Dendam yang Belum Sempat Terbayar - 6

 

Alif pun maju beberapa langkah, menerima tantangan itu. Kinar menatapnya dengan sangat cemas.

"Alif... jangan ladeni." ucap Kinar dengan suara pelan.

"Tenang aja. Insya Allah tak kan terjadi apa-apa. Kamu mundurlah ke pohon sana." ucap Alif menenangkan Kinar dengan tersenyum.

Lalu dia juga berucap kepada teman-teman yang lain, "Mundurlah, jangan ada yang ikut membantu. Ini masalah saya dengan mereka. Kalian tak perlu ikut campur."

"Jangan ada yang bergerak. Kita tetap di sini! Mereka sudah berani masuk hutan ini, berarti ini juga masalah kita semua." ucap sang pemimpin.

"Baiklah kalau begitu, jaga diri kalian. Jangan sampai terluka." ucap Alif tak bisa memaksa. "Ipul, Rabat, nanti kalau kami sudah mulai berkelahi, cepatlah kalian selamatkan Rojak." 

Melihat Kubai sudah berdiri di depan Alif, teman-temannya yang lain ikut menghampiri. Semuanya siap memasang kuda-kuda menyerang. Badik, kapak, dan keris di keluarkan dari sarungnya. Benda-benda tajam itu siap untuk ditancapkan ke tubuh Alif dan menumpahkan darahnya.

Alif tersenyum melihat kepada mereka. Tak terlihat sedikitpun rasa gentar menghadapi 6 orang sekaligus.

"Ada dua orang anggota baru nampaknya. Apa kalian yakin ingin ikut berkelahi? Jangan sampai pinggang kalian keseleo nanti." ucap Alif mengingatkan sambil mengolok-olok kedua anggota baru kelompok itu. 

"Jangan banyak cakap! Cepatlah mulai." ucap salah seorang anggota baru itu.

"Baiklah. Bismillah, silakan!" ucap Alif memasang jurus bertahan, Memecah Badai Timur. Tombak pendeknya ditancapkan ke tanah. 

Jurus Memecah Badai Timur ini dipelajari Alif langsung dari kakeknya, Nurbas bin Salam. Jurus ini memanfaatkan kekuatan alam sekitar. Dengan menarik semua kekuatan itu pada kedua belah tangannya, lalu dengan hentakan keras dia akan melepaskan semua kekuatan yang terkumpul itu. 

Jarang sekali Alif menggunakan jurus ini. Karena efeknya sangat dahsyat. Kekuatan dorongan sentrifugal yang dihasilkan akan membuat semua benda terpelanting beberapa meter.  

"Bantaaiii.." ucap Kubai kepada semua anggotanya. 

Dengan kekuatan penuh dan teriakan dahsyat kelima anak buah Kubai melakukan serangan dengan senjata-senjata tajam mereka. Dua orang diantaranya malah melompat beberapa meter ke atas, mengincar kepala Alif. 

Jelas sekali mereka tak ingin berlama-lama dengan perkelahian ini. Mereka ingin segera membunuh orang yang telah menghilangkan nyawa ketiga orang temannya. Oleh karena itulah, mereka langsung menggunakan jurus andalan mereka masing-masing. 

Bagi orang kebanyakan, serangan sedahsyat ini tentu saja akan sangat sulit untuk dielak atau ditangkis. Karena, selain mengandalkan kecepatan mereka juga menggunakan kekuatan dalam menyerang. 

Tapi Alif bukanlah ksatria kampung yang mudah dilumpuhkan. Dia bahkan bisa membunuh kelima orang itu dengan sekali hantaman, jika dia mau. Tapi dia tak menginginkan itu. Dia hanya ingin agar urusannya dengan orang-orang ini selesai tanpa membunuh satu nyawa sekalipun. 

Dengan teriakan Bismillah Alif melepaskan semua kekuatan yang telah berkumpul dikedua tangannya. 

Whuuzzzsshh...

Sebuah gelombang dorong yang amat dahsyat menghantam semua orang yang menyerangnya hingga terpental tak tentu arah. Dua orang diantaranya terhempas ke pohon kayu. Sedangkan tiga orang yang lain terpental cukup jauh. Semua senjata yang mereka pegang terlepas entah kemana. Rumput-rumput tumbang, daun-daun kering beterbangan. 

Saking kerasnya gelombang kekuatan itu rambut Kinar dan baju orang-orang yang berdiri jauh di belakangnyapun ikut berkibar. Ipul dan Rabat sampai pucat mukanya melihat kekuatan itu.

(Bersambung)


Sebelumnya      Selanjutnya 

Post a Comment

0 Comments