Pelantar Mewah Ipul - 2

Mereka semua saling berpandangan, kebingungan. Tak ada yang tahu kapan tepatnya waktu itu.

"Ooohh maaf, saya salah. Selepas sarapan pagi." ucap Alif mengulangi. Dia tersenyum sendiri menyadari kekeliruannya. 

"Baik Tuan, kami akan datang ke rumah Ipul."

"Alhamdulillah, terima kasih!" ucap Alif senang.

"Maafkan kami Tuan kalau kami lancang. Kalau boleh tahu, nama Tuan ini siapa?" sekarang Loman yang bertanya. 

"Ooo ya maaf, lupa memperkenalkan diri. Saya Alif, Teman Kinar." 

Mereka semua langsung terperanjat mendengar nama itu. Mukanya pucat. Tak ada yang berani menatap ke wajah itu. Kepala mereka semakin tunduk memberikan takzim. 

"Alif Ba Ta, Tuan?" tanya Loman untuk memastikan.

"Iya." Jawab Alif. Wajahnya berubah menjadi serius. 

Dia heran, mengapa semua orang di kampung ini sudah sangat mengenalnya? Siapakah orang pertama yang membawa namanya hingga sampai ke dalam hutan terpencil ini? 

"Maafkan kami Tuan, kami layak mendapat hukuman berat!" ucap Nobus lirih dengan wajah yang semakin menunduk.

Alif tak menanggapi. 

Andang yang dipegangnya hanya menyisakan 3 helai daun terakhir. Api yang menyala sudah semakin kecil. 

Sebelum betul-betul padam Alif membuang andang itu ke tanah. Terhempas dan padam. Kini semua berubah menjadi gelap gulita. 

Meskipun gelap demikian pekat tapi tak seorangpun anggota kelompok Nobus berani bergerak, apalagi beranjak pergi diam-diam. Bahkan sekedar untuk menggaruk gigitan nyamukpun mereka tak berani. 

Alif mengusap-usap besi tombaknya beberapa kali. Lalu dibacanya kalimat bismillah dengan lembut. Setelah itu ditiupnya besi itu dengan satu tiupan panjang.

Huuuuffft...

Tiba-tiba besi itu terbakar menyala. Tidak terlalu besar, tapi cukup terang. 

Kelompok Nobus terkejut melihat keajaiban itu. Hati mereka semakin ciut dan gentar. 

"Angkatlah kepala kalian. Tak baik seorang manusia memberikan penghormatan berlebihan kepada manusia lain. Meskipun seorang raja." ucap Alif sambil memandang mereka yang menunduk takzim satu-persatu.

Tak ada yang berani mengangkat muka. 

"Angkatlah!" ucap Alif mengulangi.

Mereka masih saja menunduk takzim. Namun, pelan pelan Nobus memberanikan diri mengangkat wajahnya. Lalu diikuti oleh teman-teman lainnya. Tak seorangpun berani menatap si pemuda. 

"Tak ada yang harus kalian takutkan dari saya. Saya sama saja dengan warga yang lain, makan nasi dan minum air. Saya juga harus bekerja, sama seperti kalian."

Tak ada yang menjawab. Semua mendengarkan dengan seksama.

"Seandainya sempat, datanglah besok ke rumah Ipul sehabis Sarapan. Bawalah kapak, parang, atau cangkul. Kita bantu beliau membuat pelantar." ucap Alif lagi. 

Tetap tak ada yang menjawab. 

"Kalau begitu saya mau pulang dulu. Kalian pun segeralah pulang. Hati-hati di jalan."

"Baik Tuan. Hati-hati!" Nobus memberanikan diri bersuara.

"Assalamualaikum!" ucap Alif kepada mereka semua, lalu melangkah pergi.

Tak ada yang menjawab. Tak ada juga yang berani bergerak. Bahkan untuk menarik nafaspun mereka harus pelan-pelan. 

Mereka tetap berdiri mematung hingga Alif meninggalkan tempat itu.

Post a Comment

0 Comments