Dendam yang Belum Sempat Terbayar - 2

 

Seekor induk babi dan tujuh ekor anaknya mengendap-endap mau keluar dari hutan. Dia melangkah dengan sangat waspada. Setiap beberapa langkah dia selalu berhenti dan melongok untuk memastikan bahwa keadaan sekitar aman untuk dilalui.

Rabat mengambil sepotong kayu yang memang sudah disiapkan dipondok itu dengan maksud untuk dilemparkan ke semak-semak di depan si induk babi agar kembali masuk ke hutan. Namun niat itu terpaksa harus diurungkan, karena dia melihat ada gerakan lain tak seberapa jauh dari sana. 

Rabat berbisik kepada Rojak, "Jak, ada yang datang tu. kelihatannya ramai."

Rojak memutar badannya untuk ikut melihat. Benarnya saja, di bawah sana ada 7 orang berpakaian serba gelap berjalan mengendap-endap mendekati jalan masuk hutan Teraploban. 

Salah satu dari mereka melemparkan kayu kering ke arah induk babi dan anak-anaknya. Sontak membuat induk babi terkejut dan langsung putar arah, lari tunggang-langgang masuk kembali ke hutan diikuti anak-anaknya. 

Orang yang berjalan paling depan, dengan tubuh paling gemuk lalu memberikan isyarat untuk berhenti dengan tangannya. Mereka berhenti tepat di depan jalan satu-satunya untuk masuk ke hutan Teraploban. Ada keraguan untuk melanjutkan langkah. Mereka hanya melongok-longok saja melihat ke dalam hutan.

"Aku yakin luka di paha kirinya belum sembuh. Dia pasti masih di sini." ucap orang yang bertubuh tambun itu dengan suara serak sambil berbisik kepada teman-teman di belakangnya. Dia tak lain adalah Kubai Serak, pemimpin kelompok itu.

"Kalau dia masih hidup, kita harus menemukannya untuk dibunuh. Kalau dia sudah mati, kita harus menemukan mayatnya." ucap temanya yang lain. 

"Bagaimana kalau kita masuk saja ke dalam hutan kali ini? Kita 'kan ramai. Daripada kita terus membicarakannya tanpa ada kejelasan." ucap yang lainnya menimpali. 

Tak ada yang menjawab. Semuanya memandang ke arah orang yang baru saja berbicara. 

"Maksud saya, saya sudah muak membicarakan orang ini terus tiap hari. Lagipula saya ingin segera membalas sakit hati karena dia telah membunuh 3 orang teman kita." tambahnya lagi.

Mereka semua malah makin menatap orang itu dengan tatapan geram.

"Kau saja yang masuk sana kalau berani!" ucap temannya menantang dengan nada tinggi tapi dengan suara yang tetap pelan. 

"Iya! Nanti kalau sudah duapuluh langkah kau masuk dan masih selamat, berteriaklah, kami akan segera menyusul." ucap yang lain ikut menantang. 

Orang yang ditantang terdiam tak menjawab. Hatinya panas mendapat tantangan itu. Tapi dia juga ragu melangkah memasuki hutan. Siapa yang tak kenal angkernya hutan Teraploban.

Sementara itu Rabat dan Rojak turun pelan-pelan dari pondoknya. Bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. 

"Jak, kau tunggu di sini. Lihat mereka, jangan sampai mereka masuk. Kalau perlu kau takuti-takuti. Aku akan masuk sebentar memberi tahu Korak dan orang-orang kampung." ucap Rabat berbisik. 

"Pergilah. Tapi jangan lama-lama. Mereka sangat ramai." balas Rojak.

Rabat langsung bergegas masuk ke dalam hutan untuk memberitahu sang pemimpin dan beberapa warga lain untuk membantu menjaga hutan. 

Rojak yang tinggal di pos melangkah pelan-pelan di balik-balik kayu mendekati tepi hutan, mendekati kelompok pendatang itu.


Post a Comment

0 Comments