Pelantar Mewah Ipul - 5

Sesampainya mereka di belakang ternyata Ipul sudah menunggu dengan kopi hangat dan singkong rebus senampan. Lalu dia mempersilakan tamu-tamunya untuk segera sarapan.

"Ayo mari, sarapan dulu. Saya sudah duluan tadi!"

"Mari kawan-kawan!" ucap Alif menimpali.

Namun, tak ada satupun yang bergerak memulai. Mereka hanya saling berpandangan. 

Akhirya Nobus buka Suara. "Maaf Tuan, sebenarnya kami sudah sarapan kenyang tadi di rumah sebelum ke sini."

Kinar dan Ipul melongo mendengar Nobus memanggil Alif dengan sebutan Tuan. Kinar semakin penasaran, ada kejadian apa sebenarnya antara Alif dan kelompok Nobus yang tidak dia ketahui. 

"Yang benar?" tanya Alif untuk memastikan.

"Benar, Tuan!"

"Alhamdulillah. Kalau begitu kita bisa mulai lebih cepat. Mudah-mudahan sebelum senja kita sudah selesai." ucap Alif lagi.

"Taruh barang-barang bawaan di sini. Ayo kita mulai berangkat mencari kayu dan nibung. Loman dan Julak tetap tinggal di sini menggali tanah untuk lubang pembuangan." ucap Alif membagi tugas. 

Lalu dia mengajak Loman melangkah ke tempat tanah yang harus digali. Dia juga menjelaskan seberapa dalam dan lebar lubang yang harus dibuat. 

Loman terlihat serius memperhatikan. Sesekali terlihat dia bertanya dan mengangguk tanda memahami.

Beberapa saat kemudian mereka balik lagi ke tempat Nobus dan kawan-kawan. Tanpa menunggu lebih lama semuanya langsung sepakat untuk segera berangkat mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. 

***

Senja mulai turun, pekerjaan mereka hampir rampung. Hanya tinggal mengikat atap rumbia ke dinding belakang kamar mandi. 

Untuk pekerjaan itu, tuan rumah, Alif dan Ipul yang merampungkannya. Nobus dan kawan-kawannya terlihat sudah sangat kelelahan. Mereka mohon untuk beristirahat. 

Meskipun kopi panas sudah disiapkan oleh Puan Putri tapi mereka sama sekali tak ada yang berani menyentuhnya. Kecuali jika disuguhkan.

Kinar tahu mereka segan untuk menuangkan kopi yang telah disiapkannya. Meskipun mereka semua adalah pengawalnya, namun dalam keadaan seperti ini tak ada salahnya sesekali menghidangkan kopi untuk mereka.  Lagipula mereka sudah bekerja keras seharian. 

Kinar lalu menuangkan kopi ke dalam cangkir-cangkir bambu itu dan mempersilakan mereka untuk minum. 

"Ayo Gobi, Loman, Julak, diminum kopinya!"

"Terima kasih Puan." ucap Gobi bangkit dari duduknya untuk mengambil kopi yang sudah dituangkan Puan Putri.

"Terima kasih Puan." ucap Loman mengikuti.

Lalu Julak, Nobus, dan semua anggota memberanikan diri mengambil kopi dengan mengucapkan terima kasih kepada Puan Putri.

Kinar melirik ke arah Alif yang masih sibuk mengikat atap rumbia bersama Ipul. Inilah saat yang paling tepat untuk bertanya kepada Nobus tentang apa sebenarnya yang telah terjadi antara mereka dengan Alif, pikirnya. 

"Nobus, sebenarnya ada apa sih antara kalian dengan Alif? Koq bisa kalian diajak untuk gotong-royong di sini hari ini? Terus, Koq kalian manggilnya Tuan? Coba jelasin!", ucap Kinar sangat pelan.

Sejenak Nobus melirik ke arah Alif yang masih bekerja. Lalu dengan bersemangat dia menceritakan semua kejadian yang telah mereka alami tadi malam setelah Puan Putri masuk ke rumah. Tak lupa dia juga menceritakan bagian lucunya, bahwa mereka semua bangga mendapatkan bengkak di pinggang masing-masing sebagai bukti bahwa mereka pernah berkelahi dengan Alif dan tetap masih hidup. 

Kinar cekikian mendengar cerita Nobus. Dia juga senang karena semua anggota kelompok itu hormat dan kagum kepada Alif, sama seperti dirinya. 

Post a Comment

0 Comments