Sementara itu, Kakek Saleh terus melangkah ke arah utara menuju Kampung Sepocong. Kedua kakinya yang telah renta itu terlihat sangat rapuh untuk berjalan jauh. Badannya yang telah bungkuk itu juga menyiratkan bahwa seharusnya dia tetap berada di rumah saja. Tapi entah mengapa jalannya begitu cepat. Padahal langkahnya sangat lambat dan kecil-kecil. Tapi dia bisa melaju seperti seekor jerapah yang memiliki kaki yang panjang-panjang.
Kampung-kampung kecil dilewatinya tanpa singgah ataupun beristirahat. Hutan, kebun, dan ladang dilewatinya seperti hanya dengan beberapa langkah saja. Tubuh renta berbalut baju putih itu seperti melaju bersama angin yang bertiup sepoi-sepoi.
Biasanya pedagang antar desa membutuhkan waktu setengah hari untuk berjalan dari Kampung Selat Gantang ke Sepocong. Namun, si kakek mampu menempuhnya lebih cepat daripada menunggu gasing yang berhenti berputar.
Entah ilmu apa yang dimiliki si kakek hingga bisa berjalan secepat itu. Dia tidak terbang, tidak juga melayang. Dia berjalan seperti orang kebanyakan. Bahkan langkahnyapun terlihat kecil-kecil dan lambat. Tapi bisa melaju sedemikian cepat.
Sesampainya di Kampung Sepocong si kakek langsung mencari tempat orang-orang berkumpul. Sebuah kedai kopi kecil dipinggir pasar yang sedang sepi.
Dia berdiri di depan kedai kopi tersebut sambil mendengar, menyimak, dan merasakan orang-orang yang berlalu-lalang, keluar-masuk.
Di antara para pelanggan yang sedang minum kopi di sana, di meja paling sudut, terlihat Nobus dan Julak sedang asik menikmati kopi panasnya. Kehadiran si kakek sama sekali tidak menarik perhatiannya. Karena memang hampir tiap saat ada saja orang baru yang datang ke sini untuk beristirahat dan minum kopi.
"Julak, kau taukan, sekarang Puan Putri sudah ada yang jaga? Bahkan dia jauh lebih kuat dari kita semua." ucap Nobus membuka percakapan.
"Iya. Terus?"
"Berarti Puan Putri sekarang sudah aman dong."
"Iya. Terus?"
"Berarti sudah tak perlu lagi kita mengawalnya."
"Lalu kau mau apa?" tanya Julak makin penasaran.
"Berarti kita bisa meminta izin kepada Puan Putri untuk membebastugaskan kita semua untuk kembali ke istana."
"Haa... serius?!"
"Iya. Terus ngapain lagi kita di sini. Kalau di istana mungkin saja kita akan diberikan tugas lain oleh Yang Mulia."
"Tapi, kita di sini juga atas perintah Yang Mulia, Nobus."
"Iya iya, aku tahu. Tapi 'kan Puan Putri sudah ada yang jaga. Lalu, apalagi tugas kita di sini?"
"Tugas kita adalah ikut membantu orang yang menjaga Puan Putri."
"Ahh... pandai kalilah kau kalau becakap. Sebut saja bahwa kau senang tinggal di sini karena tugas yang kau jalankan tak berat. Sebut saja kau takut turun ke laut melawan perompak dan penyamun di laut itu."
"Itu juga betul. Di sini juga kita menjalankan tugas. Sesekali juga kita bertarung nyawa. Tak ingat kau malam itu kita semua hampir mati di bantai Alif Ba Ta?"

0 Comments