Bab 8 (4) - Kakek Lejen Di Kedai Nora

 

"Kalau begitu, begini saja, Jonas, kau kembali lagi ke kedai, cari tau kemana kakek itu akan pergi, dan di mana dia menginap sementara ini. Dan, jangan lupa, kenapa beliau mencari si jahanam, Alif ba ta itu. Apa hubungan mereka." perintah Kubai kepada Jonas.

"Baik ketua!" ucap Jonas, dan langsung balik arah, kembali ke kedai. 

"Dan kau, Kompot, kau bisa berdiri kan? Kau gantikan tugas Jonas, rebus ubi-ubi itu untuk sarapan!"

"Baik Ketua!" jawab Kompot, langsung bangun dan bergerak ke dapur.

Jonas berjalan sangat cepat kembali ke kedai Nora. Sekarang sedikit-banyak dia sudah tau siapa sebenarnya kakek itu. Orang hebat yang disegani.

Sebagian hatinya menyuruhnya untuk langsung memperkenalkan diri kepada si kakek jika bertemu nanti di kedai. Siapa tahu si kakek mau menerimanya sebagai murid, dan mengajarkan beberapa jurus hebat. Tentu saja itu adalah hal yang diharap-harapkan. 

Sempat terpikir di dalam benaknya, seandainya si kakek mau menerimanya sebagai murid, tentunya dia tak akan menjadi anggota Serak Jantan lagi. Dengan serta merta dia akan mencabut keanggotaannya. Bahkan tanpa pemberitahuan. Dia akan keluar saat itu juga. 

Di dalam hatinya, sebetulnya dia sudah muak melakukan kejahatan, merampok, membunuh, dan melukai orang-orang. Dia sedih selalu dibenci oleh orang-orang kampung. Pandangan mereka bagaikan pedang yang terus-menerus mengiris jantungnya. Dia ingin orang-orang kampung menerimanya sebagai seorang tetangga yang baik. Dia juga sesekali ingin menolong mereka mengangkat barang-barang jika ada yang pindah rumah. Atau, membelah kayu dan menjerang air jika ada orang kampung yang mengadakan pesta pernikahan. 

Pendek kata, dia ingin menjadi orang baik kembali. Punya rumah sendiri. Dan, siapa tahu, sebelum meninggal dia masih sempat punya keluarga; seorang istri dan beberapa orang anak. 

Tapi sebagian hatinya juga mengatakan jangan sampai si kakek kenal dirinya nanti, terutama saat ini. Karena tadi malam dia dan teman-teman berusaha membunuh orang yang dicari si kakek. Seandainya si kakek dan Alif Ba Ta punya hubungan darah, tentulah beliau sangat murka. 

Dalam kebimbangan itu, akhirnya Jonas sampai ke kedai Nora. 

Seperti tadi, dia langsung masuk ke kedai dan memilih beberapa barang, meski tak bermaksud untuk membelinya. Bahkan matanya tak fokus pada serai dan daun salam yang dipegangnya. Mata itu melirik liar ke sana ke mari mencari sosok si kakek berbaju putih, berkopiah hitam, dan memgang tongkat bambu setinggi dada. Namun, kakek itu sudah tak ada lagi berdiri di sana. Bahkan beliau sudah tak ada lagi di manapun dia melihat. 

Dilihatnya lagi, berulang-ulang, semua orang yang ada di sana satu-persatu. Tapi memang si kakek sudah tidak ada lagi di situ. 

Ada sedikit rasa kecewa di hati karena tidak melihat orang yang dicari.

Pelan-pelan Jonas melangkah ke bawah pohon, tempat para penjaga sedang duduk-duduk. 

Seorang penjaga menoleh dan bertanya, "Cari siapa?"

"Anuu, kakek yang pakai tongkat, baju putih tadi kemana ya Bang?"

"Ada urusan apa kau tanya?"

"Ga Bang, kawanku katanya kenal sama si kakek itu."

"Kalau kenal kenapa tak kau ajak dia ke rumahmu tadi!"

"Tadi aku tak tau kalau kawanku kenal Bang. Setelah aku ceritakan baru dia bilang bahwa dia kenal kakek itu."

"Mana kawanmu itu?"

"Di rumah Bang, masih tidur dia."

"Kau ajaklah kawan kau itu ke kampung Sepocong, kata si kakek itu tadi dia mau ke kampung Sepocong. Kalau kalian cepat-cepat mungkin masih bisa ketemu beliau."

"Ooo... begitu ya Bang. Terima kasih Bang."

"Hmm..."

Jonas langsung pulang. Tak sanggup dia lama-lama berada di situ. Takut dia sama para penjaga-penjaga yang badannya tegap-tegap itu. Mata mereka persis seperti mata singa lapar melihat anak rusa. Seandainya bukan di area kedai Nora, mungkin dia sudah dipelupuh ramai-ramai sampai patah tulang. 

Meskipun tulang-tulangnya terasa masih bergemeratakan tapi dipaksakannya juga untuk berlari. Dia ingin segera berambus dari tempat itu tanpa celaka dan sampai di markas sesegera mungkin.

***

Post a Comment

0 Comments