Kalung Rotan, Berliontin Batu Gunung Beladung - 1

Malam gelap gulita. Bulan tak hadir malam ini, bahkan bintangpun tak ada yang menampakkan diri. Hanya temaram sinar pelita yang kelihatan dari dinding rumah warga yang berlubang. Kepak sayap kelelawar dan suara beberapa hewan nokturnal lain terdengar cukup menakutkan. Ditambah dengan lagu sedih dari burung pungguk yang meratap memanggil bulan. 

Begitu keluar dari rumah sang pemimpin, Alif berusaha mencari pelepah kelapa kering yang sudah jatuh untuk dijadikan andang. Diikatnya daun-daun itu menjadi gumpalan sebesar paha. Lalu pada bagian ujungnya di bakar. 

Pada awalnya hanya sepercik api kecil yang membakar sehelai daun. Namun, tak lama kemudia api semakin membesar karena daun lain ikut terbakar. Maka jadilah Andang itu alat penerang yang paling efektif untuk menerangi jalan yang akan mereka lalui. 

"Ayo..." ucap Alif mengajak Kinar.

Kinar langsung mendekat dan berjalan di samping kiri Alif.

Sebenarnya Alif ingin sekali menyuruh Kinar berjalan di belakangnya. Karena itulah posisi yang benar saat berjalan berdua. Persis seperti saat Nabi Musa berjalan dengan gadis yang ditolongnya, ketika mereka menuju ke rumah si gadis, karena ayah si gadis mengundang Nabi Musa untuk makan malam bersama di rumahnya. Padahal, Nabi Musa tidak tahu arah jalan ke rumah si gadis. Tapi Nabi Musa tetap mengambil posisi berjalan di depan. 

Pada saat itu Nabi Musa ingin menjaga imannya. Karena jika si gadis berada diposisi depan maka orang yang di belakang mungkin secara tak sengaja akan melihat aurat atau lekuk tubuhnya ketika angin meniup pakaiannya. Apalagi jika si gadis memakai wewangian, maka akan banyak sekali godaan yang akan ditanggung oleh orang di belakang. 

Namun, dikarenakan malam ini Alif ingin mengajarkan beberapa hal, maka dia membiarkan saja Kinar berjalan di sampingnya. Dia terus berdoa agar Allah berkenan mengokohkan imannya. Dia juga harus berusaha memfokuskan pikirannya hanya pada apa yang akan diajarkannya saja.

Mereka berjalan dengan langkah yang dibuat kecil-kecil dan lambat. Karena jarak antara rumah sang pemimpin dengan rumah Kinar tidak jauh. Sedangkan pelajaran yang akan disampaikan cukup banyak. Jadilah mereka berjalan seperti sepasang pengantin yang akan menuju pelaminan. 

"Kenapa sih jawaban salam untuk kamu lebih lengkap sendangkan untuk aku pendek?" tanya Kinar membuka percakapan.

"Begini, dengarin baik-baik ya. Assalamualaikum itu artinya semoga keselamatan untukmu, sedangkan kata warrahmatullahi wabarokaatuh itu artinya dan rahmat Allah dan keberkahan dari Allah dilimpahkan juga padamu." jelas Alif memulai pelajaran.

"Seorang muslim hanya boleh mengucapkan dua kata terakhir itu kepada muslim juga. Makanya, tadi sang pemimpin hanya menjawab salam kamu pendek saja, waalaikumsalam!"

"Koq gitu?"

"Karena di sana ada kata rahmat Allah dan keberkahan dari Allah."

"Jadi orang yang bukan muslim tidak berhak dapat rahmat dan keberkahan?"

"Bukan gitu, kamu mau dapat rahmat dan keberkahan dari Allah?"

"Emang rahmat dan keberkahan dari Allah itu gimana?"

"Haah... Aduh.. gimana ya jelasinnya ya?" Alif kebingungan dan terkejut mendengar pertanyaan itu. 

Dia tak menyangka akan mendapat pertanyaan sesulit itu diawal pelajaran. Tapi Kinar memang gadis cerdas yang penuh dengan rasa penasaran. Mungkin saja akan banyak pertanyaan yang lebih sulit yang akan diterima nanti.

Lama Alif berfikir untuk memberikan jawaban yang mudah dicerna. Keningnya berkerut, kedua alis matanya hampir bertaut. 

Diam-diam Kinar mencuri pandang ke wajah si pemuda yang dipujanya itu. Dia langsung terpukau melihat wajah itu sedang berpikir serius. Ternyata dia jauh lebih menarik kalau sedang berpikir serius, kata hatinya di dalam sana. 

"Untuk mudahnya begini saja, rahmat Allah itu kasih sayang Allah. Sedangkan keberkahan dari Allah itu seperti ini, kamu mau ga punya kebun seluas 50 depa persegi, tapi hasilnya sama banyaknya dengan orang yang kebunnya lebih luas 3 kali lipat dari kebun milik kamu. Mau ga?"

"Hi hi hi.. ya mau lah!"

"Atau gini, mau ga kamu tetap terlihat cantik padahal baju yang kamu pakai sudah tua dan usang? Udah gitu, bajunya dingin, nyaman, dan bisa melindungi kamu dari masuk angin, persis seperti baju baru?" 

"Mau lah!"

"Nah, begitulah kira-kira makna rahmat dan berkah Allah itu. Kamu disayang oleh Allah, dan oleh karenanya semua kebutuhan kamu dicukupi. Hingga kamu jadi tenang." 

(Bersambung)


Sebelumnya      Selanjutnya 

Post a Comment

0 Comments