"Apakah Saudara-saudara tidak merasa lapar? Harusnya ini adalah waktu makan malam. Kebetulan tadi sore saya dan Rabat pergi ke hutan mencari cempedak, labu, dan ubi. Lumayan dapat banyak. Ada baiknya kita makan bersama sekarang." lanjutnya lagi sambil berdiri dan berjalan ke dapur bermaksud mengambil aneka makanan yang disebutkannya tadi.
Dua orang perempuan setengah baya yang ada di situ juga ikut berdiri mengikuti Ipul ke dapur, bermaksud ingin membantu. Mereka adalah perempuan yang biasanya mengobati sang pemimpin, selain Kinar. Sedangkan Kinar tetap duduk di tempatnya sambil menunduk. Hatinya masih saja gundah. Air matanya belum juga kering.
"Alif, nanti saat pulang antarkan Kinar sampai ke rumahnya ya!" ucap sang pemimpin.
Kinar langsung terkejut mendengar ucapan sang pemimpin. Buru-buru dia menghapus air matanya.
"Insya Allah!"
"Alhamdulillah... Kalau berkenan, ajarkan juga dia mengucapkan salam dan menjawab salam."
"Haah....?!!"
Alif terkejut mendengar ucapan sang pemimpin. Apa maksudnya permintaan itu.
"Kinar ini gadis baik. Dia sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. Walaupun selama ini saya berlaku sangat kasar padanya, tapi sebetulnya saya ingin dia menjadi gadis yang mandiri dan kuat!"
Kinar mendengar semua ucapan itu dengan seksama. Tapi dia tak sanggup mengangkat wajahnya untuk menatap sang pemimpin. Masih ada rasa segan dan takut yang menyelimuti dadanya.
"Sesekali waktu ajaklah dia menangkap ikan atau temanilah dia mencari labu. Ceritakan tentang dunia luar kepadanya." permintaan pemimpin selanjutnya.
Alif menatap sang pemimpin lekat-lekat, mencoba membaca maksud dari semua permintaan itu. Sementara Kinar terus menunduk. Namun, hatinya mulai berbunga-bunga. Jari-jemarinya saling sentuh-menyentuh dan pagut memagut. Aroma tubuhnya mulai tercium cukup santer memenuhi ruangan. Sang pemimpin tersenyum menciumnya dan ingn menggodanya.
"Kinar, nanti pulang sama Alif ya!"
"Hah... heh... hmm...?"
Kinar gelagapan sambil memberanikan diri mengangkat wajahnya.
"Nanti pulangnya biar diantar sama Alif!" ulang sang pemimpin lagi.
"Bisa pulang sendiri koq." jawab Kinar sangat lirih, nyaris tak terdengar. Wajahnya kembali menunduk malu.
"Ga baik anak gadis berjalan sendiri malam-malam. Sekalian nanti saat jalan pulang belajar mengucapkan salam dan menjawab salam. Assalamualaikum warohmatullah! Waalaikumussalam warohmatullahi wabarakatuh. Bisa ga kamu?"
Kinar tak menjawab. Hanya kepalanya saja yang menggeleng sangat pelan.
Empat orang warga yang masih duduk di situ ikut menyimak semua percakapan yang terjadi. Mereka tak begitu paham apa sebenarnya maksud sang pemimpin. Mereka juga tidak tahu kemana sebenarnya arah pembicaraan ketiga orang itu. Namun, satu hal yang mereka tahu bahwa Kinar sedang berbahagia, karena ruangan itu sudah mulai dipenuhi aroma tubuhnya. Mereka ikut senang menciumnya.
Tak lama berselang ketiga orang yang tadi masuk ke dapur sekarang sudah datang kembali membawa nampan yang penuh dengan buah-buahan yang sudah dibelah. Ada juga tempayan yang penuh berisi air minum, dan cangkir-cangkir dari ruas bambu yang dipotong. Semua dihidangkan ke tengah, agar semua bisa menjangkaunya.
Tak lama berselang mereka makan bersama. Namun hanya Alif dan sang pemimpin yang mengucapkan kalimat bismillah sebelum makan.
Diam-diam Kinar melirik ke kedua orang itu. Meskipun samar, tapi dia bisa mendengar bahwa mereka mengucapkan sesuatu. Kinar penasaran ingin tahu kalimat apa itu.

0 Comments