Bab 7 (2) - Kabut Kelam Masa Lalu Kinar

"Alhamdulillaaah... bagaimana Jak, udah sembuh?" tanya Alif sambil tersenyum. 

"Udah, udah baikan. Terima kasih banyak Kinar." jawab Rojak sekaligus mengucapkan terima kasih. 

Kinar diam tak mejawab. Dia senang bisa mengobati orang yang telah berjuang demi melindungi hutan tempat dia dan orang-orang yang dikenalnya tinggal. 

"Ipul, Rabat, ayo kita kumpulkan anggota kelompok Kubai." ajak Alif kepada kedua temannya. 

"Saya juga ikut!" ucap sang pemimpin. 

"Saya juga!" ucap Rojak.

"Kamu di sini aja Jak, jagain Kinar. Nanti dia nangis lagi." ucap Alif mencegah.

Kinar memungut ranting kecil dan melemparnya ke kaki Alif. 

Alif mengelak sambil tersenyum. Lalu dia beranjak mencari anggota Serak Jantan. Diikuti Ipul, Rabat, dan sang pemimpin.

Semua anggota kelompok itu diletakkan di dekat tubuh Kubai yang masih pingsan. Masing-masing masih merasa naning dan tak berdaya. Bahkan, dua orang yang terhempas ke pohon tadi keadaannya cukup parah. Dari hidungnya ada bekas darah yang mengucur. Mereka berduapun masih dalam keadaan pingsan. 

Sang pemimpin lalu mencabut belati yang menancap di pangkal lengan kiri Kubai. Lalu diusapnya bilah pisau itu ke celana Kubai untuk membersihkan darahnya. 

"Alif, kembalikan belati ini kepada Kinar. Lalu, jika dia berkenan, mintalah untuk mengobati orang-orang ini." bisik sang pemimpin sambil menyerahkan belati kecil itu ke tangan Alif. 

Alif mengambil belati kecil itu dan langsung berjalan ke arah Kinar.

Melihat Alif berjalan ke arahnya Kinar tahu bahwa dia akan diminta mengobati orang-orang jahat itu. Dia langsung berkata tak sudi.

"Jangan minta saya mengobati orang-orang jahat itu. Saya tak kan pernah sudi. Mereka orang-orang jahat yang telah menghancurkan hidup bunda. Hingga saya pun terlantar tinggal di hutan ini." ucap Kinar dengan keras.

Penolakan Kinar itu didengar dengan sangat jelas oleh semua orang yang ada di situ. 

Semua orang tak paham apa maksud perkataan Kinar. Tapi, pastilah orang-orang itu telah berbuat sangat jahat kepada Kinar dan keluarganya, hingga gadis baik itu tak sudi mengobatinya. Hal yang selama ini belum pernah dia lakukan, bahkan kepada seorang yang terkenal sangat jahat sekalipun.

Alif tetap berjalan mendekati Kinar. Walaupun dia sudah tak berniat untuk membujuknya lagi. Dia hanya ingin mengembalikan belati kecil itu.

"Ini simpan kembali, jangan sampai hilang. Nanti susah kalau ada orang jahat." ucap Alif sambil menyerahkan belati kecil itu kepada Kinar. 

Kinar diam mematung. Dia ingin memastikan bahwa Alif tidak membujuknya untuk mengobati orang-orang itu. 

"Mau ga ni? Kalau tidak saya yang simpan!" ucap Alif agak memaksa.

Kinar tetap diam tak mengulurkan tangan untuk mengambil belati itu.

Alif lalu berjongkok di depan Kinar ditatapnya wajah gadis itu lekat-lekat. 

"Puan Putri masih mau di sini atau segera pulang?" ucap Alif mengubah suasana.

Mata Kinar membulat mendengar ucapan itu. Tapi dia tak menjawab. 

"Malam sudah sangat larut. Apa Puan Putri masih mau di sini atau segera pulang?" ucap Alif mengulangi.

"Di sini aja." jawab Puan Putri akhirnya bersuara. 

"Baiklah kalau begitu. Ini belatinya, simpan. Jangan sampai hilang." ucap Alif kembali menyerahkan belati itu sekali lagi.

Post a Comment

0 Comments