Lima belas hari sudah Alif tinggal menetap di Teraploban, menunggu sang pemimpin itu siuman. Tapi sampai saat ini beliau belum juga sadar. Tanda-tanda kehidupan memang masih sangat kuat. Tapi kesadaran belum jua tiba.
Setiap dua hari sekali Kinar dengan rutin terus memberikan pengobatan dan penyembuhan kepadanya. Lubang rengkah bekas kapak menancap di kepala pemimpin itu sudah bertaup tanpa bekas. Betu-betul sempurna. Kedua bola matanya yang menjuntai itupun sedikit demi sedikit sudah mulai kembali ke tempat seharusnya. Meskipun belum sepenuhnya normal.
Memang bukan hanya Kinar yang mengobati dan menyembuhkan itu semua. Ada beberapa warga yang memiliki kemampuan mengurut dan akupuntur ikut membantu. Kulit-kulit yang sebelumnya hangus terbakarpun sekarang sudah mulai sembuh, meninggalkan bekas warna memutih. Hampir seluruh tubuh pemimpin itu, mulai dari leher hingga ke mata kaki sekarang dibalut dengan daun-daun yang ditumbuk halus dan dicampur dengan berbagai ramuan obat.
Meskipun hampir seluruh warga sangat takut dan segan kepada Korak, tapi bagaimanapun dia adalah pemimpin dusun ini. Beliau adalah orang pertama yang tinggal di dusun ini. Beliau juga orang yang selalu berdiri paling depan melindungi warga dari serangan apapun yang terjadi. Baik dari orang luar, binatang buas, ataupun bencana alam. Oleh karena itulah warga kampung bahu-membahu berusaha keras untuk menyelamatkannya nyawanya.
Berganti-ganti mereka mengunjungi rumahnya. Masing-masing mereka memiliki bagian yang manjadi tugasnya untuk dioabti. Ada yang mengobati kulit, mengeluarkan racun, mengobati mata, dan ada yang bertugas membuat ramuan. Tapi bagian paling sulit tentu saja adalah tugas Kinar. Setelah rengkah di kepala itu bertaup kembali, sekarang dia berusaha menjaga agar tubuh itu tetap memiliki kekuatan untuk kembali bangun.
Kinar tidak bisa melakukan penyembuhan dengan mengandalkan kemampuannya menuang laksa jiwa secara maksimal. Karena apabila tubuh itu terjaga sebelum waktunya, sementara bagian tubuh yang lain belum sepenuhnya sembuh, maka si pasien akan merasakan sakit yang bukan alang-kepalang. Hal ini agaknya sama seperti besi yang dibakar panas membara lalu disiramkan dengan air tiba-tiba. Rasa sakit yang ditimbulkan dari kesalahan itu mungkin lebih fatal dan lebih buruk dampaknya daripada saat kapak itu dicabut dari kepalanya. Oleh karena itulah Kinar hanya mengembalikan sedikit demi sedikit saja tenaga ke tubuh sang pemimpin. Hanya agar tubuhnya tidak terlalu lemah dan seluruh organ vital masih bisa bekerja sebagai mana mestinya.
Namun, tetap saja, sampai saat ini tubuh kurus itu belum juga terbangun. Entah membutuhkan waktu berapa lama lagi.
***
Sebenarnya Alif cukup senang tinggal di kampung ini. Ingin sekali dia tinggal berlama-lama di sini. Namun di sisi lain ada tugas besar yang masih menunggunya untuk diselesaikan. Saat ini, keluarganya entah berada di belahan bumi yang mana. Ayah, bunda, dan kakak satu-satunya, Dira, belum ada jejak yang mengarah kepada mereka. Apakah saat ini mereka masih hidup atau mungkin sudah...
Alif juga tidak tahu apakah mereka bertiga berada disatu tempat, atau malah terpencar-pencar. Masing-masing menjadi sebatang kara dan yatim di dunia yang sangat luas ini. Sama sepertinya saat ini.
Namun, dimanapun mereka berada, di ujung dunia, di dalam gua diantara celah batu yang sempit, atau bahkan di dasar laut, Alif bertekad akan menemukannya. Selagi nyawa masih belum dicabut dari raganya dia tak berniat sama sekali untuk berhenti menemukan mereka, hidup atau sudah meninggal. Walaupun kenyataannya mungkin nanti yang ditemukan hanya batu nisan. Setidaknya dia tahu keberadaan mereka.
Dua hal yang masih menahan Alif di kampung ini hanyalah karena hutangnya kepada Sang pemimpin belum lunas, beliau belum bangun. Dan yang kedua, Kinar, bidadari cantik yang dengan kehadirannya mampu menyembuhkan penat hati, luka bathin, dan melupakan sekejap kerisauan tentang keluarganya yang masih ghaib.
Sedangkan hal lain yang Alif kurang suka pada kampung ini adalah tak ada masjid yang berdiri. Jangankan masjid, surau kecilpun tak ada. Tak ada shalat lima waktu berjemaah, tak ada azan yang berkumandang, bahkan tak ada warga yang bertanya kepadanya apakah dia sedang puasa atau tidak di hari Senin atau Kamis. Semua aktivitas ritual keagamaan dilakukannya sendiri.
Alif tidak tahu agama apa yang mereka anut di sini. Alif masih segan untuk menanyakannya. Ingin sekali mengajak mereka untuk memeluk agama Islam, menyelamatkan mereka ke dalam sebuah keyakinan rahmatan lil alamin. Namun, Alif merasa tak memiliki cukup ilmu untuk mengajak mereka. Selain itu, dia merasa belum waktunya untuk mengajak mereka berbicara tentang Islam. Siapa saya ingin mengajak orang berpindah keyakinan? Begitu pikirnya. Saya hanyalah orang yang menumpang sebentar di kampung ini karena ada hutang yang harus dilunasi. Dan tak lama lagi akan pergi jauh yang mungkin tak akan kembali lagi ke sini.
Daripada tergesa-gesa menyerukan mereka untuk memeluk Islam, ada baiknya tunjukkan saja dulu akhlakul karimah, budi pekerti yang mulia kepada mereka, sedaya upaya. Tidak hanya kepada warganya tapi kepada semua makhluk di kampung itu. Hewan, pohon, air, tanah, dan bahkan kepada rerumputan. Baik ketika terlihat orang maupun saat sendiri.
Seperti biasanya, selepas melaksanakan shalat Maghrib, Alif mendawamkan diri melakukan wirid, membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. Setelah itu berdoa panjang. Lalu, dilanjutkan dengan membaca salah satu surat pilihan. Seperti surat yassin, ar-rahman, al-waqiah, al-mulk, juzz amma, atau surat al-kahfi pada malam Jumat, sampai menjelang shalat Isya'.

0 Comments