengan membawa nampan yang berisi cangkir dari ruas bambu dan beberapa potong labu, nangka, dan sepiring besar ubi rebus yang masih hangat. Di sampingnya ada parutan kelapa yang dicampur dengan sedikit garam.
Perut Kinar langsung melilit melihat ubi rebus hangat yang mengepulkan asap itu. Alangkah nikmat dimakan dengan cara dicecah ke dalam kelapa parut itu. Dia baru teringat bahwa sejak tadi siang dia belum makan apa-apa.
"Kamu belum makan 'kan? Ayok kita habiskan sama-sama. Ini tadi direbus oleh Rojak dan kawan-kawannya. Mungkin kebanyakan, makanya tak dihabisin. Lumayan, cukup untuk makan malam kita berdua." ajak Sang Pemimpin sambil tertawa.
Sambil mengucapkan kata Bismillah dengan keras Sang Pemimpin langsung mengambil sepotong ubi rebus, mencecahnya ke parutan kelapa, dan memasukkannya ke mulut.
Setengah potong ubi rebus hangat itu langsung pindah ke dalam mulutnya. Dikunyah dengan tercungap-cungap karena mungkin ubinya masih terlalu panas.
Kinar tersenyum melihat tingkah konyol Sang Pemimpin. Namun Sang Pemimpin tak peduli itu. Dia terus saja mengunyah dengan tercungap-cungap. Kedua pipinya sampai gembul karena mulutnya diisi terlalu penuh.

0 Comments