Setelah warga hutan Teraploban pulang, para begundal-begundal Serak Jantan sibuk mengurus diri masing-masing. Mengusap-usap bagian tubuh yang memar, bengkak, dan patah. Ada kekhawatiran yang menggelayut, bagaimana caranya mereka berjalan pulang ke kampung Selat Gantang sedangkan untuk berdiri sajapun susah. Apalagi Kubai, yang tulang kering kaki kanannya telah patah tebu.
"Bai, mari kita pulang." ucap salah seorang dari mereka.
"Kalian pulanglah dahulu, nanti aku susul. Aku mau istirahat di sini sekejap." jawab Kubai dengan suara parau.
"Kenapa Bai, kau tak sanggup berjalan?"
"Aku rasa seluruh tubuhku remuk. Dari kepala sampai kaki, tulang-tulangku patah semua."
Diam sejenak, tak ada yang bersuara untuk menyampaikan ide bagaimana untuk segera sampai ke kampung.
"Aku rasa dia bukanlah pemuda yang kita kenal malam itu. Malam ini dia jauh lebih kuat dan lebih hebat. Dia bukanlah tandingan kita." ucap Kubai mulai meyesali.
"Aku juga heran, bagaimana luka di pahanya sudah sembuh total. Padahal luka-luka di tubuh kita belum kering." salah seorang memimpali.
"Seharusnya kita tak datang ke sini malam ini."
"Sudahlah, jangan menyesali perbuatan yang sudah kita lakukan. Sekarang pikirkan saja bagaimana caranya kita pergi dari tempat jahanam ini."
Mereka kembali diam, buntu. Tak tahu bagaimana caranya untuk pulang bersama-sama.
"Kalian pulanglah dulu. Aku masih belum bisa berdiri." ucap Kubai menyuruh anak buahnya.
"Begini saja Bai, kalau kau mau, kami akan memanggul tubuhmu sama-sama. Yang penting kita segera sampai ke kampung."
"Apa kalian kuat?"
"Kita coba dulu. Aku tak mau kita tidur di sini malam ini."
"Terserah kalian. Tapi jangan sampai terjatuh. Aku sudah tak kuat menahan sakit patah tulang ini."
Lalu mereka berusaha bersama-sama memanggul tubuh Kubai yang tambun ke atas bahu masing-masing dengan susah payah. Padahal tubuh mereka sendiripun masih sempoyongan. Kepala terasa masih naning. Sedangkan jalan yang akan di tempuh sangat jauh.
Meskipun terseok-seok dan berhenti berkali-kali, tapi dengan niat yang kuat akhirnya mereka sampai juga ke kampung Selat Gantang. Rambut dan baju mereka sudah basah oleh keringat dan embun.
Malam sudah memasuki waktu sepertiga yang akhir.
Mereka langsung menuju ke rumah Kubai, yang tak lain adalah markas mereka.
Di dalam rumah itu terbaring empat orang yang memakai celana pendek. Di kaki masing-masing keempat orang itu terlihat param (obat patah tulang) yang membebat betis. Nampaknya, cedera yang mereka alami pada malam nahas kemaren itu masih belum sembuh. Itulah sebabnya mereka tak ikut ke hutan Teraploban malam ini.
Sekarang, semua anggota kelompok itu mengalami cedera parah. Bengkak, memar, patah tulang, luka dalam, dan luka luar. Mereka betul-betul menjadi orang yang tak berdaya malam ini. Seandainya saja ada orang kampung yang tak memiliki ilmu beladiri masuk ke rumah itu dengan sebilah parang panjang dan bermaksud untuk memenggal kepala mereka satu persatu, maka pastilah orang itu akan pulang dengan membawa 11 kepala malam ini.
***
Matahari pagi muncul di ufuk timur, menumpahkan cahaya hangatnya bagi seluruh makhluk di bumi. Hari baru sudah dimulai. Kicau burung bersahut-sahutan di atas dahan. Warga kampung sudah mulai hilir mudik menuju ke tempat mereka menjemput rezeki. Ke ladang, ke kebun, ke sungai, ke laut, dan ke pasar.
Pagi yang penuh harapan. Badan segar untuk memulai aktivitas, sedangkan waktu yang terbentang masih sangat panjang. Matahari yang cerah dan angin yang bertiup sepoi-sepoi seolah saling bekerjasama memberikan kesempatan bagi semua makhluk untuk menjemput rezeki masing-masing.

0 Comments