Pelantar Mewah Ipul - 1

Berangkat dari tempat kejadian, Nobus dan kelompoknya langsung bermaksud menuju ke kampung utara. Masing-masing masih merasakan sakit di pinggang karena dipukul beberapa kali dengan ulu tombak tadi. 

Setelah berjalan beberapa puluh langkah mereka sepakat untuk berhenti sejenak. Mengurut bagian pinggang masing-masing. 

Dari tempat mereka duduk, mereka masih bisa melihat Puan Putri dan pemuda itu bercakap-cakap. Wajah kedua sejoli itu terlihat cukup jelas dari tempat mereka duduk di terangi cahaya andang. Entah apa yang mereka bicarakan,. Tapi yang jelas, nampaknya Puan telah jatuh hati kepada pemuda itu. Senyum yang tak pernah lepas dari wajah itu, tingkah yang tersipu malu, dan gerak tubuh yang tak ingin jauh, menjadi isyarat yang sangat ketara.

"Nampaknya Puan sedang jatuh hati pada pemuda itu." ucap Nobus kepada teman-temannya. 

"Syukurlah. Sekarang kita tahu ada orang yang akan terus menjaganya. Jadi, kita tak perlu terlalu cemas lagi atas keselamatan Puan." ucap temannya yang lain. 

"Untunglah dia pemuda yang baik. Andai saja dia bertindak kejam kepada kita tadi, pastilah kita semua sudah mati." timpal yang lain.

"Kamu juga sih, langsung main serang aja tanpa selidik lebih dulu. Andai dia tak bisa bela diri, tentu sudah mati kita koyak-koyak tadi. Setelah itu, giliran kita yang mati dimurkai Puan Putri." 

"Tapi, ada yang agak aneh, tadi waktu Puan melihat kita, mengapa Puan tidak langsung mengusir kita? Dia malah membiarkan si pemuda menghadapi kita sendirian."

"Mungkin dia tahu bahwa si pemuda mampu mengalahkan kita dengan mudah. Dan Puan juga tahu bahwa si pemuda tak akan sampai hati membunuh kita."

"Berarti Puan Putri sudah kenal dekat dengan si pemuda. Sampai dia tahu semua kemampuannya."

"Lain kali kita kunjungi si pemuda itu untuk memperkenalkan diri dan meminta maaf."

"Saya setuju. Jangan lupa bawa buah tangan."

Lalu mereka semua diam. Meringis lirih karena rasa sakit yang masih tersisa di pinggang. Suara jangkrik membelah sunyinya hutan ditengah gelapnya malam. 

Setelah beberapa saat mereka sepakat untuk segera beranjak pulang. 

Namun, niat mereka terpaksa diurungkan karena melihat si pemuda juga mulai meninggalkan rumah Puan dengan Andang yang hampir padam. 

"Saya rasa lebih baik malam ini saja kita hampiri pemuda itu untuk meminta maaf." ucap Nobus.

Tanpa menunggu jawaban dan pendapat anggota lain Nobus langsung beranjak dari tempat duduknya, berjalan tergesa mendekati si pemuda. Diikuti oleh semua anggota yang lain.

Melihat rombongan itu berjalan tergesa-gesa mendekatinya Alif terpaksa menghentikan langkahnya.

"Assalamualaikum... Tuan-tuan belum pulang?" ucap Alif memberi salam dan bertanya.

"Eeeh... jangan panggil begitu, Tuan. Kami cuma orang kampung. Saya Nobus, ini Julak, Loman, Gobi, Turam, Cipo, Laku, dan Buntal. Kami ini pengawal Puan Putri." ucap Nobus memperkenalkan diri dan teman-temannya. 

"Ooo... pantasan. Berarti tadi itu mau melindungi Puan Putri ya?"

"Iya Tuan. Kami mohon maaf. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi."

"Ooo iya, ga apa-apa. 'Kan memang tugas kalian melindungi Puan Putri. Tak perlu minta maaf."

"Terima kasih Tuan. Kalau Tuan ada sesuatu yang bisa kami bantu, kami siap membantu Tuan." 

"Untuk saat ini, tidak ada. Tapi kalau mau, besok rencananya saya akan membuat pelantar tempat mandi di rumah Ipul." ucap Alif memberi kesempatan kepada mereka untuk menebus kesalahan yang tadi. Tapi lebih dari itu, sebenarnya Alif ingin bertemu dengan mereka lagi agar bisa tahu lebih banyak tentang hubungan mereka dengan Kinar. 

"Kapan tepatnya besok itu, Tuan?" tanya Nobus ingin meyakinkan.

"Setelah shalat Isyraq!" ucap Alif.

Post a Comment

0 Comments