Sementara itu di rumah Kubai, semua orang masih berbaring di tempat tidur. Meskipun sebenarnya tak seorangpun diantara mereka yang bisa tidur. Erangan dan rintihan menjadi alunan pengganti dengkur. Belum ada yang bangun untuk duduk, mandi, ataupun buang air.
"Jonas, pergilah ke kedai Nora, beli ubi. Lalu tolong kau rebus untuk sarapan kita pagi ini. Ambil uangnya di dapur, tempat biasa." ucap Kubai memberi perntah.
"Baik ketua." ucap Jonas langsung duduk.
"Dan kau, Jukir, tolong kau jerang air dan buatkan kopi untuk kita semua."
"Baik ketua." ucap Jukir, juga langsung duduk.
Mereka berdua lalu pergi ke pelantar untuk berkumur dan mencuci muka. Lalu melaksanakan perintah yang telah dibebankan oleh Kubai. Sementara anggota lainnya masih terbaring di tempat tidur.
Jukir langsung terlihat sibuk di dapur menjerang air dan mencuci cangkir bambu. Kayu api disusun bersilang-silang di bawah tungku, agar api yang menyala tak gampang padam. Setelah itu, diletakkan kendi yang penuh berisi air di atas tungku. Sambil menunggu air mendidik dia menyiapkan kopi dan gula.
Sedangkan Jonas langsung pergi ke kedai Nora, bermaksud membeli ubi untuk direbus sebagai sarapan.
Sesampainya di kedai Nora Jonas melihat sudah ramai orang yang datang untuk berbelanja. Lelaki perempuan, tua muda, sibuk memilih barang yang ingin di beli. Ikan, sayur, ubi, beras, gula, kopi, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya ada di sana. Nora, suami, dan anak-anaknya sibuk membantu para pembeli. Mengambilkan barang yang diminta, menimbang, menyukat, membungkus, dan menerima pembayaran.
Semua orang boleh berbelanja di sini. Orang Melayu, Jawa, Minang, Batak, Bugis, orang baik, orang jahat, semua boleh berbelanja, asalkan ada uang atau barang yang akan dibarter. Selama masih berada di kedai, Nora menjamin semua pelanggan tersebut aman. Karena Nora memperkerjakan beberapa orang tukang pukul yang tegap-tegap badannya.
Jonas langsung bergabung dengan para pelanggan yang sedang berebut itu. Memilih ubi-ubi yang besar dan segar.
Beberapa pelanggan ada yang mengenal Jonas, sebagai anggota baru kelompok Serak Jantan. Mereka membencinya, dan ingin sekali mencelakainya. Tapi, selama dikedai, tak ada yang berani berbuat macam-macam. Takut dipelupuh oleh penjaga-penjaga yang sedang duduk-duduk di bawah pohon itu.
Dari sekian banyak pelanggan itu, ada satu orang tua yang tidak ikut sibuk memilih barang untuk dibeli. Dia hanya berdiri saja. Seperti melihat orang-orang yang sibuk berbelanja. Kelihatannya dia datang ke kedai itu hanya untuk menemani keluarganya berbelanja, atau mungkin juga dia adalah seseorang yang sedang mencari informasi. Karena, memang kedai Nora adalah tempat semua informasi tersebar dengan cepat. Bukan hanya informasi tentang kejadian di kampung Selat Gantang saja, bahkan informasi yang datang dari desa-desa yang jauh pun bisa didapatkan di sini.
Semua orang berkumpul di sini, dan masing-masing mereka berebut menjadi orang pertama yang menyampaikan berita terbaru. Entah itu berita benar atau hanya sekedar kabar burung belaka.
Si kakek terus berdiri dengan memegang tongkatnya. Menikmati kesibukan orang-orang yang sedang sibuk berbelanja. Senyum tulus dan wajah cerahnya mampu mengalihkan pandangan agar tak memperhatikan kopiah dan baju lusuh yang dipakainya.
Karena si kakek terlalu lama berdiri tanpa melakukan apapun, salah seorang penjaga yang duduk di bawah pohon datang menyapanya untuk memberi bantuan.
"Kakek, cari apa? Ada yang bisa saya bantu?"
"Hehehe... Alhamdulillah, akhirnya ada juga orang yang bisa dijadikan tempat bertanya. Saya Atuk Saleh. Sebenarnya kedua mata saya tidak bisa melihat. Saya ini buta. Saya sedang menunggu seseorang."
"Oooh... menunggu siapa, Tuk?" tanya si penjaga berikutnya.
Dia melihat lebih fokus ke mata kakek yang memang terlihat agak aneh, meskipun melek, tapi kedua mata itu terlihat kosong.
"Pemuda bernama Alif. Biasanya dia pakai baju putih dan membawa tombak pendek. Dia bukan orang kampung sini."
Jonas yang sedang sibuk memilih ubi langsung kaget mendengar si kakek menyebut nama Alif, orang yang telah mempermalukan mereka tadi malam. Namun dia masih tetap diam, tak menunjukkan respon apapun pada si kakek. Hanya saja kini matanya menjadi berpindah-pindah antara fokus melihat ubi dan juga tak berhenti melirik si kakek.

0 Comments