Cukup lama Kinar menangis malam ini. Isak tangisnya sungguh menyayat hati. Namun, tak seorangpun yang tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Mereka yang selama ini mengenal Kinar sebagai seorang gadis pemalu yang selalu bertutur kata santun dan berlaku lembut, terkejut melihat sisi lain yang ditunjukkan Kinar malam ini. Pasti ada kejadian besar dibalik semua ini.
Mereka semua duduk menunggu Kinar menyelasaikan tangisnya. Sedangkan Rojak yang dari tadi menahan senak di dadanya, kini sudah pingsan tak sadarkan diri. Syukurlah, karena itu lebih baik baginya daripada terus menerus menahan sakit.
Disela isak tangisnya Kinar terus menyebut kalimat, "Bunda... maafkan Kinar bunda, maafkan Kinar."
Tak seorangpun yang paham mengapa Kinar mengucapkan kalimat itu berulang-ulang.
Setelah ditunggu cukup lama akhirnya Kinarpun berhenti menangis. Lalu, dia menyeka air matanya yang telah membasahi pipinya. Sebagian air mata itu juga telah membasahi telapak tangannya dan baju sang pemimpin. Dia duduk membenahi diri dan merapikan rambutnya.
"Maafkan saya. Saya khilaf dan terbawa emosi." ucapnya dengan suara parau.
Lalu dia segera bersiap untuk melakukan pengobatan kepada Rojak.
"Bangunkan dia, dekatkan ke sini, dan suruh dia menghilangkan duri-durinya itu." ucapnya lagi kepada Ipul dan Rabat.
Ipul dan Rabat segera mengikuti instruksi Kinar. Diangkatnya tubuh Rojak mendekat, dan dibangunkan kawannya itu dengan menampar pipinya pelan-pelan dan memanggil namanya.
Setelah Rojak sadar, Kinar mulai bertanya kepadanya, "Bang, bagian mana yang harus diobati?"
Rojak belum bisa menjawab. Senak di dadanya masih membuat dia susah bernafas. Dia hanya menunjukkan ulu hatinya kepada Kinar.
Lalu Kinar memulai ritual pengobatan.
Diusapkannya kedua belah tapak tangannya kanan-kiri beberapa kali, hingga telapak tangan itu terasa hangat. Lalu ditempelkan telapak tangan kanannya di atas baju Rojak, tepat diatas ulu hatinya.
Ada hawa hangat yang mengalir lewat sentuhan tangan itu masuk ke tubuh Rojak menujuk ke ulu hatinya. Inilah jurus yang disebut Mengurai Sulam Kusut. Jurus yang paling sering dipakai Kinar untuk mengobati orang patah tulang, pening kepala, luka dalam, masuk angin, senak ulu hati, keseleo, dan salah urat.
Diulanginya lagi sebanyak dua kali pengobatan itu, sehingga Rojak betul-betul merasakan tubuhnya kembali normal.
"Ada lagi bagian lain, Bang?" tanya Kinar selanjutnya.
Rojak mengulurkan kedua lengannya yang serasa patah tulang.
"Kayaknya kedua lenganku ini patah tulang." ucap Rojak menahan kesakitan.
Kinar kemudian kembali melakukan ritual Mengurai Sulam Kusut.
Namun kali ini dia mengeluarkan sapu tangan dari dalam bajunya. Dibentangkannya sapu tangan sebesar satu jengkal persegi itu di atas lengan kanan Rojak. Karena dia tidak ingin bersentuhan kulit dengan kulit secara langsung.
Dilakukannya tiga kali usapan di atas lengan kanan Rojak. Selanjutnya dia pindah ke lengan kiri, melakukan hal yang sama.
Kini Rojak betul-betul merasa sudah sembuh. Hanya saja dia merasa tubuhnya masih lemah, karena banyak kehilangan tenaga saat perkelahian tadi.

0 Comments