Dendam yang Belum Sempat Terbayar - 1

Seperti biasanya, dikala senja mulai turun, anggota kelompok Gopang berbagi tugas melakukan patroli hutan bergiliran. Tugas ini diamanahkan langsung oleh sang pemimpin kepada mereka berempat. Mereka harus menjaga agar kampung tetap aman dan tetap terisolir dari orang luar. Tidak ada yang boleh masuk, tidak boleh juga ada yang keluar, sebelum mendapat izin dari sang pemimpin. Aturan itu berlaku untuk manusia, dan juga hewan. Pendek kata, yang di luar tak boleh masuk, yang di dalam tak boleh keluar. 

Sang pemimpin tidak ingin hewan-hewan dari dalam hutan keluar pada malam hari mengganggu keamanan warga desa sekitar atau merusak ladang-ladang mereka. Begitu juga sebaliknya, dia tidak ingin ada warga desa sekitar atau ternaknya yang lalu-lalang keluar-masuk ke hutan Teraploban. Karena, rata-rata warga Teraploban adalah orang yang kurang suka dengan keramaian. Mereka punya kisah masa lalu yang ingin disimpan dari orang-orang luar. 

Hari ini yang mendapat tugas patroli adalah Rabat dan Rojak. Mereka harus menjaga bagian timur dan juga setengah bagian utara. Karena hanya kedua bagian itu yang berbatasan langsung dengan desa sekitar. Sedangkan bagian selatan, barat, dan setengah bagian utara lainnya berbatasan dengan hutan lebat yang tak terjamah. 

Sebenarnya tugas ini tidaklah begitu berat untuk dilaksanakan, karena selama ini jarang sekali ada warga desa sekitar yang berani mendekati hutan Teraploban, apalagi dimalam hari. Hal ini dikarenakan legenda seram yang terus diceritakan dari generasi ke generasi. Mereka lebih sering menjaga hewan-hewan saja agar tidak berkeliaran masuk atau keluar. 

Sebagai tempat untuk beristirahat, mereka sudah membuat sebuah pondok yang sangat sederhana. Letaknya di atas sebuah pohon. Lebih kurang 4 meter dari permukaan tanah. Pondok itu cukup dekat dengan perbatasan, tapi tidak terlihat dari luar hutan. Di situlah mereka banyak menghabiskan waktu dengan bercakap-cakap, minum kopi, atau tidur bergiliran. 

Malam ini bulan sabit kecil menempel di langit ditaburi dengan ribuan bintang. Sama saja seperti malam-malam yang lain, sepi dan dingin menyelimut semua makhluk yang ada di situ. Malam baru memasuki waktu sepertiga awal, masih sangat panjang menjelang fajar.

"Jak, seandainya istri dan anak-anakmu masih hidup, kira-kira siapa yang paling ingin kau temui malam ini?" tanya Rabat membuka percakapan.

"Semuanya lah. Pertanyaan macam apa itu!" jawab Rojak jengkel.

"Hehehe... Maksudku, kalau seandainya kau diberi kesempatan untuk bertemu dengan salah satu diantara mereka malam ini, siapa yang paling ingin kau temui?"

Rojak diam sejenak. Dia bingung untuk memilih. Dia berpikir keras. Dia sangat rindu dengan mereka semua

"Anak bungsuku, Midah. Karena aku belum sempat menghabiskan banyak waktu dengannya. Dia masih berumur 1 tahun lebih sedikit ketika peritiwa itu terjadi. Kalau dia masih hidup, berati sekarang dia sudah berumur 9 tahun." ucap Rojak dengan hati gundah. 

"Kau mau ngapain kalau ketemu dia?"

"Akan aku ajak dia bermain sampai aku puas melihat senyumnya. Akan aku penuhi semua keinginannya. Akan aku sediakan semua makanan yang ingin dia makan. Akan aku ajak dia berjalan ke tempat-tempat yang jauh, dan akan aku ajarkan padanya hal-hal yang belum dia ketahui."

"Kalau seandainya dia malah memilih untuk melakukan hal-hal yang kau inginkan, bagaiamana?" 

Rojak terdiam. Dia tak menduga mendapat pertanyaan sesulit itu. Pikirannya langsung membayangkan bagaimana anak bungsunya itu membantunya mengangkat kayu bakar dengan kedua tangannya yang masih kecil dan lemah. Atau Ikut membantunya menarik tali ketika dia menimba air. Air matanya langsung meleleh. 

"Kau ini kenapa, Bat? Mengapa kau ungkit-ungkit lagi cerita lalu?" tanya Rojak mulai tak nyaman.

"Aku rindu dengan keluargaku, Jak. Makanya aku juga ingin ada teman yang sama, rindu dengan keluarganya. Aku tak ingin rindu sendiri." jawab Rabat dengan wajah yang sudah mulai mengelam menahan air mata.

Mereka berduapun terdiam. Tenggelam dalam kenangan masa lalu masing-masing. Masa lalu yang keras dan sulit. 



Post a Comment

0 Comments