Bab 7 (7) - Kabut Kelam Masa Lalu Kinar

"Kapan saya bisa menunaikan janji mengajak Puan menangkap Ikan?"

"Serius?" tanya Kinar reflek. Langkahnya langsung berhenti.

Alif jadi bingung melihat perubahan Kinar yang mendadak. Langkahnya pun ikut terhenti.

"Serius mau ngajak nangkap ikan? Kebetulan Ikan di rumah sudah habis sejak kemaren." ucap Kinar dengan mata bulatnya yang berbinar. 

"Mau diajak nangkap ikan atau berburu babi?' tanya Alif berseloroh.

"Hahahaha... " 

Kinar tak mampu menahan tawa. Akhirnya terlepas juga tawa besarnya. 

"Memangnya kamu mau makan daging babi?" tanya Kinar disela tawanya.

"Kalau kamu yang masakin mungkin aku mau kuahnya." ucap Alif masih berseloroh.

"Nanti aku masakin gulai daging babi asap pakai kuah yang banyak." 

"Memangnya kamu bisa?"

"Ya bisalah... Gampang!"

Alif ternyum mendengar jawaban Kinar. Dia tak bisa membayangkan rasa kuah gulai daging babi asap masakan Kinar. 

"Benar ya?!" ucap Alif seolah serius.

"Kamu juga, benaran ya?!" balas Kinar.

Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Kinar

Entah mengapa, jika berjalan bersama Kinar cepat sekali sampai ke tujuan. Padahal Alif masih ingin berjalan sejauh itu lagi. 

"Haaaahh... alhamdulillah, akhirnya sampai juga dengan selamat." ucap Alif sambil menghentikan langkahnya. 

"Masuk dulu dong, minum kojak dingin." ajak Kinar.

"Hahaha..."

Kali ini giliran Alif yang tertawa, seperti dipaksakan. 

Suasana hening sejenak. Alif lalu mengangkat obornya tinggi-tinggi. Melihat berkeliling dengan waspada.

"Nyari apa?" tanya Kinar dengan wajah  serius.

"Siapa tahu Nobus dan kawan-kawannya jadi harimau lagi malam ini." jawab Alif, juga dengan wajah serius. 

"Hahahaha..." 

Sekali lagi Kinar tak bisa menahan tawanya. Pupus sudah image perempuan elegannya malam ini. 

Alif tersenyum senang melihat gadis pujaannya bisa tertawa lepas. Mudah-mudahan dengan begitu dia bisa melupakan sejenak kejadian sedih yang baru saja dialaminya karena berjumpa dengan orang yang sangat dibencinya.

Setelah tawanya reda, lalu Kinar diam sejenak. Alif pun tak ingin mengucapkan perpisahan terlebih dahulu.

"Terima kasih ya udah diantarin pulang sampai ke rumah." ucap Kinar.

"Heeh.." ucap Alif singkat. 

Lalu hening sejenak. 

Wajah Kinar berubah jadi serius.

"Alif, terima kasih ya, udah memberikan pelajaran kepada orang jahat itu. Orang itu betul-betul sudah berbuat jahat kepada kami. Dia yang sudah membuat keluarga kami cerai-berai. Hingga ayah terpaksa meninggalkan saya di hutan ini bersama Nobus dan kawan-kawan." 

Kinar menarik nafas sejenak.

"Tapi untunglah saya tak kesampaian membalasnya dengan perbuatan jahat juga. Tadi saya betul-betul kehilangan akal."

Alif tetap diam mematung mendengarkan dengan seksama.

"Mudah-mudahan setelah malam ini orang itu berubah menjadi orang baik. Kasihan orang-orang kampung jika dia terus berbuat jahat." ucap Kinar menutup curahan hatinya. 

"Mudah-mudahan, mudah-mudahan, insya Allah." ucap Alif juga berharap.

"Ya udah, kalau begitu, aku masuk dulu ya." ucap Kinar pamit.

"Silakan Puan. Saya tunggu di sini sampai Puan menutup pintu."

"Jadi, kapan kita pergi berburu babi?" tanya Kinar lagi memastikan.

"Ga jadi, kita pergi mencari labu aja." ucap Alif. 

"Ihh... gimana sih? Ya terserah. Kapan?" tanya Kinar meminta kepastian. 

"Kapan Puan Putri ada waktu?"

"Hmmm... besok siang, selepas tengah hari, bisa?"

"Baik Puan, laksanakan. Besok siang, selepas tengah hari, kalau begitu."

"Janji ya?"

"Insya Allah."

"Ya udah... Assalamualaikum!" ucap Kinar memberi salam.

"Waalaikumsalam." jawab Alif

"Jawab lengkap kenapa?" ucap Kinar memaksa sambil tersenyum. 

"Waalaikumsalam." ulang Alif sekali lagi, tetap dengan jawaban pendek. 

"Ihh.. pelit!" ucap Kinar sambil melangkah menuju rumah. Aroma wangi tubuhnya menyebar hingga ke semak-semak. 

Alif tetap berdiri menunggu hingga Puan Putri menutup pintu. 

(Bersambung)


Sebelumnya      Selanjutnya

Post a Comment

0 Comments