Lalu Kinar menunduk dan memegang kalung rotan yang ada di leher harimau yang paling besar, dan berucap mengancam, "Nobus, nampaknya saya harus mengambil kembali kalung ini dan menghancurkan liontinnya, karena kamu berani menyerang saya dan orang yang menemani saya malam ini"
Tiba-tiba dengan sangat lambat si harimau mulai berubah wujud menjadi seorang manusia. Diikuti oleh semua hewan buas lainnya.
Alif sangat terkejut melihat kejadian itu. Ternyata Kinar tak berbohong mengatakan bahwa ada orang yang bisa berubah menjadi binatang buas, jadi-jadian. Malam ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Orang yang dipanggil Nobus itu menangkupkan kedua tanganya di hadapan Kinar dan menangis memohon dimaafkan.
"Ampuni kami Puan Putri. Sebenarnya kami ingin melindungi Puan dari orang asing itu. Tak ada maksud lain."
"Orang itu adalah teman baik saya. Malam ini dia mengantar saya pulang agar selamat sampai ke rumah. Apa kalian melihat dia mengancam saya?"
Semua makhluk jejadian itu menunduk diam tak menjawab. Isak tangis Nobus masih terdengar lirih memohon pengampunan.
"Jangan sekali-kali mengganggu dia lagi. Jika saya dengar sekali saja kalian mengganggunya, maka kalian akan saya cari sampai ke lubang semut. Dan kalung ini akan saya hancurkan sehancur-hancurnya. Kalian akan merasakan bagaimana rasanya hidup seperti mayat."
"Ampuni kami Puan. Kami berjanji tidak akan pernah mengganggu orang itu lagi. Bahkan kami berjanji akan membantunya jika dia butuh pertolongan." ucap Nobus memohon diantara isak tangisnya.
Kinar diam beberapa saat menatap mereka satu-persatu.
Tak ada yang berani menatap balik ke wajah itu. Semuanya menunduk takzim.
Semua percakapan itu disaksikan oleh Alif dengan penuh keheranan dan rasa penasaran. Apa maksudnya panggilan Putri dan Puan itu? Lalu, mengapa Kinar terlihat sangat berkuasa terhadap mereka? Seolah-oleh Kinar adalah seorang majikan yang berbicara kepada para pembantunya yang nakal.
Alif terus menatap Kinar dengan puluhan tanda tanya di benaknya.
"Sekarang, minta maaflah pada orang itu. Jabat tangannya. Setelah itu langsung pulang. Jangan main-main ke sini lagi kalau tidak saya minta." perintah Kinar kepada mereka semua.
Mereka semua mengangguk sambil tetap menunduk.
Lalu bergegas mereka meminta maaf kepada Alif satu-persatu dengan menjabat tangannya. Setelah selesai mereka pamit pulang kepada Kinar. Langsung menuju ke kampung utara.
Tinggallah sekarang hanya Alif dan Kinar, berdua saja, dengan andang yang hampir habis. Berdiri mematung di depan rumah.
Kinar tahu bahwa banyak pertanyaan yang ingin diajukan oleh Alif kepadanya. Karena dari tadi pemuda itu menatapnya dengan wajah serius dan tak berkata-kata. Tapi, dia tidak ingin membahasnya malam ini. Oleh karena itu cepat-cepat dia berbasa-basi untuk pamit segera masuk ke rumah.
"Waah, ternyata kita udah sampai. Kamu mau masuk dulu minum kopi?" ajak Kinar berbasa basi.
Alif tak menjawab. Tatap mata itu masih saja menunjukkan rasa penasaran.
Kinar tak tega membiarkan wajah itu pergi dengan tanda tanya yang tak terjawab. Disisi lain, dia juga tak ingin menjadi seorang teman yang penuh misteri, apalagi kepada si pemuda yang dia ingin selalu bersamanya.
Memang seharusnya dia tidak menyimpan hal-hal penting seperti percakapan yang baru saja terjadi menjadi rahasia pribadi saja. Paling tidak dia harus menceritakan secara singkat tentang hubungannya dengan kelompok Nobus, agar tidak ada sangkaan yang aneh-aneh. Tapi untuk malam ini dia belum ingin menceritakannya. Mungkin nanti, pada saat momen yang lebih pas.
"Ga usah natap gitu dong. Ga enak dicurigain. Nanti kapan-kapan aku jelasin kenapa mereka manggil Puan Putri."
"Bukan curiga, tapi penasaran." akhirnya Alif buka suara.
"Iya, iya.... tapi lain kali aja ya aku ceritain, boleh? Udah larut soalnya."
"Janji?"
"Janji!"
"Baiklah kalau gitu. Silakan masuk duluan. Aku tunggu di sini."
"Ga masuk dulu, minum kojak?" ajak Kinar menggoda.
"Ihh...!"
"Hi hi hi... becanda koq. Lagian di rumah ga ada kojak. Ga suka!"
Akhirnya Alif tersenyum juga digoda dara cantik itu. Hatinya senang mendengar si dara tak suka minum kojak, akar dari segala dosa besar.
"Kalau gitu aku masuk dulu ya, Assalamualaikum!"
Akhirnya Kinar mampu mengucapkan salam untuk pertama kalinya pada seseorang tanpa dibimbing. Salam yang sangat dia sukai sejak beberapa hari ini.
"Waalaikumsalam!" jawab Alif sambil tersenyum
Kinar masih saja berdiri mematung, menunggu jawaban lengkap!
"Langkapin dong jawabnya!"
"Ehh... kan tadi udah dijelasin ga boleh!"
"Untuk gadis yang paling cantik pun ga boleh?" ucap Kinar menggoda.
"Ga!"
"Pelit! Ya udah kalau gitu, aku masuk dulu ya. Assalamualaikum warohmatullah!" ucap Kinar memancing.
"Walaikumsalam!" jawab Alif tersenyum.
Kinar pun melangkah menuju ke rumah sambil tertawa lirih. Hatinya senang karena banyak hal yang dia pelajari malam ini. Dan semua pelajaran itu dia dapatkan dari orang yang telah merebut hatinya.
Alif tetap berdiri menunggu Kinar masuk ke rumah dan menutup pintu.

0 Comments