Bab 7 (6) - Kabut Kelam Masa Lalu Kinar


Kinar terkejut melihat kejadian itu. Diam-diam dia semakin kagum dengan pemuda yang sedang digigit lipan itu. Apa sih yang tidak bisa kamu lakukan? Ucap bathinnya memuji.

"Pakai ini." ucap Alif dengan suara agak keras.

"Udah, udah dapat! Ga butuh banyak koq, cuma secuil aja udah cukup."

Kinar lalu melangkah kembali ke arah Alif. Dilumat-lumatkan tanah liat sebesar jempol tangan itu sambil membuat bentuknya menjadi pipih. Setelah itu, ditempelkan ke bengkak bekas gigitan lipan di mata kaki Alif.

Ditekannya pelan-pelan tanah liat itu dengan jempal kanannya. Dibiarkan agak lama untuk menarik racun bisa yang telah menyebar di dalam darah. Pengobatan ini yang disebut dengan Menarik Benang Hitam.

Ada hawa hangat yang menarik racun bisa itu berkumpul ke tanah liat yang ditempel. Semakin lama semakin hilang pedihnya. Semakin hilang, semakin hilang. Hingga tak bersisa sama sekali. Tapi bengkaknya tak berkurang sedikitpun. Tetap sebesar telur puyuh. 

"Masih pedih?" tanya Kinar.

"Udah hilang."

"Ya udah, kalau gitu."

"Tapi bengkak ini gimana?" tanya Alif risau. 

"Ga tau caranya. Cuma racunnya aja yang bisa diangkat. Kalau ngilangin bengkak, ga tau caranya. Tunggu aja 3 hari, nanti akan kempes sendiri."

"Serius?"

"Sumpah!"

"Ya udahlah kalau gitu. Gimana lagi, yang penting pedihnya udah hilang. Alhamdulillah."

Alif lalu berdiri dengan bantuan tombaknya. Kinar juga ikut berdiri. 

"Terima kasih ya Puan Putri. Mari saya antarkan Puan pulang." ucap Alif sambil membungkuk memberi hormat. 

"Hehh.." jawab Kinar menirukan gaya orang sombong. 

Lalu mereka melanjutkan perjalanan dengan diterangi obor dari tombak Alif. 

Sebenarnya Alif tetap merasa risih berjalan berdua berdampingan dengan Kinar. Dia lebih suka Kinar berjalan mengikutinya di belakang. Karena itulah poisisi yang tepat. Tapi dia tak tahu cara menjelaskannya kepada gadis itu agar dia paham. 

"Tadi kenapa sih kamu nangis-nangis mau menusuk Kubai?" tanya Alif ketika mereka sudah mulai berjalan beberapa langkah. 

"Hahh... " Kinar terkejut. 

Dia tak menyangka Alif akan menanyakan tentang itu. Dia betul-betul sedang tidak ingin membahas kisah hidupnya malam ini. Dia sudah capek. Bathinnya lelah karena berjumpa dengan orang yang telah menghancurkan hubungan keluarganya. 

"Bisa ga bahas yang lain aja? Aku tak ingin membahas tentang orang-orang jahat itu malam ini." jawab Kinar mengelak. 

"Ohh.. ya udah, maaf. Cuma penasaran aja lihat kamu kayak tadi."

"Lain kali aja aku ceritain. Malas kali membahas orang itu malam ini."

"Baik Puan!" ucap Alif sambil membungkuk meminta maaf.

Kinar tersenyum melihatnya.

(Bersambung)


Sebelumnya      Selanjutnya 

Post a Comment

0 Comments