Kali ini Kinar mengambilnya dan menyimpan dibalik bajunya.
"Nanti kalau orang itu udah siuman Puan Putri jangan ngamuk-ngamuk lagi ya. Percayakan saja pada kami. Insya Allah dia tak akan berani menyentuh Puan." ucap Alif dengan lembut.
"Iya." jawab Puan Putri pendek. Hatinya mulai luluh.
Alif lalu berdiri sambil tersenyum. Lalu dia melihat ke arah Rojak dan berpesan.
"Jak, jaga Puan Putri di sini ya. Kalau dia mau pulang segera antarkan." ucap Alif.
"Siap, Tuan!' balas Rojak sambil tersenyum.
Dia menganggap bahwa percakapan mereka hanya bercanda. Panggilan Puan Putri itu hanya Gombal untuk menenangkan hati Kinar.
"Maafkan saya, tadi saya betul-betul terbawa emosi. Mudah-mudahan tak akan terjadi lagi." ucap Kinar lirih.
Alif melihat ke arah Kinar. Dia tahu bahwa gadis itu tak akan berbohong. Alif lalu bergegas kembali ke tempat sang pemimpin.
Sesampainya ditempat itu Alif lalu menyuruh anak buah Kubai untuk membangunkan ketuanya dan dua teman lainnya yang masih pingsan.
Setelah semuanya sadar, lalu Alif berkata, "Kubai, masih kenal dengan saya?"
"Nggrrrhh..." jawab kubai seperti orang ngorok. Mungkin tenggorokan dan mulutnya dipenuhi darah.
"Baiklah, dengarkan baik-baik. Ini Korak jambul, pemimpin hutan ini. Dia ingin mengatakan sesuatu."
Lalu Alif memberikan isyarat kepada sang pemimpin untuk bicara.
"Kubai, saya Korak jambul, pemimpin di hutan ini. Saya tak mengenal kalian, tapi saya dengar kalian adalah orang jahat. Meskipun begitu, saya menjamin, kami akan mengobati luka kalian sampai sembuh. Tapi kalian harus menjadi tahanan kami. Setelah sembuh, kami persilakan kalian memilih, mau tetap tinggal atau pergi."
"Jika kalian mau tetap tinggal, maka kalian harus tunduk pada aturan yang berlaku. Kalian tidak bisa keluar masuk hutan semau kalian. Karena kami inigin kampung kami aman dan damai."
"Jika kalian memilih untuk pergi, maka pergilah. Jangan pernah datang ke sini lagi. Jangan pernah ceritakan apapun, kepada siapapun, tentang kami di sini. Dan saya pesan kan, jadilah orang baik. Jangan lagi berbuat onar. Sadarlah, hidup takkan lama." ucap sang pemimpin.
Sebelum Kubai menjawab Alif cepat-cepat menambahkan.
"Kalau kami dengar ada berita bahwa kalian bikin ulah di desa manapun, maka saya akan keluar hutan dan pergi mencari kalian, sampai ketemu. Dan, kalian akan merasakan hal yang lebih buruk dari ini." ucap Alif sambil mengancam.
Lalu mereka semua terdiam, hening. Menunggu jawaban dari Kubai.
Tanpa pikir panjang Kubai langsung memberi isyarat kepada anak buahnya untuk segera beranjak dari tempat itu, dan pulang ke kampung, Selat Gantang.
"Baiklah, nampaknya kalian memilih untuk pergi. Kami persilakan. Tapi sekali lagi saya ingatkan, jangan pernah ceritakan apapun, kepada siapapun, tentang kami di sini. Dan, jangan pernah datang ke sini lagi, kecuali kau memiliki niat baik kepada kami." ucap sang pemimpin menutup pembicaraan.
Semua anggota Serak Jantan menunduk mendengarkan ucapan sang pemimpin dengan seksama. Seumur hidup, baru kali ini mereka merasa tak berdaya. Padahal, biasanya merekalah yang berkuasa dan berbuat semaunya. Memenggal kepala orang bagi mereka sama mudahnya seperti memotong pohon pisang. Tapi, malam ini, mereka betul-betul merasa dilumpuhkan.
"Ayo... kita pulang." ajak sang pemimpin kepada Alif, Ipul, dan Rabat.

0 Comments