Pelantar Mewah Ipul - 4


 Alif terus berjalan mendekati tempat mereka. Kinar memandang wajah Alif dengan penuh tanda tanya.

"Ehh.. ada Kinar juga, assalamualaikum!" ucap Alif menyapa setelah berdiri di samping Nobus.

"Walaikumsalam warrohmatullah!" jawab Kinar. 

Hatinya langsung luluh diucapkan salam oleh Alif. Wajahnya yang tadi penuh tanda tanya sekarang sudah mulai tersenyum.

"Saya yang meminta mereka datang ke seni untuk membantu. Sebab akan sangat capek kalau kami kerjakan hanya berdua saja."

Kinar diam saja. Dia ingin mendengarkan penjelasan lebih lanjut bagaimana dan kapan mereka membuat janji untuk ketemu di sini pagi ini.

Alif paham kenapa Kinar diam saja. Tapi dia tak mau bertele-tele menjelaskan sesuatu yang tak penting. 

"Jangan marah ya Puan Putri. Sekarang kami mau berangkat mancari kayu." ucap Alif menggoda sambil menundukkan kepala memberikan hormat.

Mata Kinar semakin bulat melihat Alif yang barusan memanggilnya Puan Putri. Ada rasa grogi dan girang sekaligus. Tapi sebagai perempuan yang elegan dia harus menyimpan perasaan itu. Padahal, sebetulnya dia ingin mendengarnya sekali lagi.

"Ayo kawan-kawan. Kita ke belakang. Letakkan barang-barang bawaan kalian di belakang. Setelah sarapan kita langsung berangkat." ucap Alif mengajak mereka semua. 

Merekapun bergerak menuju ke belakang.

"Tunggu!" ucap Puan Putri. 

Merekapun serentak semuanya berhenti. Termasuk Alif. Semuanya bingung mengapa disuruh berhenti.

Lalu Puan Putri berbisik kepada Julak, agak lama. 

"Haahh!" ucap Julak terkejut. 

"Baik Puan, akan saya titip di rumah Puan untuk sementara. Nanti sebelum pulang saya ambil lagi." sambung Julak berikutnya. 

Kinar mengangguk.

Julak dengan sigap mengambil bungkusan daging babi asap dari tangan Turam dan tempayan kecil berisi Kojak dari tangan Laku. Lalu dia bergegas pergi ke rumah Kinar untuk menitipkan kedua barang itu. 

Mereka semua heran kenapa barang-barang itu dibawa pergi. Termasuk Alif. 

Lalu Kinar memberi isyarat kepada Alif untuk melanjutkan.

Mereka semua lanjut berjalan ke belakang rumah. Kinar ikut juga. Karena dia bermaksud ingin membantu menyiapkan makanan selagi mereka bekerja membuat pelantar. 

Pelantar yang akan dibuat cukup luas, dilengkapi dengan bak penampung air dari tanah liat, lalu jemuran kain basahan di bagian belakangnya. Dinding dan atapnya akan dibuat dari atap rumbia sedangkan lantainya dari nibung tua. Kayu gelegar dan tiang-tiangnya akan dibuat dari kayu teras dan kayu leban. Alif sudah merancangnya dengan detail di dalam benaknya. 

Sekitar lima belas langkah dari pelantar itu akan dibangun ceini (WC/kakus) dengan bahan-bahan yang sama. Juga dilengkapi dengan bak penampung dari tanah liat.  

Butuh kerja keras dan waktu lebih kurang seminggu untuk menyelesaikan itu semua jika dikerjakan hanya berdua saja. Tapi dengan kekuatan 10 orang Insya Allah akan selesai dalam sehari. Apalagi ada Kinar yang membantu menyiapkan makanan dan minuman. 

Mereka terus berjalan menuju ke belakang rumah.

Post a Comment

0 Comments