Malam ini pun sama, dia melakukan kegiatan itu dengan khusuk dan tawadduq. Sendirian dia dipondok itu. Ipul si pemilik pondok lebih sering berada di rumah Korak, menjaganya dan memberikan pertolongan apapun yang dibutuhkan.
Ketika sedang khusuk-khusuknya dia membaca surat Yassin, Ipul pulang tiba-tiba. Membuka pintu dan masuk tanpa memberikan salam.
Alif maklum dan menghentikan tahsinnya, lalu menoleh ke orang tersebut. Terlihat wajahnya tegang dan nafasnya terengah-engah. Namun begitu, ada senyum di sana. Tanpa disapa dan ditanya dia langsung berucap, "Dia udah siuman."
Sontak Alif bangun dari duduknya, seraya membaca, shadaqallahuladziim, alhamdulillaaaah.
Disambarnya tombak kecil yang tersandar di sudut rumah, lalu langsung bergegas ke luar rumah. Setengah berlari dia menuju ke rumah sang pemimpin. Diikuti oleh Ipul di belakangnnya.
Sepanjang perjalanan tak henti mulutnya komat-kamit mengucapkan kalimat tahmid, "Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah...". Ada rasa syukur yang teramat sangat kepada Allah yang telah membangunkan hambanya dari koma yang sangat panjang.
Sesampainya di sana dia langsung masuk dan bergabung dengan warga yang lain yang sudah duluan tiba. Diantara mereka Alif melihat Kinar yang sedang duduk bersimpuh di sebelah kiri sang pemimpin. Alif masuk sambil memberikan salam, lalu menyandarkan tombak kecilnya di belakang pintu.
Tanpa di duga, dari keruman itu ada suara yang menjawab salamnya untuk pertama kali, "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh!".
Dengan penuh keterkejutan Alif langsung membalik badan secepat kilat melihat siapa yang mengucapkan kalimat itu. Dia mandapati orang itu adalah Korak Jambul, sang pemimpin yang saat ini sedang duduk memandangnya sambil tersenyum.
"Alif Ba Ta, sini, duduklah" ucapnya mempersilakan Alif duduk di sebelah kirinya, tepat di sebelah Kinar.
Alif mematung memandang sang pemimpin. Puluhan pertanyaan bersarang dibenaknya memaksa untuk segera diajukan.
Alif ragu-ragu melangkah untuk melewati beberapa warga yang telah duduk di sana. Alif malah memilih berjalan ke sebelah kanan sang pemimpin. Karena di sana masih kosong. Dan yang pasti dia tidak harus duduk berdempetan dengan Kinar.
"Saya di sini aja Mbah." ucap Alif sambil duduk bersila.
Semua mata tertuju menatap Alif. Namun, Alif tidak memperhatikan itu. Matanya terus menatap sang pemimpin, meminta penjelasan, bagaimana dia bisa menjawab salamnya dengan benar dan fasih.
Sang pemimpin pun tahu bahwa Alif memintanya untuk menjelaskan tentang jawaban salam itu. Namun, dia lebih suka membahas yang lain saat ini.
"Nanti saya ceritakan tentang itu pada saat kita berdua saja. Sekarang saya mau tanya, kenapa malam itu kamu sampai ke tepi hutan ini? Coba ceritakan!"
Sungguh mengherankan, bunyi gelegak di kerongkongan sang pemimpin sudah tidak terdengar lagi seperti biasanya. Dia juga mampu mengucapkan kata dengan baik. Bahkan, sekarang dia sudah bisa mengucapkan kalimat yang panjang, lebih dari lima kata.
"Hmm... nanti aja saya ceritakan tentang itu, Mbah," jawab Alif dengan wajah serius.
Semua orang tersenyum mendengar jawaban spontan itu. Sang pemimpin malah sampai ketawa. Skor 1-1.
Setelah ketawanya mulai reda sang pemimpin lalu berucap, "Saudara-saudara, orang ini adalah ksatria muslim. Agamanya Islam, sama seperti saya. Tuhannya Allah, Nabinya Muhammad Salallahualaihi wasallam. Dia tidak makan babi dan tidak minum kojak. Oleh karena itu kalau dia bertamu ke rumah kalian dan tak makan daging, jangan tersinggung, karena memang dia dilarang memakannya, haram."
Kinar yang sejak tadi menyimak percakapan mereka berdua langsung kaget mendengar penjelasan dari sang pemimpin. Kini baru dia tahu bahwa ternyata Alif tidak bergurau ketika mengatakan bahwa syarat yang diajukannya sangat berat untuk menguasai ajian menuang laksa jiwa. Ternyata Alif memang dilarang makan babi oleh agamanya.
Ada rasa penasaran dan ketertarikan dihati Kinar, kenapa ada orang yang dilarang makan babi dan minum kojak? Padahal di kampung ini semua orang makan babi dan minum kojak tiap hari, kecuali dia sendiri dan sang pemimpin. Dia juga sangat tertarik ingin menjawab salam Alif yang sering diucapkannya tiap kali bertemu itu. Dia ingin menjawabnya seperti kalimat yang diucapkan sang pemimpin tadi. Entah apa kalimatnya itu, susah sekali mengingatnya. Apalagi artinya.
"Saudara-saudara warga Teraploban, sebenarnya dulu saya adalah seorang muslim yang taat. Sama seperti Alif Ba Ta ini. Saya adalah anak kepala desa. Kampung saya jauh dari sini. Nama saya adalah Juher Jauhari."
Sang pemimpin mulai bercerita.
Tentu saja semua orang jadi tertarik mendengarnya. Karena selama ini belum pernah sekalipun sang pemimpin menceritakan kisah hidupnya. Jangankan bercerita dengan akrab, mendekat saja para warga segan, dan bahkan takut. Tapi malam ini sang pemimpin sangat berbeda. Malam ini semua orang baru tahu bahwa ternyata nama sang pemimpin sebenarnya adalah Juher Jauhari, termasuk kelompok Gopang, yang menjadi pengawal setia sang pemimpin selama ini.
Tak lama berselang sang pemimpin melanjutkan....

0 Comments