Bab 7 (5) - Kabut Kelam Masa Lalu Kinar

Kinar yang berjalan di barisan belakang mendengarkan dengan seksama semua percakapan mereka. Hatinya senang karena telah menolong orang yang tepat. Orang yang terluka karena menyelamatkan nyawa orang lain. Lebih-lebih lagi orang itu sekarang berlaku sangat baik kepadanya. 

Bagi Kinar, tak ada yang lebih menyenangkan daripada menolong orang yang suka membantu orang lain. 

Mereka tiba di persimpangan jalan untuk menuju ke rumah masing-masing. Sebelum pulang sang pemimpin memberikan komando.

"Pul, panggillah Sihol untuk menggantikan Rojak. Alif, antarlah Kinar sampai ke rumah. Yang lain, pulanglah ke rumah masing-masing."

"Baik", ucap Ipul dan Alif hampir bersamaan. 

"Kalau begitu, saya pulang dulu. Assalamualaikum!" ucap sang pemimpin.

"Walaikumsalam warahmatullah." ucap Alif dan Kinar bersamaan. 

"Hehehe... alhamdulillah, sekarang anak gadisku sudah pandai menjawab salam." ucap sang pemimpin sambil melangkah. 

Lalu mereka berpisah, melangkah ke tujuan masing-masing. Hilang dalam gelapnya malam. 

Setelah semua orang menjauh dan hilang, Alif berkata kepada Kinar dengan suara yang sangat pelan, hampir terdengar seperti berbisik.

"Puan Putri, tungu bentar. Kayaknya kakiku digigit lipan." 

"Haahh... serius?" ucap Kinar kaget, juga dengan suara sangat pelan. 

"Iya, ini lihat!"

Alif mengangkat kaki celananya hingga ke betis. Terlihatlah mata kakinya sudah bengkak memerah sebesar telur puyuh.

"Koq kamu diam aja dari tadi?"

"Yaaa.. malu lah. Masa, berkelahi kuat, tapi digigit lipan aja ribut."

"Hihihi...."

"Lho, koq ketawa? Diobatin donk!"

"Aahh.. udah capek ngobatin orang malam ini. Tahan aja. 'Kan cuma digigit lipan."

"Ihh...."

Alif menatap Kinar lekat-lekat. 

"Alaaahh... cuma bengkak dikit aja. Masa ga kuat? Berkelahi lawan 6 orang kamu kuat."

"Iya, tapi ini 'kan pedih."

"Hihihi.. tahan aja!" 

"Ihh... serius ga mau ngobatin?" tanya Alif dengan wajah sangat serius. 

Dia lalu duduk di tanah, diangkatnya kaki celananya lebih tinggi. Didekatkan muncungnya ke bengkak itu, dengan maksud untuk meludahinya. Karena dia tahu, obat paling mujarab sebagai pertolongan pertama untuk segala sengatan dan gigitan binatang adalah air liur orang itu sendiri.

"Lho.. kamu mau ngapain?" tanya Kinar melihat Alif mendekatkan muncungnya.

"Mau diludahin."

"Ihh.. jorok! Ya udah, sini aku obatin. Digigit lipan aja rewel." 

"Pedih.. tahu!"

"Hihihi... ternyata, Alif Ba Ta yang hebat itu bisa nangis kalau digigit lipan." ejek Kinar.

Alif tak menjawab. Mulutnya meringis menahan pedih. Sakitnya sudah mulai menjalar hingga ke pangkal betis. 

Kinar berjalan beberapa langkah menuju ke pinggir parit. Lalu dia berjongkok di sana. 

Alif melihatnya dengan heran.

"Kamu mau ngapain di situ."

"Nyari tanah liat." jawab Kinar

"Bisa lihat?"

"Ga, gelap."

Alif lalu mengusap-usap besi tombaknya beberapa kali. Lalu dibacanya kalimat bismillah dengan lembut. Setelah itu ditiupnya besi itu dengan satu tiupan panjang.

Huuuuffft...

Besi tombak itupun terbakar menyala, membelah gelapnya malam.

(Bersambung)


Sebelumnya      Selanjutnya 

Post a Comment

0 Comments