Dendam yang Belum Sempat Terbayar - 3

 

Sementara kelompok pendatang masih sibuk berdebat apa yang harus mereka lakukan untuk menemukan orang yang dicarinya. 

"Kubai, kalau kau berani masuk, maka kami semua akan ikut." ucap salah seorang memberi ide. 

"Kepala otak kau di dengkul! Mengapa aku yang kau suruh masuk! Kau aja yang masuk sana!" maki Kubai kepada temannya yang bicara barusan. 

"Kalau tak ada seorangpun yang berani masuk, lalu mengapa kita hanya mengendap-endap di sini? Mending kita pulang, atau minum kojak di warung Noura." balas orang yang dimaki. 

Kubai reflek menempeleng kepala orang yang baru saja berbicara dengan pukulan cukup keras, hingga kupluknya jatuh. 

"Sudah sudah! Biar aku yang masuk! Nanti kalau tak terjadi apa-apa aku akan memanggil kalian. Kita harus menemukan orang itu malam ini, apapun caranya. Jangan lagi kita hanya membicarakannya tiap hari." ucap orang yang tadi ditantang teman-temannya.

Meskipun hatinya sangat takut dan gentar, tapi dia tak suka diremehkan oleh teman-temannya sendiri. Dia lebih memilih bahaya daripada diejek. 

Pelan-pelan dia mulai melangkah mendekati bibir hutan. Teman-temannya melihat dengan penuh rasa cemas. 

Dia terus melangkah dengan perasaan ragu-ragu. Ada dorongan kuat menyuruhnya untuk balik lagi ke belakang. Tapi dia tak ingin menanggung malu dan diejek. Lagipula dia benar-benar sudah muak membicarakan si pemuda tiap kali bertemu. 

Satu langkah, dua langkah, hingga tiga langkah sudah dia masuk ke hutan Teraploban. Hatinya semakin cemas. Tiba-tiba terdengar suara angin menderu dan suara daun-daun seperti ditebas...

Srreeeek...!!

"Aaaaaaakh...!!" jerit orang itu histeris menahan sakit. 

Tangannya kirinya reflek memegang lehernya yang mulai mengucurkan darah. Sedangkan tangan kanannya reflek memegang dada kirinya, tepat di atas jantung yang juga mulai mengeluarkan darah.

Dua puluh lebih duri landak menancap hampir diseluruh tubuhnya. Mulai dari muka hingga pahanya. 

Orang itu langsung jatuh tertelentang di atas semak-semak sambil terus melolong-lolong menahan kesakitan. 

Enam orang yang berdiri di belakang, langsung reflek berhamburan menuju ke temannya yang menjerit melolong-lolong itu. Mereka belum tahu jin yang mana yang telah merasuki temannya. Namun, satu hal yang pasti mereka harus membantunya

Sesampainya mereka ke tempat temannya itu, hati mereka langsung kecut melihat keadaan temannya yang sudah bersimbah darah dengan sekujur tubuh dipenuhi dengan bulu landak.  Mereka tak tinggal diam, semuanya menyebar membentuk formasi melingkar, waspada terhadap serangan berikutnya sekaligus akan melancarkan serangan kepada makhluk yang telah melukai teman mereka. 

Kojak tetap diam bersembunyi dibalik semak-semak. Dia menyiapkan serangan kedua kepada orang yang tubuhnya paling gemuk. Semua duri ditubuhnya sudah mulai berdiri, siap untuk dilepaskan. Dialirkannya sedikit tenaga dalamnya ke tangan kanan. Setelah dirasakannya cukup, dia langsung membuat gerakan seperti meninju ke depan dengan tenaga penuh. Hampir 30 duri lepas dari tangannya melesat secepat kilat menuju sasaran.

Kembali terdengan bunyi angin menderu dan suara daun-daun seperti ditebas...

Srreeeek...!!


Post a Comment

0 Comments