Bab 8 (3) - Kakek Lejen Di Kedai Nora


"Maafkan saya Tuk, saya tak kenal anak muda yang bernama Alif seperti yang kakek sebutkan itu. Tapi, tunggu sebentar, coba saya tanya pada kawan-kawan yang sedang di duduk di bawah pohon itu." kata si penjaga. Lalu dia melangkah ke tempat kawan-kawannya duduk.

Beberapa saat kemudian, semua kawannya menoleh ke arah kakek. Namun, tak satupun dari mereka yang menunjukkan ekspresi bahwa mereka tahu keberadaan pemuda yang bernama Alif. 

Si penjaga lalu melangkah mendekati kakek kembali. 

"Mereka juga tak ada yang tahu, Tuk."

"Baiklah nak, terima kasih. Entah kemana anak nakal itu sembunyi. Sudah terlalu jauh dia pergi bermain"

Si kakek terdiam dan tertegun. Wajahnya agak kecewa meski tetap tersenyum.

"Tapi Nak, bolehkah atuk tetap di sini sebentar, atuk belum tau nak pergi kemana selepas ini."

"Boleh Tuk, silakan." Jawab si penjaga, lalu beranjak meninggalkan kakek berdiri sendirian. 

Jonas yang dari tadi memperhatikan percakapan mereka kini sudah selesai memilih ubi yang akan dibelinya. Ubi-ubi itu dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa yang di buat seperti sebuah keranjang kecil. Kini dia beranjak mendekati Nora, si pemilik kedai untuk membayar belanjaannya. 

Setelah membayar, Jonas lalu bergegas pulang untuk menyampaikan berita besar itu kepada kawan-kawannya di markas. 

Begitu sampai, Jonas tergesa-gesa masuk ke rumah, dan langsung berdiri di depan teman-teman yang masih terbaring kesakitan. 

"Kawan-kawan, tadi di kedai Nora ada seorang kakek yang sedang mencari Alif. Kelihatannya si kakek ini adalah keluarganya. Tapi tak seorangpun di sana yang tahu keberadaan si Alif. Kini si kakek masih di sana untuk berisitirahat. Dia belum tahu mau menuju ke mana, katanya", ucap Jonas dengan dafas ngos-ngosan karena terlalu buru-buru.

Semua kawan-kawannya yang masih tidur-tidur ayam langsung terbangun dan membalikkan badan ke arah Jonas. Beberapa di antara mereka bahkan langsung duduk. 

"Kau tau siapa nama kakek itu?" tanya Kubai.

"Aku dengar tadi dia menyebutkan namanya Atuk Saleh." jawab Jonas.

"Haa... Atuk Saleh?!" Kubai terperanjat besar. Wajahnya langsung tegang dan pucat. 

Seandainya tangan dan kakinya tak patah mungkin dia sudah langsung melompat berdiri dan berlari sekencang mungkin ke kedai Nora untuk bertemu dengan kakek masyhur itu. 

"Apakah dia memakai baju putih dengan 3 kantong di depan, kopiah hitam, dan tongkat bambu setinggi dada?" tanya kubai lagi.

"Iya!" jawab Jonas singkat

"Lalu kanapa tak kau ajak dia kemari?" tanya Kubai dengan nada tinggi. 

"Untuk apa aku ajak kemari. Mau cari mati?" jawab Jonas terkejut dan bingung. "Kalau dia tau kita semua ini dipelasah oleh orang yang dicarinya, terus apa yang harus kita jelaskan?"

Kubai langsung terdiam. Dalam benaknya berpikir, betul juga si Jonas. Kalau seandainya kakek itu tahu tadi malam dia dan kawan-kawannya bermaksud membunuh Alif, apa kata kakek itu nanti. Bisa jadi dia mengamuk dan memenggal kepala mereka satu persatu. 

"Beberapa dari kalian mungkin belum kenal siapa kakek itu. Tapi, dalam dunia ilmu bela diri beliau sangat disegani. Beliau adalah pemilik jurus Menolak Bala Rumpak, yang terkenal dahsyat itu. Sampai saat ini belum ada seorangpun yang mampu menembus jurus itu. Nama kakek itu adalah Kakek Saleh Rumpak." 

Semua orang jadi tegang dan pucat mukanya mendengar penjelasan Kubai. Meski mereka belum pernah bertemu langsung, kecuali Jonas, tapi mereka sudah lama mendengar dahsyatnya jurus itu. Semua orang tau hebatnya jurus itu, yang katanya tak bisa ditembus oleh kekuatan pisik apapun.

Post a Comment

0 Comments