Kapak Jukas, Juher Jauhari - 3

 

"Pada umur 22 saya menikah dengan gadis yang paling cantik di kampung kami. Dan setelah itu saya memiliki 4 orang anak; 3 lelaki dan 1 perempuan. Kami tetap tinggal di rumah orangtua saya atas permintaan mereka. Karena saya tidak memiliki saudara kandung. Kami sangat bahagia meskipun hidup seadanya."

Sang pemimpin berhenti lagi, mengingat kejadian yang dialaminya tiga dasawarsa yang lalu.

"Saat umur saya 31, pada tengah malam Jumat, keluarga besar saya dibantai oleh kelompok orang yang tidak saya kenal. Saya tidak tahu mengapa mereka membantai kami. Saya melawan, begitu juga dengan ayah saya yang sudah tua. Tapi jumlah mereka terlalu ramai. Meskipun saya sempat membunuh beberapa orang dari mereka, tapi pada akhirnya saya tak mampu melindungi satupun anggota keluarga saya. Ayah, ibu, istri, dan anak-anak saya, semuanya dibantai malam itu. Bahkan sayapun seharusnya sudah mati malam itu karena kepala saya dikapak oleh kapak milik saya sendiri ini. Kapak yang selalu saya lumuri racun jukas."

Sang pemimpin kembali berhenti. Suaranya mulai terdengar lirih dan parau, tapi tetap tegas. Ada air mata yang menggenang dikedua mata itu, menunggu untuk menetes. 

"Namun, entah bagaimana kejadian selanjutnya, saya tidak tahu. Ketika saya siuman ternyata saya berada di sebuah pondok milik seorang lelaki buta yang bernama Saleh Rumpak. Dia yang merawat saya sampai saya kembali siuman. Saya tidak tahu kejadiannya bagaimana saya sampai ke rumahnya. Padahal rumah saya sangat jauh dari desa itu. Sedangkan dia adalah seorang buta." 

Sekarang giliran Alif yang kaget bukan kepalang mendengar sang pemimpin menyebut nama Kakek Saleh Rumpak. Orang yang telah mengajarkan kemampuan dahsyat kepadanya, menolak bala rumpak. Ingin sekali dia berseru menghentikan cerita sang pemimpin, dan memintanya bercerita tentang kisah selama dia tinggal di rumah kakek itu. Tapi tentu saja itu akan merusak suasana hening ini.

"Setelah beberapa bulan dirawat, saya merasa saya sudah cukup kuat untuk berjalan jauh, lalu saya pergi tanpa pamit dari rumah sahabat saya yang buta itu. Saya tak mau menjadi aib di kampung itu. Karena di kepala saya ada kapak yang menancap, bola mata saya tercabut keluar, dan kulit saya gosong seperti terpanggang."

"Tujuan saya adalah langsung ke hutan ini, karena tak ada masyarakat yang berani masuk ke sini, sebab banyak binatang buas dan legenda misteri yang ditambah-tambah. Meskipun saya sendiripun merasa ngeri pada awalnya. Tapi rasa takut bertemu dengan orang lain memaksa saya untuk nekad tinggal di sini, apapun yang terjadi."

"Sejak saat itulah saya tidak lagi mejadi seorang muslim yang taat. Tapi demi Allah, saya bersumpah, sampai saat ini saya belum pernah menyembah hantu, makan babi, minum kojak, memperkosa, dan membunuh orang di hutan ini."

Sebuah sumpah yang sangat dahsyat bagi seorang muslim. Hanya Alif saja yang tahu seberapa beratnya sumpah itu. Warga lain hanya terkejut bukan main mendengar pengakuan sang pemimpin yang ternyata berbeda sekali dari penampilannya sebelum ini, yang sangar dan angker, serta bisa bertindak semaunya kepada siapapun. 

"Setelah itu, kalian datang ke sini satu persatu karena tersesat, dan ada juga karena memiliki nasib yang sama seperti yang saya alami." ucap sang pemimpin menutup kisah panjang hidupnya. 

Semua warga tertunduk mendengarkan kalimat penutup itu. Mereka sedih mengingat kembali bagaimana kisah mereka masing-masing hingga sampai dan tinggal di hutan ini, bersama sang pemimpin.

Suasana hening menyelimuti pertemuan itu. Semua wajah tertunduk, kecuali wajah sang pemimpin dan Alif. Mereka berdua menatap wajah-wajah yang tertunduk itu. Diantara mereka sudah mulai ada bahunya yang bergoncang karena menahan isak tangis. Termasuk Kinar. Pipinya sudah mulai dilelehi air mata yang turun pelan-pelan

Suasana hening itu berlangsung beberapa saat. Hingga Ipul membuyarkannya.

"Saudara-saudara, seharusnya malam ini kita bergembira karena kepala kampung kita sudah siuman kembali. Bukannya bersedih. Jangan lagi diingat-ingat nasib yang membawa kita sampai ke sini. Yang sudah berlalu, ya sudahlah."

(Bersambung)


Sebelumnya      Selanjutnya 

Post a Comment

0 Comments