Sebetulnya bukan keselamatan dirinya yang dia takutkan, tapi dia lebih takut jika tak bisa menjaga keselematan gadis yang dilindunginya. Dia khawatir tak bisa memenuhi amanah.
Padahal gadis yang di belakangpun berpikiran sama. Dia tak takut jika semua binatang itu merobek-robek tubuhnya. Dia lebih ngeri jika kulit orang yang dipujanya tergores sedikit saja, dan dia tak bisa berbuat apa-apa.
Beberapa detik kemudian, ketiga ekor harimau berjalan mendekat dengan lambat. Mereka membuat posisi menyerang dengan mengepung. Beruang dan babipun ikut mendekat. Sekarang jarak mereka hanya tinggal sekali lompatan saja.
Alif mendesak Kinar perlahan-lahan agar berjalan mundur ke sebuah pohon besar di belakangnya. Andang dipindahkan ke tangan kiri, sedangkan tombak pindah ke tangan kanan. Kini dia siap menerima serangan.
Lalu Alif berbisik kepada Kinar, "Seandainya bisa, naiklah ke atas cabang pohon itu! Biar aku yang hadapi mereka. Insya Allah, tak akan terjadi apa-apa!"
Kinar menjadi lega hatinya mendengar ucapan Alif yang sangat yakin bisa menghadapi mereka semua. Dengan sedikit ilmu peringan tubuh, Kinar naik ke atas cabang pohon yang paling rendah. Namun, tetap saja hatinya risau jika Alif terluka di bawah sana.
Kini Alif bisa lebih fokus menghadapi semua hewan buas itu. Dia hanya perlu melindungi dirinya sendiri. Bahkan jika mungkin, diapun akan melakukan serangan balik.
Dengan sekali auman dahsyat dari harimau yang paling besar maka semua hewan buas itu menyerang. Menerkam, menyeruduk, dan menerjang.
Namun, Alif bukanlah ksatria kemaren sore yang bisa dikalahkan oleh sekelompok hewan buas dalam sekali terkaman. Sambil jungkir balik di udara, dia menghindar. Keluar dari serangan itu. Bahkan seandainya dia mau, dia bisa menusuk salah satu harimau itu dengan tombaknya, tepat di lehernya. Tapi tidak dia lakukan. Dia hanya memukul agak keras bagian pinggang si harimau yang paling besar dengan ujung tombaknya.
Si harimau mengaum tercekat menerima pukulan itu. Dia merasa pinggangnya seperti menerima hantaman keras yang sangat menyakitkan.
Lalu semua hewan itu kembali memasang kuda-kuda untuk melakukan serangan kedua. Tanpa aba-aba semuanya kembali melakukan serangan dahsyat. Suara-suara binatang buas itu terdengar sangat bising, hingga sampai ke tempat yang jauh.
Tapi, sekali lagi Alif bisa menghidarinya dengan mudah dan sempat memukul pinggang harimau yang lain. Si harimau malang itupun gantian mengaum kesakitan. Lalu, kembali bersiap melakukan serangan selanjutnya.
Serangan ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Tapi tak satu cakarpun bisa menggores kulit si pemuda. Kini si pemuda bahkan mulai menguasai keadaan. Ujung tombaknya bisa dengan mudah menokok kepala masing-masing hewan buas itu, yang manapun yang dia suka.
Kinar mulai tenang hatinya melihat Alif mulai menguasi keadaan tanpa satu goresan kecilpun dikulitnya. Kini dia bisa duduk di atas cabang dengan santai sambil mengayun-ayunkan kaki menonton pertunjukkan di bawah.
Meskipun serangan masih intens berlangsung tapi sudah tidak sedahsyat sebelumnya. Alif bahkan tidak perlu menghindar. Cukup dengan memukul ulu tombaknya ke sana ke mari, semua hewan itu menjerit kesakitan dan terduduk di tanah.
Satu persatu mereka mulai kelelahan dan sadar diri. Alif bukanlah orang yang bisa dikalahkan. Lalu mereka duduk takzim menghadap si pemuda, dengan auman pelan seolah meminta pengampunan.
Alif berdiri dengan gagah di hadapan semua hewan buas itu. Seolah-olah dia adalah seorang panglima yang akan segera memberikan perintah perang. Dicacakkan andang dan tombaknya ke tanah. Lalu dengan gerakan cepat dan tak terduga dia malah duduk mencangkung di depan semua hewan buas itu. Di tatapnya satu-persatu makhluk Allah itu.
Semua hewan buas itu menunduk tak berani menatap balik. Dua ekor beruang yang duduk paling belakang malah menempelkan perutnya ke tanah agar tubuhnya yang besar tidak lebih tinggi dari Alif.
Alif menatap mereka sambil mengangguk-angguk. Tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Tiba-tiba Kinar melompat turun dari dahan. Lalu dengan gerakan secepat kilat dia telah berdiri tepat di sebelah harimau yang paling besar.
Alif terkejut melihat itu. Dia langsung melompat berdiri ingin menyelamatkan Kinar. Tapi Kinar menahannya dengan memberikan isyarat tangan.

0 Comments