Mereka makan dengan sangat lahap. Saling berebut dan berpacu. Semua buah yang dihidangkan habis tak bersisa. Sedangkan Kinar hanya mendapatkan 2 potong labu. Itupun karena diulurkan oleh sang pemimpin, sebab dia malu untuk mengulurkan tangan berebut dengan yang lain.
Setelah acara makan-makan selesai, mereka bercakap-cakap sebentar tentang hal-hal ringan, sembari menunggu makanan yang telah ditelan turun ke perut.
Setelah beberapa saat, mulailah satu persatu pamit untuk berisitirahat ke rumah masing-masing. Tinggallah di situ hanya empat orang saja yang masih duduk. Sang pemimpin, Alif, Ipul, dan Kinar.
Beberapa saat suasana hening saja. Tak ada yang memulai pembicaraan.
Lalu sang pemimpin mengambil kapak kecil yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk. Kapak yang pernah menancap di kepalanya beberapa tahun. Ditatapnya benda itu sambil dibolak-balikkan.
"Kapak ini terbuat dari baja Sungai Biyam, sangat keras dan tajam. Ulunya terbuat dari kayu kulim tua. Seluruh matanya dipenuhi dengan racun jukas. Bila kulit tergores sedikit saja oleh matanya maka racunnya akan segera menyebar ke seluruh tubuh. Selanjutnya akan membuat kulit menjadi hangus dan mengelupas. Seperti kulit saya ini."
Ucap sang pemimpin yang ditujukan entah kepada siapa.
"Jika digoreskan sedikit saja pada kulit hewan atau pohon, maka tak butuh waktu 1 hari maka mereka akan segera mati." lanjutnya lagi, tetap sambil memegang dan menatap benda itu.
"Kapak ini pemberian kakek saya 45 tahun yang lalu. Pada saat itu, saya sangat bangga menerima anugerah ini. Karena kapak ini menjadi penanda bahwa saya adalah cucu Kakek Yahya, guru silat Kampung Merabu."
Beberapa saat sang pemimpin diam, membuat suasana hening.
Alif dan Kinar mendengar dengan seksama semua yang dijelaskan oleh sang pemimpin. Sedangkan Ipul duduk bersandar di dinding rumah sambil mengantuk. Dia tak begitu mendengar apa yang diucapkan oleh sang pemimpin.
"Malam ini, saya ingin memberikan kapak ini kepadamu Alif. Jaga dan peliharalah baik-baik." ucap sang pemimpin tanpa diduga.
Alif terkejut bukan kepalang. Dia tak menduga sang pemimpin akan memberikan hadiah yang sangat berharga kepadanya malam ini. Dia tak tahu harus mengucapkan apa. Di dalam hatinya muncul banyak perasaan yang bercampur-campur. Ada rasa senang, terima kasih, tapi juga khawatir. Karena itu adalah benda kebanggan sang pemipin sejak lama.
"Gunakanlah untuk membela diri atau membantu orang lain yang butuh pertolongan. Saya bersumpah, demi Allah, saya tidak mengizinkanmu menggunakannya untuk berbuat jahat sekecil apapun. Jika itu terjadi, saya berdoa kepada Allah semoga kapak ini hilang keberkahannya." ucap sang pemimpin sangat tegas.
"Ini, terimalah! Jangan ditolak. Saya yakin bahwa saya telah menyerhkannya pada orang yang tepat. Jagalah baik-baik, dan gunakanlah untuk tujuan-tujuan kebaikan."
Sang pemipin lalu mengulurkan kapak itu kepada Alif. Namun Alif agak ragu-ragu menerimanya. Berat nian sumpah yang diucapkan sang pemimpin. Alif khawatir suatu saat nanti dia terlupa dan tak sengaja menggunakannya untuk sesuatu yang tak seharusnya.
"Ambillah cepat! Saya capek memegangnya lama-lama. " ulangnya lagi.
Alif masih diliputi dengan keraguan. Namun akhirnya diulurkan juga tangannya untuk menerima kapak itu. Digenggamnya ulu kapak itu dengan kedua belah tangannya. Ada hawa hangat yang menjalar melewati tangannya menuju ke seluruh tubuh. Seketika itu juga dia tahu bahwa benda itu bukan benda sembarangan. Dia yakin bahwa kapak ini tidak hanya dilumuri oleh racun jukas, tetapi juga diselimuti oleh kekuatan hebat.
Lama dia menggenggam ulu kapak itu, hingga semua tubuhnya terasa hangat, lapang, ringan, dan bertenaga.
Lalu dia menatap ke arah Kinar yang juga sedang menatap wajahnya sambil tersenyum. Di dalam hatinya Alif ingin meminta pendapat kepada Kinar apakah seharusnya dia menerima benda itu atau menolaknya. Namun, senyum yang diberikan Kinar dengan sangat manis itu sudah menjadi pertanda bahwa dia setuju. Tak ada lagi pilihan lain, dia harus menerimanya.
"Sini saya ajarkan bagaimana menyimpannya agar kamu tidak susah membawanya kemana-mana." ucap sang pemimpin.
Lalu dengan cepat tangan kirinya menyambar kapak tersebut, sedangkan tangan kanannya menarik tangan kiri Alif. Menyentaknya lurus ke depan dengan posisi siku menghadap ke bawah. Lalu dibentangkan kapak tersebut menempel ke kulit Alif, mulai dari tengah lengan hingga ke ujung jari. Dia meminta Alif untuk menahan nafas di perut dengan sedikit tenaga dalam yang dialirkan ke lengan kiri.
Lalu dengan gerakan sangat cepat ditekuknya lengan itu hingga ujung-ujung jarinya hampir menempel di bahu.
Sungguh sangat ajaib dan mengejutkan, kapak itu tiba-tiba lenyap tak berbekas. Alif dan Kinar sampai terbelalak matanya menatap semua keajaiban itu.

0 Comments