Tepat setelah Nobus selesai bercerita Alif dan Ipul pun selesai mengikat atap rumbia. Lalu mereka berdua segera melangkah mendekati Nobus dan kawan-kawannya.
"Masih capek ya?" tanya Alif kepada Nobus sambil tersenyum.
"Sudah agak mendingan, Tuan." jawab Nobus.
Alif dan Ipul ikut duduk bergabung bersama mereka.
"Ayo diminum kopinya selagi hangat." ucap Kinar mempersilakan.
"Alhamdulillaah..., terima kasih Puan. Puan Putri udah minum?" ucap Alif menggoda.
"Ihhh.. apaan sih?"
Nobus dan kawan-kawannya tersenyum melihat Alif menggoda Puan Putrinya. Ipul juga ikut tersenyum, meskipun dia tak paham apa maksudnya itu. Yang dia tahu hanyalah Alif bercanda menggoda Kinar.
Mereka lalu minum kopi kurang manis buatan Puan Putri bersama-sama.
Setelah menghirup kopinya Alif melirik ke arah Nobus dan Julak sambil tersenyum. Nobus dan Julak pun tersenyum mengerti. Namun tak ada seorangpun yang berani buka suara.
Untunglah Kinar tak memperhatikan tingkah mereka.
"Aku juga mau lihat dong pelantarnya." ucap Kinar meminta izin.
"Boleh. Mari aku antar." ucap Alif sambil berdiri.
Lalu mereka berdua berjalan melihat pelantar yang baru selesai dikerjakan bersama-sama itu.
Alif membukakan pintu yang terbuat dari Atap rumbia agar Kinar bisa melihat bagian dalamnya.
Kinar melangkah ke dalam dengan rasa takjub.
"Waaauuww.... nyaman sekali. Bisa-bisa habis setengah hari kalau mandi di sini." ucap Kinar.
"Kalau mau numpang mandi, datang aja ke sini. Biar kami mandi ditempat lain." ucap Alif berseloroh.
"Hihihi.. bener ya!" Kinar ikut berseloroh.
"Benar Puan. Semua ini untuk Puan Putri jika berkenan." ucap Alif dengan jurus gombal receh.
Kinar tertawa kecil. Wajahnya berbinar, hatinya bahagia digoda dengan panggilan Puan Putri. Dia tidak menolak panggilan itu lagi.
"Mari kita lihat yang di sana." ajak Alif untuk melihat ceini barunya.
Mereka berduapun lalu melangkah ke sana.
Sama seperti tadi, Kinarpun takjub melihat ceini ini. Karena sepanjang pengetahuannya belum ada warga kampung yang membuat sehebat ini. Paling-paling hanya dibuat dari kayu yang disusun-susun dan lubang pembuangan yang dibikin tepat berada di bawahnya. Tapi yang ini dibuat dari tanah liat yang sangat rapi.
Di atasnya ada atap, agar tak basah ketika hujan. Lengkap dengan gantungan lampu jika mau buang hajat dimalam hari. Pada bagian depan, sebelah kanan, ada bak penampungan air yang cukup besar terbuat dari tanah liat yang juga sangat rapi.
Kinar tak henti-hentinya berdecak kagum melihat semua kemewahan itu. Belum pernah terpikirkan olehnya ada pelantar dan ceini semewah itu. Kebanyakan warga di sini membuat kedua itu dengan sangat sederhana. Tanpa atap dan tanpa bak penampungan. Dindingnyapun biasanya hanya pelepah-pelepah kelapa yang dipotong-potong lalu ditancapkan ke tanah. Tingginya hanya sampai ke dada atau leher. Jadi jika ingin mandi harus jongkok.
Tapi yang ini, tingginya jauh di atas kepala. Jadi, tak perlu khawatir takut diintip. Apalagi ada atapnya yang menutup bagian atas. Sungguh pelantar dan ceini yang sangat mewah yang pernah ada di kampung itu.
Setelah puas melihat-lihat merekapun melangkah kembali ke rumah.
Sepanjang jalan Kinar diam saja tak berbicara, karena masih takjub.
Diam-diam dia semakin kagum kepada Alif karena mampu merancang semua itu. Entah dari mana dia belajar semua itu. Namun, satu hal yang pasti bahwa Alif telah banyak membuat perubahan dan pengaruh baik untuk kampung ini. Padahal belum sampai sebulan dia tinggal di sini.
Orang-orang yang sebelumnya berpenampilan seram, kini mulai berpenampilan layaknya manusia normal. Warga yang sebelumnya hidup berkelompok-kelompok dan anti kelompok lain, kini mulai bisa menyatu. Warga yang biasanya suka mabuk karena minum kojak, sekarang setidaknya mereka segan melakukannya di depan Alif. Dan hari ini, kemampuan lain yang dia tunjukkan dalam bidang bangunan. Sungguh menakjubkan. Tentu saja itu sangat layak untuk dicontoh oleh semua warga di sini.
Alif, siapa kamu sebenarnya? Dari mana kamu berasal? Tanya Kinar di dalam hati.

0 Comments