Kalung Rotan, Berliontin Batu Gunung Beladung - 2

Kinar diam saja tidak menjawab, mencoba mencerna penjelasan dari Alif. Di dalam hatinya dia berkata, sungguh dalam sekali makna yang disampaikan hanya dari sebuah kalimat salam. Hebatnya lagi, semua kebaikan itu didoakan untuk orang lain. Mulia sekali orang yang mengucapkannya, dan beruntung sekali orang yang didoakan. Hatinya mulai tersentuh.

"Terus jawaban salamnya gimana tadi?" tanya Kinar lagi makin penasaran

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh!"

"Hampir sama ya? Beda awalnya saja."

"Iya, kita doakan balik orang yang mengucapkannya dengan doa yang sama, atau lebih baik. Maknanya juga sama." ucap Alif mulai puas karena mendapat murid seorang gadis yang cerdas, yang mudah sekali diajarkan ilmu.

"Hmmm begitu...!

Kinar bergumam lirih, hampir tak terdengar. 

Tanpa terasa mereka sudah hampir sampai ke rumah Kinar. 

Kinar semakin memperlambat langkahnya. Dia tak ingin cepat-cepat sampai. Dia ingin menghabiskan waktu lebih lama untuk ngobrol. 

Alif tahu Kinar memperlambat langkahnya. Diapun terpaksa ikut juga. 

"Besok kamu mau kemana?" tanya Kinar.

"Ga kemana-mana. Paling cuma bantuin Ipul bikin pelantar, tempat mandi."

"Ooohh..." ucap Kinar bergumam. Hatinya kecewa.

"Emang kenapa?" Alif balik bertanya.

"Sebetulnya kalau kamu ga ada kegiatan, aku mau minta tolong menebang pisang dan minta ditemani cari labu."

Alif langsung menghentikan langkahnya. Dia teringat pesan sang pemimpin, itu adalah salah satu amanat yang harus dia jalankan sebagai ucapan terima kasih karena telah diberikan kapak jukas. Tapi untuk kali ini ingin sekali dia menolaknya. Dia khawatir jika terlalu sering bersama Kinar imannya tak bisa dipertahankan. Takkan butuh waktu lama, pasti dia akan segera tergelincir. Bidadari ini selalu membuat hatinya kacau balau. 

"Begini saja deh, kamu tunjukkan saja pohon pisang yang akan ditebang. Sedangkan labu, biar aku sendiri yang cari nanti." ucap Alif memberikan keputusan.

Kinar tak menjawab. Hatinya kecewa. 

Sebetulnya bukan bantuan itu yang dia harapkan, dia mampu mengerjakan itu semua sendiri. Selama inipun dia mengerjakan semua itu sendiri. Tapi dia ingin menghabiskan waktu bersama lebih sering. 

Ingin sekali dia mengingatkan pesan yang diucapkan oleh sang pemimpin tadi bahwa Alif harus menemaninya. Tapi dia tak ingin menggunakan alasan itu untuk keuntungan pribadi. Itu bukan cara yang elegan. 

Namun tak bisa dimungkiri, ada rasa kecewa di dalam hatinya. 

Alif sadar bahwa seharusnya dia segera melunasi hutangnya kepada sang pemimpin. Tapi menurutnya besok bukanlah satu-satunya waktu. Insya Allah dilain hari saja, begitu pikirnya. 

"Lain hari aku ajak kamu menombak ikan atau mencari cempedak!" ucap Alif menawarkan opsi lain.

Kinar hanya diam dan tersenyum. Hatinya tetap saja kecewa. 

Karena terlalu asik mengobrol mereka berdua tidak waspada dengan kondisi sekeliling. Lima belas langkah di depan sana berdiri 3 ekor harimau yang sangat besar dan beringas. Mendengus-dengus dan menampakkan taringnya yang besar dan tajam.

Hrrgghhzz...

Aif dan Kinar terkejut bukan kepalang. Alif langsung mengangkat obornya lebih tinggi dan mengulurkannya ke depan. 

"Astaghfirullahaladziim.. La haula wala quwwata illa billahil aliyil adziiim..! jerit Alif reflek.

Hampir tak bisa dipercaya tiga ekor harimau besar berdiri beringas menatap mereka berdua. Matanya menyala memantulkan cahaya obor. Kakinya siap memasang kuda-kuda untuk menerkam. Mulutnya mengernyit-kernyit menampakkan taringnya. Sementara hidungnya terus mendengus-dengus mengerikan. 

Tidak cuma itu, tak berapa jauh di sana 2 ekor beruang besar sudah siap dengan kuda-kuda. Di sampingnya 3 ekor babi yang juga besar siap untuk menyeruduk. 

Tentu saja kehadiran semua hewan buas itu membuat kengerian yang amat sangat. Tak henti-hentinya Alif mengulang-ulang kalimat istighfar dan zikir tadi, sembari secepat kilat melangkah ke depan Kinar ingin melindunginya.

(Bersambung)


Sebelumnya      Selanjutnya 

Post a Comment

0 Comments