Sebelum melangkah Alif menyempatkan diri berpesan kepada orang-orang jahat itu, "Ingat, jangan buat jahat lagi!".
Lalu mereka berempat beranjak dari tempat itu, berjalan ke arah Kinar dan Rojak.
Ipul menyuruh Rabat untuk tetap melaksanakan tugas jaga malam. Sedangkan Rojak akan diganti oleh Sihol, yang masih berada di rumah.
"Ayo kita pulang. Sudah hampir larut." ajak sang pemimpin kepada mereka semua, kecuali Rabat.
"Hati-hati ya Bat." ucap Ipul kepada kawannya.
"Yo!" jawab Rabat singkat sambil berjalan menuju pondok jaga, di atas pohon.
Lalu mereka semua beranjak pulang. Melangkah diantara semak-semak yang tinggi, di dalam gelapnya malam, tanpa obor. Hanya naluri yang mejadi bekal penunjuk arah.
Semuanya melangkah dengan diam. Ratap burung pungguk di sana masih setia menemani, menjadi senandung ngeri setiap malam.
***
"Lif, boleh saya bertanya satu hal?" ucap sang pemimpin memecah kesunyian.
"Haah, heeh, hmmm.. ya!" jawab Alif tergagap karena terkejut.
"Tadi kelihatannya kamu bisa mengalahkan mereka dengan sangat mudah. Tapi, mengapa waktu malam itu mereka bisa merobek pahamu cukup parah?" tanya sang pemimpin sambil terus berjalan.
"Oohh itu.. He he... itu karena saya bodoh, Mbah." jawab Alif tak jelas.
"Bodoh bagaimana?" kejar sang pemimpin makin penasaran.
"Hmm... begini, malam itu mereka meneror sebuah keluarga. Berbuat jahat kepada keluarga itu, mengambil barang-barangnya, dan membakar rumah mereka. Kebetulan saya sedang berada di dekat situ. Jadi, saya datang ingin menolong. Saya selamatkan bayi mereka yang terkurung di dalam rumah yang sedang terbakar. Jadi, malam itu saya berkelahi sambil menggendong bayi."
"Waktu saya keluar dari dalam rumah, saya lihat, mereka sedang mengacungkan pedang mau memancung kepala ibu si bayi. Terpaksa saya bertindak kasar. Saya bunuh tiga orang teman mereka itu. Tapi karena jumlah mereka terlalu ramai, saya jadi kewalahan. Saat sedang berkelahi itulah salah satu pedang mereka merobek paha saya."
"Hmmm... terus, Ibu si bayi dan keluargnya yang lain selamat?"
"Setelah saya terluka, saya serahkan bayi itu kepada ibunya, dan menyuruhnya lari sejauh mungkin. Mudah-mudahan mereka selamat."
"Ayah si bayi dan yang lainnya gimana?"
"Ayah si bayi saya lihat sudah mati bersimbah darah di dalam rumah. Sedangkan keluarga yang lain saya tak tau."
"Lalu bagaimana kau bisa selamat dari mereka?"
"Setelah menyuruh si ibu lari, saya terus berkelahi dengan mereka sambil mencari kesempatan untuk melarikan diri juga."
"Terus, mengapa kamu memilih lari ke hutan ini?"
"Saya kan panik, Mbah. Saya tak tau arah dituju. Rupanya saya sampai ke sni."
"Untung malam itu aku tak jadi mematahkan lututmu. Hehehe...."
"Hehehe... syukurlah, alhamdulillah. Tapi, malam itu saya menang lho, Mbah."
"Alahh.. itu karena diobatin Kinar. Kalau tidak, sudah pincang seumur hidup kakimu kubuat."
"Hahahaha..."
Mereka tertawa bersama mengingat kejadian malam itu. Malam yang menjadi momen perubahan besar dalam perjalanan hidup sang pemimpin.

0 Comments