Dendam yang Belum Sempat Terbayar - 4

Orang yang bertubuh tambun itu reflek mengelak ke kiri, selamat dari serangan maut. Tak satupun duri menempel ditubuhnya. Namun temannya yang berdiri beberapa langkah di belakang menjerit histeris. Beberapa duri tertancap dibahunya

Orang yang bertubuh tambun itu tak ingin makhluk yang barus saja melakukan serangan itu bebas. Dia langsung melompat ke arah datangnya serangan. Aneh bin ajaib, meskipun tubuhnya gemuk tapi gerakannya sangat lincah dan ringan. Dia bahkan bisa melangkah beberapa meter dengan sekali langkah.

Sekarang dia mendarat tepat di depan Rojak. Tangannya langsung menghantam ke kepala orang yang telah menyerangnya itu. 

Rojak menangkis dengan kedua tangannya yang dipenuhi dengan bulu-bulu landak, melindungi kepalanya agar tak pecah bersepai dari pukulan yang dilakukan dengan tenaga penuh itu. Saking kerasnya pukulan itu banyak bulu-bulu di tangan Rojak yang rontok berguguran. 

Menyadari pukulannya tak mengenai sasaran orang yang bertubuh gemuk itu langsung meninju dengan tangan kirinya ke ulu hati Rojak. Sama kuatnya dengan pukulan pertama, pukulan itu mampu merontokkkan beberapa bulu yang tumbuh di dadanya. 

Rojak tak bisa mengelak dari pukulan kedua itu. Dia juga tak bisa menggunakan tangannya untuk menangkis lagi. Karena kedua pergelangan tangannya terasa seperti patah tulang menangkis serangan pertama tadi.

Buukk...!!

Pukulan itu tepat bersarang di ulu hati Rojak, mematahkan beberapa tulang rusuk dan meremukkan dadanya. Rojak terhenyak menerima pukulan itu. Mulutnya tak mampu mengeluarkan suara. Bahkan untuk bernafaspun dia sudah tak sanggup lagi. Dia langsung jatuh tertelungkup. 

Orang yang bertubuh gemuk itu melangkah mendekatinya, dan meletakkan sebelah kakinya ke atas leher Rojak. Teman-temanya yang tadi berpencar ke segela penjuru sekarang berlari mendekati. 

Seseorang diantaranya dengan geram menginjak kepala Rojak dengan sangat keras. Dia adalah orang yang punggungnya tertancap beberapa bulu landak.

Rojak pasrah menerima semua perlakuan biadab itu. Dia tak sanggup lagi untuk membela diri. Dunia ini sudah terlihat menghitam, tanpa setetespun cahaya di matanya. 

Dua orang dari kelompok itu kemudian berjalan mendekat temannya yang terbaring dengan tubuh dipenuhi duri landak. Orang itu masih terus menjerit jerit menahan kesakitan. Kedua temannya berjongkok dengan maksud menolongnya. Pelan-pelan kedua orang itu mencabuti duri-duri landak yang menancap di tubuhnya satu persatu. 

Duri-duri itu bukan hanya menancap di tubuhnya dan bisa dicabut dengan gampang. Tapi duri-duri itu seperti ditusukkan dengan sangat kuat. Beberapa diantaranya bahkan ada yang terbenam hingga setengahnya

Setiap duri itu dicabut, orang itu terpekik sangat keras. Tubuhnya meronta dan mengejang menahan kesakitan. Darah mengucur dari lubang bekas duri itu tertancap. Kedua temannya memegang tubuhnya kuat-kuat agar tidak memberontok. 

Satu persatu duri-duri yang menancap di muka, perut, tangan, dan paha, mereka cabuti dengan menyentak. Darah terus mengucur dari setiap lubang itu. 

Sekarang hanya tinggal tersisa dua duri terakhir, yakni duri di atas jantung dan duri yang menancap di leher. Mereka berdua tak berani mencabutnya, khawatir tindakan itu akan berakibat fatal. Mereka terus memegang tubuh itu agar tidak memberontak. 

Post a Comment

0 Comments