Kapak Jukas, Juher Jauhari - 6

 "Nampaknya kamu memang cocok menjadi pemiliki baru kapak ini. Karena jika tidak, maka pastilah tak akan bisa tersimpan ke dalam lenganmu." jelas sang pemimpin sambil tersenyum puas. 

Lalu sang pemimpin kembali meminta Alif menahan nafas dan mengalirkan sedikit tenaga ke lengan kirinya. Secepat kilat disentaknya lengan itu hingga kembali lurus ke depan dengan posisi siku menghadap ke bawah. 

Keajaiban kembali terjadi, kapak itu kembali hadir terbentang di atas pergelangan tangan Alif. 

Sekali lagi Alif dan Kinar terbelalak melihat keajaiban itu. 

"Sekarang kapak itu resmi menjadi milikimu. Peliharalah baik-baik dan gunakan untuk kebaikan." ucap sang pemimpin sambil melepaskan tangan kiri Alif. 

Alif masih saja terpana dan terpaku melihat semua kejadian ajaib yang baru saja dialaminya. Dia tak tahu harus berbuat apa. 

"Sekarang cobalah kamu simpan sendiri kapak itu, lalu hadirkan kembali," perintah sang pemimpin.

Alif ragu-ragu untuk melakukannya. Khawatir kapak itu tak bisa masuk ke lengannya. Namun dengan ucapan bismillah, dicobanya persis seperti yang baru saja diajarkan oleh sang pemimpin. 

Benar saja kapak itu kembali hilang, masuk ke dalam lengannya. Setelah itu dicobanya untuk mengeluarkannya kembali, persis seperti cara yang diajarkan oleh sang pemimpin. Alhamdulillah, kapak itu muncul kembali. 

Dicobanya beberapa kali lagi menyimpan dan menghadirkan kembali kapak itu. Alhamdulillah semuannya berhasil. 

Lalu dia menunduk dengan takzim ke hadapan sang pemimpin mengucapkan termia kasih.

"Terima kasih, Mbah. Saya tak tahu bagaiman membalas kebaikan Mbah. Isnya Allah, saya akan merawat dan mempergunakannya dengan sebaik-baiknya."

"Ajaklah Kinar menangkap ikan dan mencari labu!" ucap sang pemimpin sambil tersenyum penuh maksud.

"Insya Allah, akan saya lakukan."

"Kalau begitu antarlah Kinar pulang sekarang. Malam sudah larut, dia harus instirahat!"

Alif memandang Kinar. 

Gadis itu malah memandang sang pemimpin dengan penuh tanda tanya. Meskipun hatinya berbunga-bunga, tapi nurani perempuannya menuntut agar dia sedikit jaim di depan pemuda pujaan hatinya.

"Ga baik perempuan cantik jalan sendiri malam-malam. Biar aja diantar Alif!" ucap sang pemimpin meyakinkan.

Setelah beberapa saat akhirnya dia menunduk setuju.

"Kalau begitu saya mau pamit mengantar Kinar, Mbah. Sekali lagi ribuan terima kasih atas hadiahnya yang tak ternilai. Assalamualaikum!"

"Waalaikumsalam warohmatullah!"

Alif memberikan isyarat mata kepada Kinar untuk duduk takzim menghadap sang pemimpin dengan kedua lututnya menekan ke lantai. Lalu sambil berbisik dia mengajari Kinar, "Assalamualaikum!"

Kinar menatapnya, dengan maksud meminta Alif untuk mengulanginya! 

Alif mengulangnya lagi, "Assalamualaikum!"

Kinar adalah gadis cerdas. Cukup diajarkan dua kali saja dia sudah bisa mengucapkannya dengan benar dan fasih, meskipun dia belum tahu apa maksudnya salam itu. 

"Assalamualaikum!" ucap Kinar kepada sang pemimpin dengan lembut.

"Walaikumsalam!" balas sang pemimpin. 

Kinar tetap takzim menunggu jawaban lengkap dari sang pemimpin. Tapi setelah beberapa saat tak jua kunjung diucapkan. Dia heran, nampaknya ada perbedaan antara jawaban salam untuknya dengan jawaban salam untuk Alif. Lalu dia menatap Alif untuk meminta penjelasan.

Alif paham maksud Kinar. Dia tahu bahwa Kinar merasa heran mengapa jawaban salam untuknya pendek saja, tak selengkap jawaban yang pertama.

"Udah, nanti di jalan aku jelaskan!" bisik Alif. 

Kinarpun mengangguk setuju.

"Saya antar Kinar ya Mbah, assalamualaikum warohmatullah!' ucap Alif pamit dan mengulangi salamnya dengan lebih panjang.

"Walaikumsalam warrohmatullah wabarakaatuh!"

Lalu mereka berduapun beranjak pulang meninggal sang pemimpin yang tersenyum senang dan Ipul yang sudah tertidur pulas sambil bersandar di dinding.

(Bersambung)


Sebelumnya      Selanjutnya 

Post a Comment

0 Comments