Pelantar Mewah Ipul - 3

 

Setelah Alif agak jauh, barulah mereka berani menarik nafas panjang.

"Astagaaa... Ternyata dia adalah Alif Ba Ta, cucu Kakek Nurbas bin Salam, pemilik jurus Kepak Jibril Membelah Fajar." ucap Julak berseru.

"Untung dia orang baik. Kalau tidak, sekali pukul matilah kita semua." balas Laku.

"Kalau begitu, Puan Putri beruntung jadi teman baiknya. Ada orang yang akan menjaga keselamatannya. Kitapun tak perlu risau lagi." ucap yang lain. 

"Beruntungnya kita malam ini bisa kenal dengan Alif Ba Ta. Malah sempat berkelahi pula, dan tak mati. Hehehe..." 

"Hahahaahaha..." 

Mereka ketawa bersama dengan suara yang ditahan.

"Bengkak ini jadi bukti bahwa saya pernah berkelahi dengan Alif Ba Ta." ucap Buntal sambil mengusap pinggangnya. 

"Saya juga punya."

"Saya malah punya tiga."

"Saya dua."

"Hahahahaha..."

Mereka kembali ketawa bersama karena masing-masing punya bukti pernah berkelahi dengan Alif dan tetap masih hidup.

Setelah beberapa saat tertawa bersama mereka sepakat untuk beranjak pulang. 

"Jangan lupa, besok masing-masing harus bawa buah tangan. Sehabis sarapan kita semua sudah berkumpul di rumah Ipul. Jangan ada yang terlambat!" ucap Nobus mengingatkan. 

"Yaap... Siap! Saya bawa dua." ucap Cipo.

Lalu mereka hilang dalam pekatnya malam menuju ke kampung utara.

***

Pagi-pagi sekali Nobus dan kelompoknya sudah bergerak menuju rumah Ipul. Masing-masing membawa buah tangan. Ada yang membawa pisang setandan, labu, potongan daging babi yang telah diasap, singkong segoni kecil, dan tentu saja kojak. 

Mereka sangat bersemangat pagi ini karena akan membantu orang yang sangat dihormati. Semua berjalan dengan langkah tegap dan cepat. Mereka tak ingin terlambat. Kalau perlu, mereka ingin bekerja lebih dulu sebelum tuan rumah turun.

Sesampainya di tempat tujuan langkah mereka agak tertahan. Karena di sana telah hadir Puan Putri. 

Mereka saling berpandangan. Apakah tetap lanjut atau putar balik?

Mereka menghentikan langkah sejenak untuk bersepakat.

"Bagaimana ini? Nanti kita diusir Puan!" ucap Gobi.

"Tak mungkin kita balik lagi. Kita kan udah janji." ucap yang lain.

"Lagipula kita 'kan diminta tolong. bukan kita yang ingin main-main ke sini."

"Iya. Tapi 'kan Puan Putri tak tahu bahwa kita sudah janji."

"Kalau gitu kamu aja yang jalan ke sana, Julak. Jelasin sama Puan Putri. Kami tunggu di sini."

"Lho koq aku.. Kamu aja Nobus!"

"Tak berani aku. Nanti dia marah lagi kayak malam tadi."

Selagi mereka sibuk bersepakat, tiba-tiba terdengar Puan Putri berseru agak keras.

"Nobus, Julak! Koq ke sini? Ada apa?" 

Mereka terdiam dan saling berpandangan. Lalu dengan gerakan perlahan dan ragu-ragu mereka berjalan mendekati Puan Putri. 

"Selamat pagi Puan! Maafkan kami lancang datang ke sini. Sebenarnya kami ke sini ingin membantu Tuan Alif dan Ipul membuat pelantar." ucap Julak menjelaskan.

"Koq kalian tau Alif tinggal di sini?" tanya Puan Putri Heran.

Tiba-tiba dari samping rumah Alif berseru kepada mereka.

"Ehh... Nobus, Gobi, Loman. Udah sampai rupanya. Alhamdulillah. Bakal cepat selesai kerja kita hari ini nampaknya."


Post a Comment

0 Comments