Sepeninggal Alif dan Nobus, Kinar cepat-cepat membawa ikan ke dapur dan meletakkannya ke dalam wadah yang diisi air, agar ikannya tidak mati. Dia ingin menyiangi dan memasakkannya nanti. Saat ini dia tak ingin berada di rumah sendirian dan menangis. Dia ingin punya teman untuk diajak bercerita, atau setidaknya dia ingin duduk bersama seseorang untuk mengalihkan pikirannya dari membayangkan yang tidak-tidak.
Kinar langsung mandi dan berpakaian sepantasnya. Lalu berdandan dan berhias seadanya, seperti hari-hari biasa. Dia ingin semua rutinitas ini cepat selesai dan segera pergi menemui seseorang.
Namun, tiba-tiba dia berhenti, terdiam, dan berpikir. Dalam keadaan seperti ini siapakah orang yang ingin dia temui? Orang yang tak banyak tanya, orang yang tak merasa janggal karena dikunjunginya tiba-tiba, orang yang bisa menerimanya untuk duduk di sampingnya sambil melihatnya melakukan pekerjaan.
Meskipun semua orang akan sangat senang menyambut kedatangan Kinar ke rumahnya, tapi kali ini Kinar benar-benar tidak bisa memilih salah satu orang yang paling tepat untuk dikunjungi. Karena selama ini dia lebih suka berada di rumah saja seharian melakukan pekerjaan rumah dan berberes, bersih-bersih. Selama ini jika dia melakukan kunjungan ke salah satu rumah warga pastilah karena diminta untuk datang mengobati seseorang atau karena suatu urusan lain. Bukan untuk ngobrol dan beranjangsana.
Lama dia duduk terdiam memikirkannya.
Ke rumah Ipul? Tidak mungkin. Ipul adalah orang yang paling tidak tepat untuk ditemui saat ini.
Ke rumah Laila, janda cantik di ujung sana? Bukan. Karena dia tidak begitu akrab, meski sering bertegur sapa.
Ke rumah Enab, sipengayam tikar pandan? Juga bukan. Dia terlalu sibuk untuk bisa diajak ngobrol.
Ke rumah Rabat, Sihol, atau Rojak? Tidak. Mereka takkan punya waktu untuk diajak cerita.
Ke rumah Korak Jambul?....
Ya.... beliau adalah orang yang paling tepat dikunjungi saat ini. Meskipun dia adalah orang yang paling disegani dan bahkan ditakuti, tapi dia adalah orang yang tak akan mengajukan pertanyaan heran jika dia tiba-tiba datang berkunjung. Selain itu, beliau adalah orang yang pernah kenal dengan Kakek Saleh, orang yang saat ini ditemui Alif.
Tanpa pikir lebih panjang Kinar langsung bergegas ke rumah pemimpin untuk berbagi cerita, curhat, diomeli, atau bahkan hanya duduk diam saja melihatnya bekerja.
Sesampainya di depan pintu rumah pemimpin Kinar berdiri sejenak, ragu-ragu untuk mengucapkan salam. Pintu itu terbuka lebar seperti biasanya. Namun tidak ada terdengar suara orang dari dalam. Sunyi senyap.
Ternyata Kinar berdiri cukup lama di luar. Sampai seseorang datang berdiri di depan pintu menatapnya.
Kinar gelagapan melihat orang tersebut tiba-tiba telah berdiri di sana.
"Rojak, koq kamu di sini?", tanya Kinar terkejut. Tapi suaranya sangat pelan seperti berbisik.
"Lhoo.. kamu sendiri ngapain di situ?"
"Ohhh anu, apa..., itu... anu.."
"Mau ketemu pemimpin?"
"Hmm... Iya. Ada?"
"Ada. Tapi dia lagi ke belakang. Katanya mau wudhu. Ayo masuk!"
Kinar berdiri saja mematung. Ada rasa ragu dan segan masuk ke rumah itu, karena tidak ada perempuan di dalam. Lagipula tak ada alasan mendesak untuk segera bertemu dengan pemimpin. Dia ke sini hanya melarikan diri dari rumah yang kosong dan hati yang kosong. Butuh duduk dengan seseorang menghabiskan waktu.
Sang pemimpin sudah selesai berwudhu. Ketika mau masuk ke kamar samar-samar dia mencium aroma wangi yang sangat dikenalnya. Sambil tersenyum dia berseru, "Masuk Kinar.."
"Iya..", jawab Kinar dari luar. Namun tetap tak bergerak dari tempatnya berdiri.
Setelah beberapa saat ditunggu tamunya tak juga masuk, Sang Pemimpin melangkah ke pintu depan. Dia tahu gadis itu segan masuk karena tak ada perempuan di dalam.
Dilihatnya gadis cantik itu berdiri di sana. Pakaian yang dipakainya sore ini cantik sekali. Bukan pakaian baru, tapi sangat pas di pakai pada tubuh tinggi semampai itu. Sempurna.
Dengan agak keras Sang Pemimpin berucap, "Rojak, Sihol, Rabat, apa kalian tak melihat tamu saya tak mau masuk karena kalian masih di sini?"
Kinar terkejut karena ternyata di dalam sana Sihol dan Rabat juga ada. Untunglah dia tidak melangkah masuk tadi. Karena akan sangat kikuk berada dalam satu ruangan bersama dengan para lelaki itu.
Rojak, Sihol, dan Rabat tau diri. Mereka segera berdiri dan pamit.

0 Comments